Sabtu, 18 Januari 2025

Integrasi Akal Sehat


 Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia tempat semua orang dapat berpikir menggunakan akal sehatnya? Ketika tidak ada orang, meskipun mengaku menggunakan logika, yang terjebak di dalam kesalahan berpikir, logical fallacies, atau berbagai macam bias? Betapa mudahnya sebuah ide disampaikan, didiskusikan, didebat, diperinci, dihantam sana-sini, bahkan dipreteli, tanpa menghilangkan sedikit pun esensi dan kemurniannya sehingga ide dan gagasan menjadi matang untuk dijalankan.

Setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri, dalam waktu yang bersamaan juga dapat menjadi orang yang diajak berbicara, karena saking nyambungnya pikiran di antara mereka. Setiap orang dapat menyampaikan argumentasinya dengan amat sangat logis dan dapat dibenarkan. Mulai dari apa yang melatarbelakangi ide itu dibuat, sampai bagaimana hasil (outcome) --tidak hanya keluaran (output) dari program tersebut. Semua usulan (entah itu improvement, enhancement, tambahan, standardisasi, atau bahkan sampai tetek bengek) didasari oleh kebutuhan-kebutuhan nyata, tidak berangkat dari berbagai asumsi (yang bisa jadi malah liar). Tidak berasal dari bias informasi. Tidak bersumber dari ego sekadar ingin melakukan "perbaikan".

Pemahaman konteks yang lemah, penguasaan istilah (terminologi) yang tidak maksimal, dan perbedaan tingkat kecerdasan juga memiliki andil dalam menyiptakan kondisi antitesis prolog tulisan ini. Namun, terlepas dari adanya gap dari tiga parameter tersebut pada orang-orang yang saling mendiskusikan gagasan, hal paling dasar adalah penggunaan akal yang sehat

Konteks dapat didalami dengan bertanya. Terminologi bisa digali dari bahasa lain (atau menggunakan analogi). Tingkat kecerdasan dapat dimaklumi (sebab butuh upaya lebih untuk menyamakannya). Namun, apabila tidak menggunakan akal sehat, sebagai fondasi, maka silang pendapat tidak akan berjalan dengan lancar. Lebih buruk lagi, hanya menghasilkan riak-riak yang terabaikan, bunyi-bunyian tong kosong, keriuhan urat-urat leher, sehingga ide yang semula diniatkan baik, akhirnya jauh panggang dari api.

Tapi apakah cukup hanya berbekal penggunaan akal sehat? Dan apakah diperlukan sebuah konsensus untuk itu? Guna menuju dunia utopia seperti yang saya tuliskan di atas, mungkin kita perlu melakukan sebuah pendekatan. Gagasan yang ingin diuraikan tulisan ini adalah integrasi akal sehat. Sebuah usaha untuk mendamaikan pikiran yang bergemuruh atas kejadian-kejadian yang tak semestinya terjadi.

Integritas dan Integralistik

Istilah "integrasi" seringkali digunakan untuk menggambarkan sebuah kemajuan teknologi pada suatu sistem. Tak jarang juga sebagai bukti bahwa adanya peningkatan kualitas. Katakanlah, contohnya sistem pengadaan yang terintegrasi, sistem penanganan pelanggan yang terintegrasi, sistem kamera pemantau yang terintegrasi. Semuanya berhubungan dengan teknologi komunikasi dan informasi dan teknologi digital. Padahal sebelumnya telah ada irigasi yang terintegrasi, telepon yang terintegrasi, dan sistem lain yang sederhana tanpa ada embel-embel digital. Maka dengan hal tersebut, istilah "integrasi" tidak melulu menjadi sebuah kebanggaan dalam suatu proses, tetapi hanya mengubah posisi yang sebelumnya tidak standar, menjadi standar. Yang sebelumnya tidak tersambung, menjadi tersambung. Dan harus dipastikan saat membawa konsep integrasi, keuntungan-keuntungan baru mengikuti, bukannya malah kerugian-kerugian yang muncul.

Menurut hemat saya, untuk memastikan suatu sistem yang terintegrasi dapat menghasilkan manfaat yang maksimal, setidaknya diperlukan 2 hal. Sebuah sikap, yang istilahnya juga memiliki kedekatan akar kata dengan integrasi, yaitu integritas dan integralistik. Integrasi, integritas, dan integralistik memiliki akar kata yang sama, yaitu integer, yang berarti bulat atau utuh.

Secara lebih detail, menurut KBBI integritas berarti mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Ketika kita membaca tesaurus, kata integritas terdapat pada satu kelas kata dengan "kepaduan" dan "keutuhan", mungkin saja kita sering menggunakan kata integritas untuk menggambarkan sosok orang yang berdedikasi tinggi, jujur, dan amanah. Dan itu tidak salah, karena integritas juga memiliki sinonim kata yang luhur pada kelompok kata "moral" dan "kejujuran".

Sikap berintegritas menjadi sangat penting dalam pelaksanaan suatu integrasi, karena akan menjadi kompas moral dan penjaga niat awal. Pelaksanaan integrasi membutuhkan tenaga dan biaya yang cukup besar. Belum lagi adanya pengorbanan yang timbul. Kejujuran pada diri sendiri menjadi bekal untuk dapat memastikan bahwa integrasi itu menjadi hal yang memang harus diperjuangkan. Karena kebermanfaatannya.

Selanjutnya, bagian terpenting dari integrasi adalah semangat integralistik. Pertama kali saya berkenalan dengan kata ini sewaktu masih mahasiswa. Bagaimana kata-kata itu dijejalkan kepada kami, para mahasiswa baru, oleh kakak-kakak kelas (atau senior), untuk menggambarkan sebuah kondisi ideal dari keluarga besar mahasiswa. Kesatuan dan keutuhan para mahasiswa, apapun latar belakang program studi (prodi), jurusan, bahkan suku atau daerah. Mengapa hal itu penting? Jawaban yang saya dapatkan. Karena mahasiswa dituntut untuk bisa menjadi miniatur bangsa Indonesia. Implementasi sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia.

Selain itu, integralistik juga akan menjadi tools yang tentunya akan bermanfaat bagi para mahasiswa dalam menghadapi berbagai permasalahan di kampus. Karena dari integralistik akan timbul rasa kekeluargaan, gotong royong dan tepa selira. Manfaatnya pun tidak hanya dirasakan ketika menempuh perkuliahan tetapi juga setelah menjadi alumni. Dalam beberapa hal, integralistik memiliki lebih banyak benefit daripada mudharat.

Sehingga, sikap integralistik juga seharusnya dapat dijaminkan supaya bisa dimiliki oleh semua orang yang terlibat dalam proses integrasi. Katakanlah, sebagai contoh, integrasi penanganan kendala sistem. Sebelum adanya integrasi, penanganan kendala masih terdistribusi, tidak terpusat. Tidak ada semacam alur komunikasi baku bagaimana hubungan antara kendala, permasalahan (termasuk root cause), dan cara menyelesaikan kendala tersebut. Peran sikap integralistik akan membawa solusi yang utuh dan komprehensif, karena semua orang yang terlibat merasakan permasalahan yang sama. Tidak silo, meskipun memiliki KPI (key performance index) masing-masing. 

Dua sikap tersebut (integritas dan integralistik) akan memunculkan akal dua jengkal. Perasaan sama dengan orang lain. Perasaan untuk sama-sama memastikan sebuah sistem yang terintegrasi dapat memberi manfaat yang lebih. Perasaan dengan pemikiran khoirunnas anfa'uhum linnas. Bukannya, dengan gagasan integrasi, timbul akal sejengkal, merasa diri lebih dari orang lain. Egois. Egosentris.

Harapannya, sifat dan sikap integritas dan integralistik juga kelak melahirkan seorang integrasionis hebat. Seseorang yang dapat menjadi integrator bagi sistem yang terpecah-pecah, orang-orang yang terpisah-pisah seperti kepingan puzzel, lego, yang "hanya" menunggu untuk disatupadukan dalam suatu kesisteman terintegrasi. Memunculkan sebuah "dunia" yang harmonis karena sudah terintegrasi. Bukankah itu definisi dari integrated versi dictionary.com? Yaitu combining or coordinating separate elements so as to provide a harmonious, interrelated whole. Menggabungkan atau mengkoordinasikan unsur-unsur yang terpisah sehingga menghasilkan suatu kesatuan yang harmonis dan saling berkaitan. Kata kuncinya adalah harmonis. Sangat disesalkan apabila proses integrasi suatu sistem malah memecah-belah.

Hatta kita telah selesai meneguk hikmah dari kata integrasi, integrasi, dan integralistik. Tiga kata jargon yang akan mengawal kita ke dalam pembahasan "integrasi akal sehat".

Integrasi Akal Sehat

Sehingga, maksud dari integrasi akal sehat adalah pertama, memastikan bahwa semua peserta diskusi (hendaknya, patut, harus, wajib!) menggunakan akal sehat. Pikiran yang baik dan normal. Memaksa pikiran untuk bisa berfokus, secara sadar dalam tukar pendapat. Tidak terdistraksi dengan hal yang lain. Apalagi sembari mengerjakan pekerjaan lainnya (multitasking). Selain tidak sopan, tentunya akal kita bisa menjadi tidak "utuh".

Kedua, memahami secara terperinci apa yang sebenarnya ingin dibahas, tujuan yang hendak dicapai, dan dasar mengapa pembahasan itu harus dilaksanakan. Amat sangat disayangkan ketika orang-orang yang sudah meluangkan waktu untuk berdiskusi, nyatanya tidak mengeluarkan pendapat sama sekali. Bukannya mereka tidak mampu, melainkan sejak awal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya didiskusikan. 

Hal tersebut juga mencegah adanya sebuah fenomena yang bernama "groupthink", ketika semua orang di dalam grup diskusi seakan-akan menyepakati bersama, membuat konsensus. Padahal sebetulnya hanya tidak mau berpendapat, mungkin karena malas, abai, atau tidak paham. Grup diskusi yang semula bertujuan mendapatkan hasil terbaik, malah menghasilkan keluaran yang bukan maksimal. Apa adanya.

Ketiga, menggunakan data dan informasi yang mendukung, supaya benar-benar dapat menjadikan diskusi hidup dan produktif. Tidak berdasarkan asumsi-asumsi. Pun kita juga mengenal istilah integritas data (data integrity). Sifat dari data menunjukkan jika data-data itu benar, akurat, konsisten, lengkap, utuh. Hal ini akan menyingkap fakta, yang membuat kita akan merasa yaqin. Mulai dari ilmu yaqin, 'ainul yaqin, dan sampai pada tahap haqqul yaqin.

Sebab akal akar berpulas tak patah. Mereka yang sudah pandai tidak mudah kalah dalam perbantahan. Sebagaimana cita-cita yang disebutkan di awal, sebuah ide seharusnya disampaikan, didiskusikan, didebat, diperinci, dihantam sana-sini, bahkan dipreteli, sekecil-kecilnya. Kalau memang semua anggota bisa beradu argumen secara sadar, mengetahui tujuan diskusi, dan berbasis data, ide yang awalnya berbentuk tunas bisa menjadi tanaman berbuah lezat.

Poin terakhir, perlu mengintegrasikan akal sehat dengan integritas dan integralistik. Seperti pembahasan sebelumnya. Integrasi akal sehat dengan 2 sifat tersebut membuahkan keutuhan yang harmonis. Integrasi yang terintegrasi. Orang-orangnya, sistemnya, prosesnya. 

Bagaimana seseorang yang menyampaikan gagasan, tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga perbuatan. Sebab gagasannya sudah terintegrasi dengan alam sadarnya. Dan apabila ia beranggapan bahwa gagasan itu memang baik, ia akan menyiapkan segala sesuatunya, sebagai bekal untuk berdiskusi.

Lalu, sistem yang didasari oleh integrasi akal sehat akan berjalan secara komprehensif, sebab sistem tersebut dibuat memang berawal dari tujuan (mulia) yang ingin dicapai. Dan proses yang mengaplikasikan integrasi akal sehat juga menyiratkan sebuah proses bagaimana tubuh ini bekerja. Suatu kesempurnaan karya agung dari Tuhan, Allah subhanahu wata'ala

Meminjam terminologi Al Quran, orang-orang yang sudah terintegrasi akal sehatnya, seperti seorang ulul albab. Memahami esensi dari sebuah ilmu pengetahuan. Mengintegrasikan semuanya, pikiran, perasaan, daya pikir, tilikan, pemahaman, kebijaksanaan, dengan kedekatan kepada Tuhan. Sebab ia berpikir dan "berzikir". Ikhlas dan ikhtiar. Sabar dan syukur.

Akal, Akil, Akel

Semua orang yang berintegrasi harus memiliki niat baik, tekad baik, dan perbuatan baik; untuk mencapai cita-cita, dengan harus berpikir, berkiat, dan bertenaga kuat.

Perlu diingat juga bahwa akal tak sekali tiba. Tak ada suatu usaha yang sekali terus jadi dan sempurna. Harus selalu kontinu mengikhtiari diri.

Selamat berjuang, orang-orang yang memiliki ide dan akal sehat! Syukuri nikmat terbesar yang Tuhan berikan kepada kita tersebut.

Gerakan Nasional Menutup Akun Facebook


"Kau tahu? Aku memikirkan sebuah ide," ucap Ilyas Hussein kepada Hasan Gozali.

Hasan Gozali masih sibuk dengan kegiatannya, menggulir layar ponsel pintarnya. Tak acuh. Seakan ia tak kaget ketika teman sejawatnya itu mengatakan sesuatu tentang "ide-idenya".

"Aku ingin membuat Gerakan Nasional Menutup Akun Facebook," lanjut Ilyas Hussein dengan mimik muka serius.

Hening beberapa detik. Ilyas Hussein menunggu komentar sahabatnya itu. Penuh harap. "Kau tolol." Dua kata yang keluar dari mulut Hasan Gozali seperti sudah sangat biasa ia katakan kepada Ilyas Hussein. "Seperti biasa, Kau tolol," ulangnya.

Ilyas Hussein tak kesal dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Hasan Gozali barusan. Karena benar, ia sering mendengar kata-kata macam itu dari mulut pria yang masih sibuk dengan ponsel pintarnya.

Warung kopi itu tetap ramai ketika Ilyas Hussein mengatakan, "Kau tak paham maksudku. Iya. Kan?" Perkataan Ilyas Hussein itu seperti menghakimi Hasan Gozali karena terlalu fokus kepada ponsel pintarnya. Seakan-akan ia tak mendengarkan ide apa yang disampaikan oleh Ilyas Hussein sebelumnya.

"Sialan! Aku paham," bentak Hasan Gozali, meski suaranya tak terlalu keras. Ia kini menatap muka Ilyas Hussein. Lalu melihat ke sekeliling. Ke seisi warung kopi. "Sial, sudah sangat ramai di sini," gumamnya. Ilyas Hussein mendengarkan kalimat itu. Ia ingin mengatakan bahwa warung kopi sudah ramai sejak tadi, Hasan Gozalilah yang terlalu abai dengan sekitar. Setelah dipikir-pikir ia tak jadi mengatakannya, takut menyakiti hati sahabatnya.

"Kau tak bisa membuat orang-orang menutup akun Facebook mereka meskipun kau adalah Presiden atau Ulama atau semacamnya." Hasan Gozali berhenti berkomentar. Ia meletakkan ponsel pintarnya di atas meja dan beralih ke gelas kopi yang isinya tinggal setengah. Ia melirik ke arah gelas di depan Ilyas Hussein, yang berisi susu cokelat. Setelah minum sedikit, Hasan Gozali melanjutkan argumennya. "Orang-orang telah menjadikan Facebook sebagai kebutuhan dasarnya. Facebook seakan menjadi bagian dari orang-orang modern. Meski. Ya, kau tahu lah. Mereka juga berubah menjadi orang munafik."

Ilyas Hussein menghargai setiap kata yang dikeluarkan Hasan Gozali. Terutama bagian terakhir kalimatnya, tentang kemunafikan, Ilyas Hussein setuju. Ia mengangguk perlahan.

"Bukan hanya kemunafikan. Orang-orang seakan mencari semacam ketenaran dari Facebook. Mereka merasa bahagia setelah membagikan omong-kosong dan argumen-argumen omdo mereka. Padahal aku yakin. Sialan. Keparat. Mereka hanya mendambakan seseorang menekan tombol Like di status mereka dan jika beruntung membagikan status itu."

Ilyas Hussein juga menyetujui lanjutan argumen Hasan Gozali. Ilyas Hussein yakin jika Hasan Gozali sebenarnya setuju dengan idenya. "Iya. Kau benar. Benar sekali!" Ilyas Hussein semakin fokus ke muka Hasan Gozali yang dengan sengaja tiba-tiba mengalihkan pandangannya kembali ke ponsel pintarnya. "Bukankah itu alasan mengapa sesegera mungkin orang-orang harus menutup akun Facebook mereka? Aku kasihan dengan diriku sendiri."

Ilyas Hussein menyesal karena mengatakan kalimat terakhir, yang dirasa tak ada relevansinya. Saat hendak memberikan revisi, Hasan Gozali langsung berkata, "Kau harus mengasihani dirimu sendiri karena slalu memesan susu cokelat di warung kopi idealis ini."

Warung kopi idealis adalah istilah yang dibuat Hasan Gozali karena warung kopi ini menerapkan beberapa peraturan, yang bagi Hasan Gozali adalah peraturan hebat. Salah satunya adalah membuat ruangan khusus perokok. Dan pengunjung warkop dilarang merokok selain di ruangan tersebut. Sederhana tapi luar biasa, sebut Hasan Gozali suatu ketika. Para perokok tak sepatutnya merokok di mana pun mereka suka, bahkan di warung kopi. Kalau ingin bunuh diri, jangan ajak-ajak orang sekitar, bajingan, pikir Hasan Gozali. Dan sebab itulah istilah 'warung kopi idealis' tercipta dan mereka berdua sering menghabiskan waktu ke sini. Hasan Gozali dengan kopinya. Ilyas Hussein dengan susu cokelatnya.

"Kita ini kan makhluk sosial. Bukan makhluk media sosial. Tak sepatutnya kita menghabiskan banyak waktu di Facebook. Menulis dan membaca status, komentar. Ya menurutku itu adalah pekerjaan yang membuang-buang waktu," jelas Ilyas Hussein dengan keinginan untuk menambahkan kata 'maaf' di akhir kalimatnya. Seolah ia tak patut membuat penilaian terhadap orang-orang.

Hasan Gozali yang tadi sempat merasa geli dan hendak tertawa ketika Ilyas Hussein menggunakan istilah 'makhluk media sosial' itu melanjutkan komentar, "Kau kira apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang modern kalau tidak ada Facebook? Tidak ada. Waktu luang dan melakukan hal yang sia-sia adalah impian setiap orang modern. Orang-orang menginginkan efisiensi kerja, kecepatan, ketepatan, dan tetek bengek lainnya supaya mereka memiliki lebih banyak waktu untuk bersantai."

Ilyas Hussein memperhatikan Hasan Gozali seperti seorang mahasiswa yang mengikuti kuliah paling penting sejagat raya.

"Sialan," Hasan Gozali menggeleng. "Kau benar-benar tak bisa membuat orang-orang menutup akun Facebook mereka. Terlalu banyak kenangan di Facebook. Terlalu banyak uang yang dikeluarkan untuk mempertahankan akun Facebook selama bertahun-tahun. Facebook seakan menjadi sebuah aset. Yang menguntungkan. Dan, keparat kau Mark!"

"Kita harus mulai hidup tanpa Facebook. Aku pernah. Aku pernah mencoba beberapa kali menutup akun Facebook. Tak membuka Facebook selama beberapa hari. Dan aku bahagia. Aku sudah membuktikannya," ujar Ilyas Hussein dengan bangga. Lalu perasaan menyesal kembali merasuki hatinya. Ia tak pantas merasa hebat sendiri.

"Tapi bagaimana pun juga, aku mendukung idemu, ... " Hasan Gozali menatap Ilyas Hussein yang air mukanya berubah menjadi sangat bersemangat, "Tapi ingat. Jangan kecewa bila tak ada orang selain aku yang peduli dengan ide bodohmu itu!”

Ilyas Hussein mengangguk dengan senang. Lalu tiba-tiba ia menunduk menatap gelas susu cokelatnya. Merenung. "Entah, mungkin aku akan berdosa karena membuat pertemanan versi Facebook terputus. Sehingga kita tak bisa menghubungi teman-teman kita lagi. Tapi sungguh, kita ini makhluk sosial. Bila ingin menyambung silaturahmi, kita harus datang secara fisik menemui teman-teman kita!"

"Dan kau harus merasa bersalah, karena meski Facebook menawarkan kepalsuan, Facebook menjadi tempat luar biasa untuk menggalang dana sosial. Ingat. Masih banyak kebaikan yang bisa dilakukan dengan Facebook." Hasan Gozali menghabiskan minuman itu hingga tak ada lagi yang bisa diminum. Kini gelasnya tinggal berisi ampas kopi. Melihat itu, Ilyas Hussein seakan terinspirasi untuk ikut menghabiskan susu cokelatnya. "Tapi Facebook kini sudah mengandung banyak hal negatif. Aku bahkan tak bisa menjamin, apakah akun Facebook itu dimiliki oleh seorang manusia atau seekor anjing. Hahaha." Ilyas Hussein ikut tertawa walaupun tak sekeras tawa Hasan Gozali.

Mereka berdua melanjutkan diskusi tentang Gerakan Nasional Menutup Akun Facebook itu, tentang bagaimana mempromosikannya, tentang bagaimana cara menggalang massa, dan dana dan sebagainya di warung kopi idealis hingga larut malam. Saking sibuknya, mereka tak juga menyadari jika ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka sejak tadi. Dia adalah Mark Zukerberg!

---

Cerpen di atas saya tulis pertama kali pada tahun 2016, pernah dipublikasikan di blog saya yang lain. Lalu, untuk versi blog ini, ada penyesuaian nama tokoh. Karena nama sebelumnya nggak banget.

Saya memutuskan untuk memasukkan cerpen tersebut pada blog Hikmah ini sebab pesan yang terkandung di dalamnya, ternyata masih related sampai sekarang.

Terima kasih sudah bersedia membaca!

Minggu, 05 Januari 2025

Mukena Biru Tua: Kumpulan Puisi 2011—2012

 Setiap penulis dan orang-orang yang bekerja di dunia literasi biasanya adalah seorang penyair/pemuisi. Mereka juga menulis dan menggubah puisi-puisi. Puisi menjadi salah satu cara untuk mengungkapkan pikiran, kritik, gagasan, ideologi melalui kata-kata yang indah dan sederhana. Lewat puisi, Helvy Tiana Rosa menyerukan semangat perjuangan Palestina. Melalui puisi, Emha Ainun Nadjib ber-amar ma'ruf nahi mungkar lewat kritik yang disampaikan kepada Presiden Soeharto. Begitu pula Taufiq Ismail, puisi-puisinya sarat kritikan. Chairil Anwar, sang binatang jalang, berpuisi untuk menunjukkan semangat hidupnya. 

Bagi seorang pembelajar hidup seperti saya, puisi memberi kesempatan untuk merajut rima, menguntai keteraturan, dan menyelami diksi. Sebab, banyak sekali puisi yang saya tulis levelnya tidak akan mampu mencapai level para penyair, tentang kehidupan, pemerintah, negara, bangsa, agama. Membayangkan saja rasanya tidak sopan. Puisi-puisi yang saya mulai tulis ketika masa SMA, saat memutuskan untuk belajar menulis. Puisi-puisi yang tersebar di Twitter, Tumblr, SMS, atau catatan-catatan di telepon genggang. Puisi-puisi itu hanyalah remahan, serpihan, sisa-sisa.

Puisi jugalah yang sedikit banyak memotret kisah hidup saya. Beberapa kenangan tentang masa-masa remaja pun tertulis di dalam puisi. Kisah-kisah picisan putih abu-abu. Beberapa di antaranya berkisah tentang "mukena biru tua". Tentang seorang wanita yang dengan mukenanya yang berwarna biru tua (navy), yang saya temu di masjid, ketika sholat dhuha di jam istirahat pertama dan sholat dhuhur di jam istirahat kedua.

Sampai-sampai, saya pernah mencetak kumpulan puisi yang saya tulis untuk menjadi sebuah buku. Dengan mesin cetak (personal printer) yang ada di rumah. Saking nikmatnya bergelut dengan puisi. Buku tersebut pun saya beri judul "Mukena Biru Tua". Judul yang juga saya pilih pada tulisan kali ini. Sebagai penanda dan istilah untuk merujuk periode tahun tersebut.

Di bawah ini adalah puisi-puisi pilihan dari yang pernah saya tulis sepanjang tahun 2011-2012. Setidaknya itu yang tertulis di blog saya. Blog yang khusus saya buat di tahun 2012 untuk mengumpulkan puisi-puisi yang tercecer. Dari ratusan puisi tersebut, saya pilihkan beberapa puisi yang sesuai dengan idealisme blog "Hikmah" ini. Yaitu tentang eksistensialisme, perjuangan hidup, kenegaraan, kebangsaan, persahabatan, harapan, penindasan, dan ketabahan.

Mengapa kali ini saya menyisipkan puisi-puisi? Sebab seperti kata mantan presiden Amerika, John F. Kennedy, "When power corrupts, poetry cleanses."



Andai Aku Bukan Cermin

jujur ku terbengkalai
menepis dan terurai
menjadi jutaan partikel kebohongan
lebih keras dari sebuah senapan

keruh ku mencoba
apungkan kenangan cinta
kepastian esok kupertanyakan lagi
tentang kejadian yang pernah ku alami


---

Mungkin Ini Saat Terakhir Ku Menatap Wajahmu

setiap tetes darah yang keluar dari nadi
akan mengalir lembut tumpah ke bumi

setelah kau tebas tanganku ini
perih rasa yg kuderita saat ini

pernahkah kau berpikir tentang ini?
setelah kau hujam jantungku ini
senyummu menandakan kepuasan
ketika aku merintih kesakitan

wahai, sahabat terkasihku
perangai gemulai menjerat diriku
kau bukan dirimu yang dulu

sadarlah engkau
dan lihat lukaku

---

Kerumunan Awan

pernahkah kau perhatikan kerumunan awan?
lekukan abu-abu nya indah dan menawan
mengiyakan ke mana pun angin membawanya pergi
langit biru sebagai tempat mereka mengadu kasih

sempatkanlah dirimu untuk mendengar kicau burung
bersandar tinggi di atas pohon termenung
kicaunya yang ceria menyembunyikan dukanya
inginkan sahabat-sahabatnya tak ikut merasakan kesedihannya

tanpa harus memahami apa yang aku alami,
saat ini dirimu hanya perlu menemani


---

Semangat!

desiran ombak lambat laun mengikis karang
meretakkan setiap apa yang menghadang
semangatnya menemani laju halilintar
mimpinya tidak akan pernah pudar


---

Pertarungan Tadi Malam

bulan di pagi hari pun begitu indah
menyejukkan hati yang sedang gundah
telapak kaki telanjang menyentuh batu tajam
sisa-sisa pertarungan tadi malam

mengapa masih tercium bau darah?
langit cerah pun terlihat marah

jika saja hujan turun membasahi bumi
menghapus semua kesedihan dalam mimpi

tapi semua telah berakhir sempurna
walaupun kedua sayapku telah sirna
masa depan bagai cahaya yang kemilau
mengabadikan cita-cita dan menghapus risau


---

Kedamaian

warnaku tak tercampur oleh rasa hina
tak biasa oleh perlombaan senjata

kedamaian selalu tercipta
di sini,
di dalam jiwa

aku bagaikan bulu yang menari dalam lintasan angin
aku tak biasa untuk menderita
karena pedang,
karena senapan

namaku damai
dan aku mengawali cinta
untuk seluruh insan manusia,
yang ada kalanya kan binasa

aku ini tiada berjasa
hanya pada mereka aku bercerita
bahwa aku ini bukan binatang bertaring
bukan binatang penuh cakar

aku hanya sayap-sayap
yang mengikuti matahari berlaju

tiada keanggunan yang melebihi hati
hati yang mengimami kedamaian


---

Karyaku

hijau yang senantiasa berdatangan dari arah kilauan biru mudanya
menjeritkan setiap goresan kuas yang menari di atasnya

kanvas-kanvas itu masih kosong dan rindu untuk dijamah
menginginkan hasil yang maksimal dari seorang pelukis terinspirasikan dunia

tak kurasa itu semua terlahir begitu saja
tak jua kumerasa
tak sirna rasa ini
yang menahan iri hati,
mengenai keajaiban sebuah mahakarya

jika saja di waktu ku masih belia aku habiskan waktuku 'tuk berkarya
kuhabiskan waktu 'tuk bersiap
sebuah warna berpadu bagai pelangi dan cercahan difraksi sinar putih

'kan menghasilkan sesuatu yang memunculkan senyuman yang ikhlas
dari setiap orang yang menyaksikan
salah satu mahakarya dunia

itulah aku,
itulah mimpiku,
inilah karyaku


---

Cinta yang Bosan

sampai nafas yang membeku di antara dua cahaya
aku terikat oleh berbagai dilema
antara bergerak dan terdiam di jagat raya,
dalam buaian air mata

aku bosan menanti cinta yang tiada kepastian
sampai beku dan tak tersentuh

dilema itu semakin menjadi ketika merak kian pergi

aku cinta seseorang yang membuat bosan
menunggunya bagai mati tak penuhi janji
hingga bosan tak terkendali

andai mati menyapaku kini

---

Sebelum Ketiadaan

selalu ada kisah yang mengawali perjalanan seseorang ke dalam ketiadaan
yang selalu menyingsingkan langit biru dan goresan-goresan jingganya

kuingin setiap aliran darah yang mengalir melewati pipa-pipa vena dan arteri
menjadi sebuah dokumentasi dan pelukisku akan indahnya hidup yang diberikan-Nya

selalu kutanyakan mengenai guratan yang kau buat di hatiku
dari mana kau tahu ku tak lagi seperti dulu?

aku yang selalu akan membuat garis waktu 
mengenai langkah kecil kakiku di atas bumi yang tua ini
langkah-langkah yang semakin tak berarah
hingga aku lupa jati diriku
di mana

saat mengingkari sejuta butiran partikel air yang melayang-layang
ketika kaki-kaki enam mengikuti jejak teman-temannya
di saat itu aku ada
aku ada untukmu
membuat jejak-jejak

yang akan membekas pada raut muka yang tua itu
membekas pada laju angin yang menghalangiku
hingga kini

hingga ku,
tak menatap wajahmu lagi


---

Meninggal Dalam Ombak

aku meninggal dalam ombak
meninggalkan karang
merasakan hembus
menitih pasir

biarkan aku rangkai sendiri kematianku
tiadalah ragu tuk bercerita


---

Ayahku Seorang Aktivis

ayahku adalah seorang aktivis
darah yang mengalir pada diriku
semangat yang menggebu

ayahku adalah seorang aktivis
aktivis kejujuran
sama sepertiku

ayahku adalah seorang aktivis
akan kuteruskan perjuangannya
yang merelakan kesenangan
yang tak pedulikan caci maki
untuk kejujuran


---

Tanah Airku Bercahaya (Mei 2012)

tanah airku terkotori
haluannya terkoyak
bangsanya terabaikan
memisahkan antara penguasa dan pemusik jalanan
memendarkan tangis yang memekikkan telinga

tanah airku menjelma
keindahannya terjamah
kaki garuda terkekang
mengalunkan jerit pada dinding-dinding penderitaan
dengan keasyikan penguasa yang tiada peduli

tanah airku bercahaya
masa depannya cerah
secercah mimpi terlahirkan
menggapai langit yang membanggakan ibu pertiwi
melukiskan rasa manis di atas planet bumi


---

Luka Malam yang Terabaikan

kami tersebut dalam jerit-jerit malam
melenyapkan suara terkaman seram
lesapkan deru pelor senapan

aku mengagumi suara tawa malam itu
yang mengitari kota tiada jenuh
menutup segala dusta akan isak tangis
mencari ceria seorang gadis di sana

ia mencoba 'tuk merajut mimpi dalam haru
mengais mimpi-mimpi yang sempat tersapu ombak
di balik bebatuan tegar

aku tertahan oleh angin pantai
serasa sakit memandang bulan purnama
horizon malam bercahayakan bintang
juga lampu-lampu kota

merasakan tatapan jenuh kepadamu
kau tiada lagi peduli dengan kunang-kunang
yang terang mengindahkan malam
yang masih saja membiarkan mereka berserakan
remukkan langit yang tenang

maka jangan kau salahkan hembusan amarahku
ketika kau kini mudah melangkah pergi
meninggalkan senyum-senyum semu diriku

kuhanya bisa melihat awan menerkam bulan
membiarkan sayap-sayap bidadari pupus,
luka yang terabaikan


---

Berjumpa Mentari

lihatlah mentari hangat esok pagi
apakah akan tersenyum terang kembali
menerangi semua hati yang sepi
memberi semangat yang tiada letih
dan karunia Tuhan yang patut kita syukuri

aku tlah lama berkelana
memunguti air mata
menghapus resah
menghilangkan dahaga akan cinta
di dalam telaga Cinta Maha Kuasa

kini izinkanlah aku tidur sementara
'tuk kembali mewarnai hari hari indah
di kala fajar hingga senja
ketika terang hingga bulan purnama


---

Puisi 21 Kata

paksaan pada candu
sempat merayu
ia terpaku

ajakan kala bahagia
pegang rahasia
pipi memerah

lupakan selalu diri
dekatilah kekasih
aku merintih


---

Sahabat Sebatas Rindu

aku pernah menggandengmu kala ragu
kutepuk pundak yang menanggung beban berat itu

ketika gelap menghampirimu
ketika retak bumi ibu pertiwiku
ketika cinta hampir membunuhmu

berdirilah tatap mata yang sepi ini
anggaplah aku ini ada
anggaplah aku selamanya
semua yang memusuhimu adalah musuhku
hati kecil kita saling menyatu

Sahabat,
walau pedang kau tusukkan pada jantungku
selama itu yang terbaik bagimu
aku tak apa

senyumku slalu terpancar untukmu
tak usah kau resah
tak usahlah kau pikirkan aku

teranglah
teranglah dalam gelap
aku akan selalu bersamamu, walau hanya sebatas rindu


---

Kado

gitar plastik senar benang terbungkus rapi
kado untuk para musisi jalanan sepi
rambut gondrong terurai penuh keringat
ya memang panas ke mana pun menyengat


---

Menyembuhkan Luka Ibu Pertiwi

Engkau seekor garuda gagah
matamu tajam menatap bangsa
tubuhmu tegar bagai angkasa
kau lipat sayap sayap penuh bangga
membusungkan dada penuh asa

Engkau sebuah konstitusi
penuhi sel sel penjara dengan hukum mati
tegas dan disiplin tinggi
membombardir nyawa dengan intuisi
tiada ragu menembak nurani

Engkau adalah bendera negaraku
berkibar kau di langit biru
tiang menjulang bersama angin tempatmu beradu
merah putih yang selalu padu
memperhitungkan insan-insan di bawahmu

Engkau bagai peci presiden
kau tampak agung hitam dan keren
menutupi keringat yang berbau aren
leluasa mengikuti pidato menteri dan wamen

Engkau merajai nusantara
dengan ambisi politik mereka
cinta anak bangsa ingatlah
bukan kaisar Jepang atau Inggris dengan Rajanya
amanat yang tiada lekang olehnya
bawa serta nurani titipan Yang Maha Kuasa
bersamaku harumkan Indonesia
sembuhkan luka Ibu Pertiwi tercinta


---

Raut Muka Hilang

muka yang masam,
seringnya pada masam,
kelam yang bergejolak juga,
raga sepi terlepas sanubari tua,
membesarkan sendu-sendu ku,
juga tawa-tawa hilang nya jua,
mula nya larut hujam sesuatu,
sehingga surau bakar separat,
imbuhan jerit selayang rasa ada,
mohon tinggallah lupakan kekasih,
menjalin desir sepi kulihat kau sendiri,
inginku dekati mengantarkan ku,
semangatkan cinta sering sesal,
logika tiada berujung cekal nian,
lalu fatamorgana menyekik ia,
bawalah arti yang sebenar-
benarnya kasih,
kasihku hilang...


---

Penebusan

camar menukik di atas deru ombak
aku pun merasa tersaingi olehnya
aku kepakkan sayap lebih lebar
bulu-buluku pupus
karena aku tlah menua
mengingat perjuanganku saja
aku harus bersemayam dalam patung-patung gagah
pelangi-pelangi yang tergambar dalam dinding
yang mereka sebut mural
aku kini ingin memperbaikinya
dengan berkejaran saat sore
bersama camar
latarku langit senja
memaki ombak dari atas sini
sematkan senyum
lemparkan duka


---

Ditemani Dirimu

engkaulah terang dalam ketenangan
melepaskan tepisan dalam temaram
basuh hangatnya kesendirian
dengan berbagai kasih dan harapan

aku sendiri
membatu di tepi jalan
kudapati lalu lalang,
yang kurasa riuhnya 
memusingkan orang-orang
namun bagiku
itu hanyalah angin lalu
karena tatapanku hanya bisu

engkaulah yang melihat senyumanku
senyuman yang bahkan tak dihiraukan dunia
karena tercium kebakaan di dalamnya
terjepit luka
tercabik lara


---

Cinta Abadi Bisma

berjalanlah Bisma di tepi pantai
merenungi kasihnya yang membuai
memberi kehangatan kepada sebuah hati
dari seorang dewi yang cantik jelita,
Dewi Amba

sayang di kala keduanya saling mengasihi
sumpah janji yang membuat keduanya tak bisa bersatu
hingga Bisma menghilangkan nyawa Dewi Amba

takdir telah menggoreskan catatan
suatu ketika pada Baratayudha
mereka akan memulai kasih cinta abadi
di tangan Srikandi yang bersemayam di dalamnya Amba
di ujung anak panah
Bisma gugur dengan cinta
menemui Dewi Amba dalam cinta baka
hingga keduanya saling beradu rindu
menapaki hari dengan janji setia


---

Sajak Indonesia 3

I.
aku suka Indonesia
sesuka aku dengan kolak
merah untuk gula merah
putih untuk santan
jayalah negeriku
yang penuh dengan umbi-umbian

II.
Indonesia bagai sebuah kerang
yang mendewasakan diri dalam kedalaman
hingga ia diam-diam
memberikan mutiara-mutiara
sebagai keindahan

III.
entah berapa kali kata 'lelah' kita ucap
namun dalam 'lelah' itu kita butuh sebuah kata
yang dibisikkan ke dalam telinga
yaitu 'Indonesia'

IV.
Ibu Pertiwi
aku rindu pangkuanmu
ketika aku masih lugu
ketika bumi yang kuinjak masih dapat membahagiakanku
karena riang anak-anakmu

V.
angin-angin masih tetap mengibarkan bendera
karena tinggi tiang masih di atas bangunan-bangunan
yang tak megah dan sederhana

VI.
hingga kulihat kain kafan disiapkan untukku
namun kuingin tetap berkibar di atas negeriku
hingga esok terus terlihat anak-cucuku

VII.
aku telah terbiasa menjadi jiwa bersatu dalam raga
aku tengah membiasa menjadi insan dengan corak khatulistiwa


---

Kita Sebagai Insan (Agustus 2012)

setiap dari kita adalah insan yang dipenuhi rindu
rindu bertemu dengan Sang Khalik
Dialah sebaik-baiknya Cinta untuk dirindu

setiap dari kita adalah hina yang tak terbantahkan
karena kita berasal dari mani yang dipancarkan
yang tersimpan dalam tempat penuh buai nan kokoh

setiap dari kita sejatinya berasal dari jiwa-jiwa yang tenang
yang membutuhkan waktu dan tempat untuk sebuah perenungan
memahami setiap ayat-ayat Al-Qur'an dan yang tersebar di semesta.


---

Aku dan Surabaya

betapapun aku menyelam ke dalam sungai-sungai di Surabaya ini
yang keruh dan berbau tak sedap
tak pernah aku menemukan jati diri kota pahlawanku

seberapa banyakpun aku menyetubuhi
pohon-pohon besar di pinggir-pinggir jalan
tak sempat terpikir di benakku untuk apa aku ditanam

selincah apapun aku naik ke langit
memanjat tinggi tugu di atas pemakaman
tak kuasa aku menggiring awan
untuk singgah dan mendinginkan
hati, pikiran, dan suhu kota
 yang mulai perpolusi bak ibu kota tersebut

antara aku dan kota ini
seharusnya ada benang merah
yang memuat kata-kata indah, bersejarah,
dari setiap untaiannya

aku dan Surabaya sudah berteman sejak 18 tahun yang lalu
dan belum memahami satu sama lain
belum berupaya
untuk meningkatkan status kita
sebagai sahabat yang saling bertukar rasa


---

Perpisahan Kita Abadi

lampu-lampu
berpendar menurut aku

aku adalah semakin larutnya malam
aku menghilang olehmu

kamu adalah yang membuat pohon-pohon kokoh
menancapkan akar dengan tangguh

aku dan kamu
bagai sisi yang saling melainkan

jika aku ada engkau tiada
jika engkau tercipta aku binasa

perpisahan kita abadi


---

Seribu Tahun

seribu tahun yang lalu adalah penantianku
gerimis perlahan membasahi sekujur tubuh
meskipun telah kubasuh dengan sapu tangan pemberianmu

seribu tahun yang lalu di pekarangan rumahku
masih dapat kutumbuhi berbagai palawija,
rempah-rempah, dan buah penghilang dahaga

seribu tahun mencari kepalsuan
hingga menghilang di balik awan hitam
guntur dan gemuruh hampir memecah pendengaran

seribu tahun bukanlah waktu yang singkat
setiap detik menusuk-nusuk kulit dan dagingku
membebani kepalaku dengan galaumu
meninggikan langit di atas pertiwi
sediakan bak untuk menampung tangis negeri

---

Membalik Kenyataan

membalik kenyataan searah rayuan
kering kerontang bulir-bulir kenangan
secerca rindu terpancar dari padanya
lalu diam-diam kembalilah gelap gemerlap

tangan-tangan mungil mengais
tangis-tangis tumpah dari pepohonan
kilau desahmu bangkitkan birahi
terukir oleh beberapa percikan musim semi

lalu kemanapun angin mengalir
dan air berhembus
naungan kasihku setia tertuju

satu yang harus kau lakukan
cintailah cinta dan kasihanilah cintamu
yang tak membuat genggaman tangan
dan bibir bercumbu

---

Nak

doaku menyertai kehilanganmu
ketika tak kau raih tangan ini
ketika keajaiban hanya menepi
kala kau lewat dengan kegundahan hati

gubuk tua itu sebagai bukti
hampir-hampir roboh porak-poranda
meniadakan catatan-catatan kebencian
yang kau tulis
yang kau tujukan kepada penguasa

berangkatlah ketika fajar masih muda
dan keheningan menemani
hingga terdengarlah detak jantung
dan langkah kakimu

bawalah bekal seadanya ini
untukmu sengaja aku buatkan sedikit berbeda
yaitu tanpa cinta dan kelembutan
sebab kebencianmu masih nyata

berangkatlah
berjuanglah
lalu pulanglah seinginmu
namun tak ada lagi yang tersisa
karena usiaku kini telah senja
dan kau pun tahu itu
setua pohon yang menemani gubuk kita

Nak,
karena dewasa kini engkau
bawalah segala apa yang kau persiapkan
termasuk keimanan dan ketaqwaan
meski kebencianmu meluap-luap
tetap ingatlah Tuhan
tetap mengabdilah kepada-Nya

---

Antara Keheningan dan Keramaian

apakah aku harus tampil untuk menunjukkan siapa aku
ataukah hanya untuk menguatkan eksistensiku
yaitu kefanaan belaka
dan ketegaran semu

tapi jiwaku ini adalah aku
yang lebih suka diam
dalam ketidakdiaman
yang lebih suka berbisik
di saat tak saling berbisik

bukan aku jika suka menunjukkan aku
namun juga bukan aku jika benci mengungkapkan siapa aku

jadi antara keheningan dan keramaian
terdapat aku
terdapat jati diriku

---

Kesediaan

benarkah ini
lantunan musik yang kudengar adalah tangismu
merdu sekali menyayat hati

mungkinkah ini
lukisan indah yang kulihat adalah lukamu
senang sekali menanggung laramu

aku harus tersenyum
ketika aku tahu apa yang kau rasa
ketika tahu sakit yang tercurah

semua ini karena wujud cintaku
yang kau rasa karena lapar dan dahaga
yang muncul karena ada derita
perlahan tertutupi keakraban
lama-lama penuh juga hati yang riang
memaksamu 'tuk ikut tersenyum bahagia

di situlah peranku sebagai kasihmu
mengeringkan tumpahan air matamu
yang meluap karena resah hati dan kegundahan
lalu kupersiapkan pundakku sebagai tempat bersandar

tidurlah barang sebentar
tidurlah dalam kenikmatan
lupakan dunia yang tak mengindahkanmu
lupakan aku yang tak berbuat apa-apa untukmu
yang hanya bisa tersenyum sambil menahan tumpahan air mata
dan menyediakan pundak untukmu kembali mengingatnya

---

Tersembunyi

kita tertawa seakan dunia bahagia
kita tersenyum sematkan kesukaan
selebih itu hanyalah dusta
karena kutahu perih apa yang singgah

di balik sunggingan bibir itu
tersimpan berbagai memori menyayat hati
yang tak sanggup kau ucap
hingga suatu ketika engkau harus menghapus air mata
dengan senyuman yang menyakitkan

balaslah tanganku ini dan raihlah
gapailah langit bersamaku
mencari arti bahagia denganku
lalu menyisipkan suka untuk dunia




Rabu, 01 Januari 2025

Sekali-sekali Bercerminlah!

Sekali-sekali Bercerminlah!

 Novel filosofis yang saya baca ulang di tahun 2024 lalu, yang menurut saya juga perlu untuk dibaca oleh Rekan-rekan semua, adalah novel Sang Alkemis karya Paulo Coelho. Novel itu dibuka dengan cerita seorang dewi hutan yang berdialog dengan sebuah telaga tentang Narcissus yang tenggelam, inti dialognya kurang lebih seperti ini:

"Apakah Engkau menangis untuk Narcissus yang tenggelam, karena Engkau tak dapat lagi melihat keelokan paras wajahnya?" tanya Dewi Hutan.

"Aku menangis untuk Narcissus, tapi bukan karena aku tak bisa lagi melihat keelokannya," ujar Sang Telaga, "melainkan karena tak bisa lagi kulihat pantulan keelokan diriku sendiri dari kedua matanya."

Syahdan.

Cermin secara fitrah adalah benda yang jujur, karena ia akan memantulkan semua citra di depannya. Sehingga apabila terdapat orang seperti Narcissus, yang terlampau mencintai diri sendiri, ia akan menghabiskan banyak waktu memandangi dirinya lewat cermin (atau dalam kisahnya, sebuah telaga). Dan cermin bukanlah pihak yang patut disalahkan. Ia hanya bertugas untuk merefleksikan, memantulkan bayangan.

Filosofi terkait cermin juga dapat kita temukan (kebalikan dari narsisisme) pada novel Veronica Roth, "Divergent". Pada faksi Abnegation, yang paling ringan tangan, tak mementingkan diri sendiri (self-less). Orang-orang faksi Abnegation dilarang untuk melihat ke dalam cermin terlalu lama, karena khawatir akan menyebabkan tumbuhnya sifat egois & terlalu cinta pada diri sendiri. Sifat-sifat yang mengganggu core value dari Abnegation --penyangkalan diri, yang ujungnya dapat merusak tatanan hidup (dalam dunia Divergent, post Chicago).

"Cermin" pun tidak hanya satu bentuk, satu wujud. Apa saja, di alam semesta ini, bisa menjadi sebuah cermin. Baik yang kongkrit maupun abstrak. Baik yang sementara maupun permanen. Baik yang asli maupun buatan. Sehingga cermin, yang dibahas pada tulisan ini, tidak dibatasi pada konsep kebendaan, tetapi lebih akan digali dari konsep kesifatan. Setidaknya, itulah yang coba saya uraikan. Kembali lagi, seperti semangat dari blog ini, esai ini mencoba untuk mengikat hikmah yang muncul di tengah-tengah waktu serta sebagai pengingat di masa mendatang. Atau mungkin saja bentuk autokritik untuk diri saya yang sekarang.

Baiklah, saya akan memulainya.

Individual Goal (IG) atau Key Performance Index (KPI) seringkali kita tetapkan di awal tahun dan isi realisasinya di akhir tahun. Konsep penilaian ini, berbasis nilai numerik yang memaksa kita untuk menerjemahkan output dari pekerjaan-pekerjaan kita. Capaian-capaian kita. Yang memang harus kita tuliskan. Padahal mungkin saja capaian tersebut tidak menghasilkan outcome apapun. Tidak memberikan hasil atau manfaat bagi perusahaan, orang lain, terlebih bagi diri sendiri.

Beberapa orang yang saya kenal, mengaku sudah cukup acuh tak acuh dengan pengisian IG. Beberapa di antaranya menilai bahwa IG hanya formalitas, yang toh menurut mereka hasil akhir penilaian ditentukan secara subyektif, alih-alih obyektif. Ditambah lagi, mayoritas manager ternyata tidak suka melakukan penilaian kinerja. Kalau bisa, tidak mereka lakukan. Hal ini seperti yang dibahas pada buku Performance (atau judul "Kinerja" dalam terbitan bahasa Indonesia), kumpulan tulisan yang disunting A. Dale Timpe.

Terlebih, mungkin ini juga salah satu kelemahan manusia Indonesia, yang tidak benar-benar bisa menjalankan meritokrasi/"merit system" atau bahkan penilaian berbasis kuantitatif lainnya. Sehingga pada akhirnya orang-orang memilih untuk menunjuk "siapa yang terbaik" atau "siapa yang take the lead" berdasarkan parameter-parameter kualitatif yang tidak relevan, seperti kekerabatan, kenyamanan, pertemanan, good-looking atau tidak, dan sebagainya. Sehingga menjamurlah nepotisme dan kolusi di negeri ini.

Namun menurut saya tidak bisa hanya ada satu tujuan yang disandarkan pada IG atau KPI. Ia lebih daripada hanya sebagai penentu kamu nilai berapa, saya dapat nilai berapa, dia dapat nilai berapa. Metode penilaian ini sepatutnya juga diperlakukan sebagai sebuah cermin. Bagaimana tool tersebut sebagai refleksi bagi diri, sudah sejauh mana kualitas diri kita, sudah naik level kah kita.

Bagaimana cara kita mengisi dan melengkapi individual goal tersebutlah yang menjadi penting. Apakah kita jujur dalam pengisiannya? Ataukah penuh dengan manipulasi data? Sehingga pada akhirnya menyebabkan nilai kita bagus, tapi nilai yang lainnya jelek, yaitu nilai kejujuran. Tentunya inilah pekerjaan rumah kita, perlunya menggunakan rutinitas tahunan itu sebagai cermin moral.

Apakah kita berlaku totalitas dalam pengisiannya? Ataukah, seperti yang saya sebutkan di awal, hanya bersikap formalitas? Mengakibatkan nilai IG tidak representatif, kurang menggambarkan "diri" kita sepenuhnya. Manusia adalah makhluk yang terbatas, terikat ruang dan waktu, tidak bisa mendalami hati dan pikiran orang lain. Pengisian IG yang sungguh-sungguh akan membantu atasan kita, rekan kerja kita, atau orang lain dalam menilai pekerjaan dan pencapaian kita. Bukankah ini juga akan menjadi sebuah hubungan yang baik? Keterbukaan, apa adanya, seperti sebuah cermin. Kita dan orang lain.

Ataukah IG dan KPI menjadi bentuk kesombongan kita? Apakah dengan nilai-nilai yang terlampau bagus itu menyebabkan kita seperti Narcissus, yang begitu mengagumi diri sendiri? Ingat, Narcissus tenggelam ke dalam telaga yang setiap hari dipandanginya! Tentunya cara kita bercermin melalui nilai-nilai harusnya dilengkapi dengan rasa syukur dan kebijaksanaan.

Lalu, apa lagi yang bisa digunakan sebagai cermin?

Kalau boleh usul, gunakanlah buku! Pilihlah atau jika perlu carilah buku yang benar-benar Anda sukai. Yang sesuai dengan minat dan kebutuhan. Dapatkan buku yang pantas untuk dibaca dan dihabiskan dengan waktu yang sangat berharga itu. Semua kutu buku yang Anda kenal pasti akan menyarankan hal yang sama. 

Buku yang dibaca, apa saja temanya, topiknya, pembahasannya, akan mengaktifkan otak kita. Menciptakan sebuah dialog dan dialektika. Merefleksikan semua pengalaman yang pernah kita alami. Pikiran, yang mungkin selama ini hanya mengendap di dalam kepala. Melalui membaca buku, semuanya akan saling bertabrakan, berintegrasi, bersautan. Hingga akhirnya dalam satu klik, memunculkan sebuah cermin imajiner. Anda bisa gunakan untuk mencerminkan apapun. Rasa sakit, bangga, jati diri, keimanan, dan banyak lagi!

Syukur-syukur buku yang Anda baca itu membahas tentang manusia, bertema psikologi, antropologi, filsafat, atau topik sosial lainnya. Supaya lebih berasa. Beberapa rekomendasi di antaranya yaitu Ikigai, karya Hector Garcia dan Francesc Miralles; Going Offline, karya Desi Anwar; Semua Orang Butuh Curhat, karya Lori Gottlieb; Lapis-Lapis Keberkahan, karya Salim A. Fillah; Berkenalan dengan Eksistensialisme, karya Fuad Hassan; dan tentu saja daftarnya masih banyak.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak Rekan-rekan untuk berkenalan  dengan salah satu buku. Buku yang sebenarnya melatarbelakangi saya menulis esai ini. Ketika membacanya, saya banyak sekali berpikir sambil memandangi cermin imajiner yang ada di dalam benak. Menanyakan apakah benar seperti itu. Merenungi apakah memang faktanya begitu. Buku yang saya maksud ialah karya seorang jurnalis Indonesia, Mochtar Lubis, yaitu Manusia Indonesia.

"Manusia Indonesia" berisi pidato kebudayaan yang disampaikan Mochtar Lubis pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Juga dilengkapi berbagai artikel dan rubrik komentar orang-orang tentang pidato tersebut. Serta tulisan balasan Mochtar Lubis.

Isi pidato dan buku itu sangat menarik, tentang sifat-sifat manusia Indonesia. Ada 6 sifat yang utama, yaitu munafik, enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya, bersifat dan berperilaku feodal, percaya takhayul, artistik atau berbakat seni, dan lemah watak atau karakternya. 

Buku itu tidak terlalu tebal, hanya sekitar 130-an halaman, tetapi saat membacanya kita akan dibawa untuk banyak bertanya dan merenung (seperti yang saya sebutkan sebelumnya). Pesan yang disampaikan oleh Pak Mochtar memang bertujuan sebagai autokritik, yang tidak tergerus zaman. Dari tahun 1977, tetap akan related sampai sekarang. Dan mungkin juga hingga seterusnya, selama bangsa Indonesia masih "ada".

Saya tidak akan membahas satu per satu sifat yang dituliskan di buku tersebut. Rasakan sendiri sensasinya. Dan hilangkan prasangka buruk tentang isinya. Jangan bersuudzon tentang stereotip. Tapi rasakan bagaimana kata-kata itu akan menggelitik nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, rasa bertetangga. 

Intinya, buku itu sangat bisa kita gunakan sebagai cermin. Sebagai bahan evaluasi kita terhadap bangsa tercinta, terhadap masyarakat, terhadap diri sendiri. Apa yang kita butuhkan salah satunya adalah evaluator.

Dan Allah Subhanahu wa ta'ala sebaik-baik evaluator

Saya sudah membiasakan diri untuk berangkat kerja dari indekos mulai pukul 06.00 pagi (atau bahkan lebih awal lagi). Rutinitas ini saya lakukan, selain untuk mengubah kebiasaan tidur setelah salat subuh, juga supaya bisa mendapatkan lebih banyak waktu produktif di pagi hari. Sekadar tambahan waktu untuk membaca buku, mengecek surel, menuliskan to-do list, memantau tiket customer di sistem, dan lain-lain.

Namun saya juga mendapatkan manfaat yang lain, yang tidak kalah berharga, yaitu bisa melihat tim saya (para manusia Indonesia ini) datang ke ruangan kantor pada pagi hari. Guna  menilai, dengan segala keterbatasan saya, bagaimana para anggota tim memulai bekerja. Apakah mereka antusias, bersemangat, atau kebalikannya, yang tampak dari kondisi pagi hari mereka.

Sebuah usaha, satu dari banyak cara, karena keterbatasan manusia. Tidak bisa melihat ke dalam hati dan pikiran orang lain. Hanya bisa menebak-nebak, menggunakan ilmu psikologi atau pseudo science misalnya. Sebagai kisi-kisi dalam memberikan penilaian individual goal atau key performance index mereka. Sebagai bekal dan bahan untuk menentukan suatu kebijakan bagi tim, guna meningkatkan produktivitas dan kebermanfaatan kami kepada perusahaan. 

Tujuannya seperti itu, tetapi, balik lagi, saya hanya manusia terbatas. Masih bisa melakukan berbagai kesalahan berpikir (logical fallacies). Masih bisa terjebak dalam bermacam bias. Pemahaman ini pun yang mendasari saya untuk mengembalikan semua penilaian diri saya hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Berapapun nilai yang Allah beri, saya terima, karena Dia lah yang Maha Adil, Maha Mengetahui, Maha Melihat. Hakikatnya begitu.

Kalau sudah Allah yang menjadi evaluator kita, tentu saja semua tingkah laku kita akan menjadi baik. Tanpa perlu ada pengawasan manager, CCTV, panoptik, topeng, basa-basi. Yang ada hanyalah kejujuran diri. Sebab Dialah yang menguasai alam semesta. Dan diri. Termasuk hati kita.

Jalaludin Rumi, pada bukunya Fihi Ma Fihi, menerangkan, "Allah hanya melihat pada hatimu." Sehingga kita harus memperbaiki hati kita supaya Allah bisa melihat keindahan diri-Nya. Rumi menceritakan tentang seorang bijak. Yusuf al-Misry namanya. Yang hanya bisa diberi hadiah sebuah cermin oleh salah satu sahabatnya, supaya ia dapat menatap wajahnya yang tampan. 

Apalagi yang belum dimiliki Allah dan Dia butuhkan? Seharusnya manusia mempersembahkan hati mereka yang bersih dan mengkilau kepada Allah agar Dia bisa melihat diri-Nya dalam hati itu. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian tetapi Ia melihat hati dan amal kalian”. Hadist riwayat Imam Muslim.

Kita juga, sebagai makhluk harus menyempurnakan akhlak supaya bisa merepresentasikan Sang Khalik. Sehingga penghambaan kita kepada Allah adalah sebaik-baiknya cermin yang kita miliki. Tanpa dibatasi oleh sifat-sifat buruk sebagai manusia Indonesia, seperti yang disebutkan oleh Mochtar Lubis.

Akhirnya, bagi sesiapa yang sedang lupa, sekali-sekali bercerminlah! Dan teruslah mengabdi kepada kebijaksanaan (sebagai bekal menghadap kepada Allah Subhanahu wa ta'ala). Serta teruslah bermanfaat bagi manusia Indonesia yang lainnya, tebalkan sifat filantropis, altruisme, jangan terlalu seperti Narcissus.

Sebelum benar-benar mengakhiri tulisan ini, ijinkanlah saya membagikan puisi gubahan saya 13 tahun yang lalu, yang tentu saja masih nyambung dengan tulisan yang sudah Anda baca di atas:

Andai Aku Bukan Cermin

Jujur ku terbengkalai
menepis dan terurai
menjadi jutaan partikel kebohongan
lebih keras dari sebuah senapan

Keruh ku mencoba
apungkan kenangan cinta

Kepastian esok kupertanyakan lagi
tentang kejadian yang pernah ku alami

(Surabaya, 16 Maret 2012)

Selasa, 31 Desember 2024

Manusia-manusia Gagal

 Tiga ratus enam puluh enam hari sudah kita lewati. Banyak sekali kisah sukses yang kita baca, dengarkan, harapkan supaya kisah-kisah itu menjadi bagian dari hidup kita. Cerita kesuksesan manusia, dengan pekerjaan mereka, bisnis, hubungan percintaan, pendidikan, pertemanan, atau dalam hal lainnya. 

Kebanyakan dari kita amat menyukai, bahkan menikmati berbagai pengalaman sukses seperti itu. Biografi orang-orang sukses laris manis. Seminar-seminar motivasi jualan kesuksesan penuh sesak. Linimasa, reels, FYP dijejali orang-orang kaya, bahagia, sukses. Kita sempatkan memberikan like dan love.

Karena, mungkin, yang ditulis dan dimunculkan itu ialah luaran yang berbau harum, semerbak, layaknya bunga. Semua yang terlihat indah, menawan, warna-warni. Memunculkan kekaguman. Sehingga kesuksesan merupakan hiasan dinding dan pameran dan pemandangan. 

Pengharapan atas kesuksesan menjadi sarapan, makan siang, dan makan malam kita. Angan-angan atas kesuksesan mengalir di dalam darah, sehingga amat candu.

Namun, tulisan ini bercerita tentang manusia-manusia gagal. Menjadi monumen bagi siapa saja yang gagal. Menghadirkan pigura untuk mereka yang gagal, secara lahir, batin; secara makna, konteks; secara implisit, eksplisit. Menjelma medali penghargaan atas ketabahan, kesialan, keikhlasan, kemuakan, kelemahlembutan, ketidakberdayaan, keterusterangan, kejujuran, ke-ke-an yang lainnya.

Manusia-manusia gagal seperti ditakdirkan untuk menjadi orang buangan. Yang kisahnya tidak perlu untuk diceritakan kepada khalayak ramai. Cukup ditutupi oleh kain kafan, atau bahkan daun pisang. Saking tidak layaknya untuk diketahui.

Padahal, dari merekalah kita bisa mendapatkan banyak pelajaran. Hikmah. Seperti semangat dari tulisan dan blog yang sedang Anda baca ini. Mengajak kita melihat dari sudut pandang yang lain, dari pojok ruang waktu. Mengintip dari lubang kecil pintu kebesaran Tuhan.

Baik. Tulisan ini akan bercerita tanpa struktur yang jelas, bisa saja lompat dari satu pembahasan ke pembahasan yang lainnya. Sebab memang ditulis tanpa banyak persiapan. Hanya ditulis dalam satu malam, sembari menyiapkan diri untuk kesalahan penyebutan tahun "2024", alih-alih "2025", dalam seminggu ke depan.

Pernahkah Anda menanyakan ulang definisi "kegagalan" dan "kesuksesan"? Apakah ada sedikit gelitikan ketika membaca pembukaan tulisan ini? Apakah yang menjadi sukses itu hanyalah mereka yang kaya dan bahagia? Tapi memangnya apa dan bagaimana yang disebut dengan "kaya" dan "bahagia" itu?

Dalam tulisan ini, pertama-pertama kita akan menggunakan pemahaman yang umum atas kegagalan dan kesuksesan. Yakni, kalau berhasil mencapai suatu tujuan, ya itu disebut sukses. Kalau tidak, berarti gagal. Sampai sini, semoga kita masih sepemikiran, satu frekuensi. Karena memang itulah konstruksi berpikir yang ingin dibangun.

Saat menyebut "manusia-manusia gagal", otak kita seharusnya akan memikirkan mereka yang belum atau tidak atau sejak awal sama sekali tidak ditakdirkan untuk meraih apa yang dicita-citakan, apa yang diimpikan, apa yang diharapkan. Sebab dasar itulah, kita menyebutkan "gagal".

Hikmah pertama yaitu tentang calon pemimpin gagal. (Saya tidak ingin menuliskan capres gagal, sungguh).

Ketika negeri ini memiliki satu calon, atau mungkin dua, atau mungkin banyak calon, yang menawarkan keadilan, kesetaraan. Namun, harapan dan asa itu hanya tetap menjadi harapan dan asa. Nilai itu gagal. Meskipun sebenarnya yang gagal bukan sang calon, melainkan negeri ini.

Pun sang calon juga pernah mengatakan, jika beliau terpilih, maka Allah ijinkan. Tapi jika tidak, Allah menyelamatkannya. Berarti sepertinya manusia gagal satu itu tidak benar-benar gagal. Bisa jadi dengan tidak terpilihnya beliau, ia telah sukses untuk menghindari mara bahaya.

Hal yang sama juga pasti sering kita alami. Apa yang kita pikir suatu kegagalan, karena tidak terpilih menjadi ini dan itu. Ternyata menyelamatkan kita, jiwa kita, pikiran kita, mental kita, akal sehat kita. Contohnya ketika tidak terpilih menjadi perwakilan perusahaan dalam ajang internasional. Atau saat promosi tidak kunjung diberikan. Yang ternyata menyelamatkan keluarga kita dari berbagai fitnah.

 Dua belas bulan berlalu tentunya tidak selalu hitam, tidak selalu putih, pasti abu-abu, harapannya sih warna-warni. Inilah pengantar ke hikmah kedua. Tadi masih membahas tentang "calon", sekarang langsung membahas tentang pemimpin yang gagal.

Apakah presiden gagal? Apakah gubernur gagal? Apakah walikota, bupati gagal? Apakah camat gagal? Apakah lurah, kepala desa gagal? Apakah ketua RW gagal? Apakah ketua RT gagal? Apakah kita, sebagai pemimpin di kantor, pemimpin keluarga, pemimpin bagi diri sendiri telah gagal?

Kita telah banyak mewarnai hari-hari. Kita sebagai diri sendiri, perlu banyak bercermin. Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya, rakyat adalah cerminan dari pemimpinnya. Jadi mungkin saja ketika pemimpin yang kita nilai gagal, hanya sebuah refleksi atau pantulan dari diri kita yang gagal. Gagal memberikan saran & masukan. Gagal melaksanakan fungsi check & balance. Gagal dalam fungsi controlling.

Kuas-kuas yang kita pegang, gagal untuk menyumbang goresan warna yang indah. Padahal sejak awal sudah sepakat lukisan itu diselesaikan dengan kolaborasi.

Berbicara mengenai kepemimpinan, memang tak ada habisnya. Apalagi jika disangkutpautkan dengan keberhasilan, kesuksesan, kegagalan. Belum lagi berbicara tentang multiple effect, domino effect, atau bahkan butterfly effect!

Yang terpenting, di tahun 2025 nanti kita tidak salah lagi dalam memilih pemimpin. Dan tidak gagal lagi untuk menjadi pemimpin. (Seperti yang saat ini saya rasakan) Hal paling utama, kita kembali menjadi manusia, yang penuh awas dan kepekaan. Bukankah cermin akan memantulkan bayang apapun yang muncul di depannya? Jadi apabila otak kita, hati, pikiran, nurani bersih dan mengkilap, pasti kita bisa membedakan mana pemimpin yang akan sukses dan gagal. Dalam membimbing kita kembali kepada Rabbal 'alamin. Ya, walaupun jalannya bermacam-macam.

Bagi kita yang di kantor diamanahi sebagai seorang pemimpin, koordinator, manager, team lead, atau apa pun sebutannya, pasti banyak merasa gagal. Atas kejadian-kejadian yang terjadi. Peristiwa yang membuat kita bingung, sebenarnya bisa kita kontrol atau tidak. Atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh tim kita. Orang-orang yang membuat kita bingung, sebenarnya pesan kita sudah sampai atau belum kepada mereka.

Perasaan gagal itu, oleh Tuhan pasti sudah didesain sedemikian rupa supaya kita bisa kembali kepada-Nya, kembali mengingat-Nya. Sehingga perlahan hikmah, satu per satu, muncul. Itulah yang terpenting. Hikmah. Menjadikan manusia-manusia gagal seperti kita akan menjadi "manusia" sesungguhnya. Seutuhnya.

Sayangnya, perasaan gagal itu tidak hanya menghampiri para pemimpin. Perasaan yang tiba-tiba muncul ketika kita sedang sendiri. Sebagai pribadi pun kita sempat "dikaruniai" kegagalan. Inilah hikmah ketiga.

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi anak yang gagal. Karena tidak bisa sepenuhnya membahagiakan orang tua, contohnya: (yang terparah) saat usia 30 tahun tapi belum bisa memenuhi ekspektasi keduanya, supaya kita bisa segera menikah. Padahal di luar sana, banyak orang yang berhasil dan sukses dalam pernikahan. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Apakah ekspektasi kita yang terlalu tinggi?

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi kakak yang gagal. Karena tidak bisa seutuhnya sebagai tempat curhat adik-adik kita. Pundak kita yang tidak pernah menjadi sandaran mereka. Bahkan ada kalanya, komunikasi kita dengan adik yang tidak seperti keluarga lainnya. Hanya pragmatis. Tidak bisa berbasa-basi. Sementara itu, banyak kakak-adik yang harmonis, tumbuh bersama untuk bisa saling mendukung. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Apakah trauma masa kecil yang memengaruhi hubungan tersebut?

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi teman dan sahabat yang gagal. Ada berapa teman atau sahabat yang kita miliki? Apakah satu per satu kita sudah kehilangan komunikasi dengan mereka semua yang dulunya mesra, dulunya akrab, konco kenthel? Seberapa kecil circle pertemanan kita sekarang? Apakah karena kita gagal untuk menjaga perasaan dan hubungan yang baik? Apakah kita sebrengsek itu, sehingga kita tidak sudi lagi untuk menghubungi mereka? Padahal dulu sering sekali mengunjungi rumah, ketika kita pulang kampung.

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi warga negara yang gagal. Bangsa yang gagal. Anggota masyarakat yang gagal. Tidak bisa memberikan kontribusi apa pun. Padahal, sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain. Apakah memang kepemimpinan nasional yang juga "gagal", yang membatasi kita untuk bisa sukses menjadi warga negara, bangsa, anggota masyarakat? Berarti kembali lagi karena kita gagal memilih pemimpin yang benar? Tentu semuanya berkelindan.

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi hamba yang gagal. Karena tidak bisa secara kaffah menjalankan ibadah, mengikuti perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, menjalankan amar makruf nahi munkar, menjadi khalifah fil ard, menyembah sujud hanya kepada Tuhan yang Esa. Gagal total. 

Tidak perlu khawatir. Tak usah risau. Tuhan Maha penerima tobat. Maha pengampun. Maha membolakbalik hati. Maha pengabul doa. Sampai detik ketika menulis, membaca, dan merenungi tulisan ini, kegagalan-kegagalan tersebut bisa saja akan diganti, diputar 360 derajat, menjadi kesuksesan. Aamiin.

Waktu itu seperti pedang, apabila tak pandai menggunakannya, kita yang akan ditebas. Waktu dan kesempatan di 2025 yang akan kita hadapi esok hari, serta pemahaman akan rahmat-Nya yang begitu luas memenuhi alam semesta ini, semoga menjadikan kita manusia-manusia yang gagal dalam kemaksiatan. Gagal dalam menimbun dosa. Gagal dalam terjerumus ke dalam apa-apa yang membuat Tuhan tidak rido dan murka.

Atau kalau sejak awal, Anda tidak punya niatan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, bisa disumbangkan kepada orang-orang yang amat sangat membutuhkan waktu ekstra. Bagi mereka yang datang ke kantor sebelum jam setengah 7 dan pulang selepas maghrib. Karena begitu banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Bagi mereka yang berusaha untuk tidur 7 jam, semata-mata agar bisa bangun pagi untuk lari (atau jogging) demi jantungnya yang lemah.

Namun, bagaimana pun, semua ini, keputusan ada di tangan masing-masing. Mau menjadi manusia gagal yang seperti apa?

Manusia adalah makhluk dinamis. Hatinya begitu mudah berubah-ubah. Ia seperti wadah yang siap menerima hidayah dari Tuhan. Di satu waktu menjadi tempat sampah tipu daya iblis!

Akhirnya, kegagalan satu, dua, tiga, beribu-ribu kegagalan akan mengantarkan kita kepada kesuksesan untuk bisa bertemu dengan-Nya. Dengan catatan, dari semua kegagalan itu, selangkah demi selangkah kita menjadi semakin bijaksana.

Berlari Lebih Kencang

Kata-kata "Semangat Perubahan" dan "Berlari Lebih Kencang!!" tertulis di sebuah poster, terletak di atas salah satu meja kantor. Tulisan karya saya itu beresonansi di dalam kepala pada suatu sore, ketika ruangan Fungsi kembali sunyi. Ia membawa pikiran ini merefleksi 6 bulan ke belakang. Paruh kedua tahun 2024.

Perubahan-perubahan yang terjadi: tidak tidur lagi setelah salat subuh; membaca buku dan berlari setelahnya; berangkat ke kantor sebelum pukul 6 tiap paginya. Hidup menjadi lebih sehat, menjadi lebih produktif, dan lebih dipenuhi rasa syukur. (Bahkan berat badan turun lebih dari 10 kilogram!)

Apakah terjadi karena efek tulisan poster itu? Poster yang sudah terpampang dari Agustus 2023, dengan jargon "semangat perubahan"? Ataukah tulisan itu hanya sebentuk resonansi atau refleksi atau cermin, alih-alih motivasi? Ah, yang pasti, sebenarnya, ada beberapa alasan yang menjadikan gaya hidup berubah. Atau demikianlah yang saya rasakan. Bolehkah saya sedikit bercerita?

Jumat, 14 Juni 2024. Dari Stasiun Gambir, di dalam Kereta Pandalungan kami bertemu. Duduk bersebelahan di gerbong 7 kursi ke-12. Saya yang melamun, bertanya bagaimana kabar kedua orang tua yang sedang melaksanakan ibadah haji. Dia, seorang perempuan yang memulai pembicaraan dengan meminta ijin memasang pengisi daya telepon genggam, mengangguk, lalu meneruskan persiapannya. Merapikan tas, mengeluarkan kudapan, lalu dua buku bacaan. Benda terakhir yang ia keluarkan dari dalam tas, terus dimasukkan ke dalam kantong kursi kereta itu, sungguh membuat saya terkesima. Tak bisa menahan diri untuk tidak melanjutkan obrolan.

"Biasanya kursi nomor 12 ini ada di barisan depan," kataku berbasa-basi. Ia mungkin kaget dengan topik pembicaraan yang saya mulai. Namun, itulah awal mula bagaimana kami berkenalan. Dan bukan satu-satunya hal menarik yang saya rasakan. Dan syukuri. Sedikit sesali. Sampai hari ini.

Di dalam kereta malam itu, sebelum kami menyebutkan nama masing-masing, dia menanyakan lokasi kerja. Saya yang tidak biasanya mengobrol dengan orang asing di sepanjang perjalanan, menjawab tanpa menyebutkan nama perusahaan. Hanya menyampaikan nama jalan lokasi kantor berada. Mencoba memberikan teka-teki. Jalan TB Simatupang, sebutku. Lalu perempuan berjilbab itu coba menebak beberapa nama perusahaan. Tapi kemudian saya timpali pertanyaan serupa, menanyakan di mana tempat kerjanya. Ia menjawab "kantor seberang Gambir".

"Seberang Gambir?" tanya saya. "Perta****?" Entah mengapa nama itu yang langsung muncul. Ia pun mengangguk. Perasaan aneh entah apa tiba-tiba datang. Saya melanjutkan, "Gak nyangka ketemu orang Perta**** juga di dalam kereta. Mbaknya Fungsi apa?"

Kereta Pandalungan, yang nantinya akan dipaksa mendengarkan obrolan kami itu, melesat menembus malam. Kelas eksekutif yang beberapa kali menjadi pilihan untuk pulang. Kereta yang sempat saya putuskan tidak akan dinaiki lagi, karena apa yang akan saya ceritakan ini.

Setelah bertukar informasi tentang Fungsi tempat kami bekerja, kebekuan mencair. Percakapan menjadi sedikit lebih akrab. Obrolan berlanjut ke basa-basi lainnya. Tentang beberapa nama orang yang mungkin saja saya kenal. Tentang di mana kami berkuliah dulu, apa alasan bekerja di perusahaan ini. Tentang berapa lama kami akan berada di rumah sebelum kembali ke perantauan. Dan topik-topik pembicaraan yang terbagi dalam beberapa segmen. Sebab, bolak-balik ia harus ke gerbong restorasi kereta guna melanjutkan pekerjaannya atau bertemu dengan seorang teman lama.

Sambil menunggunya, saya melanjutkan untuk membaca buku. Dua buku cetakan, yaitu tentang agama buddha dan satunya, tentang 7 hari di alam kubur serta e-book dari Google Playstore (buku karangan Cak Nun, seperti biasa).

 “You can search throughout the entire universe for someone who is more deserving of your love and affection than you are yourself, and that person is not to be found anywhere.” 
– Buddha

Apabila sebuah motivasi boleh berbentuk sesosok manusia, maka perempuan itulah salah satunya. Begini: perjalanan selama lebih dari 8 jam, dari Jakarta ke Cepu (tujuan dia pulang) itu memberikan sejumlah gagasan, sembari merasakan doa-doa orang tua dari tanah suci memenuhi udara di sekeliling.

Gagasan pertama. Selepas wanita berkacamata itu kembali dari restorasi dan duduk di kursi, fokus saya terganggu. Saya biasanya cukup abai dan lebih memilih asyik dengan buku yang dibaca, kali ini sangat mengharapkan berjalannya sebuah imajinasi, skenario yang sedari tadi tercipta.

Ingat dua buku yang dimasukkan ke kantong kursi, yang tertulis di paragraf awal? Saya membayangkan, di dalam gerbong yang tenang dan syahdu, kami berdua bersama-sama membaca buku. Terbius dengan tulisan-tulisan. Terserap ke dalam cerita yang kami baca. Bersandingan.

Pasti akan menarik sekali!

Sesuai harapan, momen yang ditunggu-tunggu pun terjadi. Saya jarang melihat orang lain membaca buku selama di dalam kereta. Kebanyakan, orang-orang menghabiskan waktu dengan ponsel pintarnya. Namun, kali ini berbeda! Wanita itu menemani saya membaca buku.

Membaca buku sendiri itu seru, sampai kita bingung mau menceritakan isi buku kepada siapa. Hingga akhir tahun 2024, saya telah membaca 85 buku. Delapan puluh lima. Dan tidak pernah mendiskusikan buku-buku itu dengan siapa pun. Sebelum atau setelah perjumpaan tersebut. Buku-buku yang nantinya setiap pagi saya baca (baik di kamar indekos sebelum berangkat kerja, maupun di meja kantor mengawali hari). Serta buku-buku yang mengawani perjalanan, seperti saat bersanding perempuan itu. 

Ternyata, memiliki teman pulang yang sama-sama gemar membaca buku itu menyenangkan. Hal yang juga kami gunakan sebagai bahan obrolan. Ia mengakui baru suka baca buku setahun belakangan, dan tipikal yang mageran. Tidak se-kutu-buku itu, istilah yang ia pakai beberapa bulan kemudian di direct message Instagram, demi menolak "gagasan" saya secara halus.

Gagasan yang sebenarnya sudah lama saya punya, tetapi sudah lama pula ia terkubur. Akibat perjumpaan di dalam kereta itu. Mengharapkan menua bersama seorang teman penggila buku.

Gagasan kedua. Tidak ada tempat yang lebih mustajab, untuk dikabulkannya doa-doa, selain di tanah suci. Di sana, diyakini doa tidak akan ditolak oleh Allah subhanahu wata'ala. Dalam lamunan di kereta itulah, saya memikirkan kemungkinan-kemungkinan isi dari doa yang dilantunkan kedua orang tua. Satu dari ribuan kemungkinan yang membawa saya dan perempuan itu, kami berdua duduk bersebelahan di baris ke-12 kereta malam. "Dipertemukan" oleh buku dan perusahaan yang sama.

"Kebetulan aja itu, Mas," ia masih teguh mengatakan, ketika saya memulai obrolan kembali via direct message, saat menyampaikan ulang gagasan itu bersamaan dengan ucapan "HBD" selang seminggu dari hari ulang tahunnya di bulan Desember. Tidak masalah. Jikalau ternyata memang kebetulan, pertemuan itu adalah kebetulan paling manis. The sweetest coincidence.

Jadi, saya membayangkan doa yang disampaikan Ayah-Ibu di Mekah, agar anak sulungnya bisa hidup lebih sehat (seperti pembukaan tulisan ini). Tidur lagi setelah salat subuh, merupakan kebiasaan buruk yang saya mulai dari jaman mahasiswa baru. Sehingga butuh perjuangan ekstra untuk mengubahnya, menghentikannya. Butuh banyak motivasi dan alasan kuat dan kegiatan pengganti, supaya tidak beranjak lagi ke atas tempat tidur.

Tak lama setelah pertemuan dengan perempuan itu, setelah ia mengucapkan "Have a safe trip, Mas!" dan turun di Stasiun Cepu, ide itu tiba. Saya ingin menyambung pertemuan. Menangkap umpan yang diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala. Singkat cerita, kami saling berkomunikasi via Instagram. Itulah awalan dari cerita yang kita tahu bagaimana akhirnya. Namun, hal terpenting adalah apa yang ingin saya sampaikan. Hikmah dari pertemuan itu.

Dari Instagramnya saya bisa menyimpulkan, bahwa perempuan itu orang yang cukup sehat, fit. Hobinya mendaki gunung, berpetualang ke alam terbuka, mentadaburi ciptaan-Nya secara langsung di hamparan bumi. Berbeda dengan saya, seorang pria dewasa yang masih terjebak dalam hidup gini-gini aja. Pria obesitas yang mageran. Hanya bisa menjelajahi dunia lewat buku-buku yang dibaca.

Meskipun saya menganggap dialah pecutan untuk bisa hidup lebih bugar, lebih rajin berolahraga, khususnya lari. Tetapi saya tidak bisa benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri saya di rentang bulan Agustus-Desember 2024 ini. Apa yang menyebabkan hampir tiap pagi bergegas memakai celana training dan sepatu lari setelah salat subuh. Dan ketika penolakan perempuan itu pun, di suatu sore, alih-alih dipenuhi oleh kesedihan, saya memilih untuk berlari ke Jalan Sudirman.

Sehingga, tidak ada alasan yang paling masuk akal, kecuali Allah-lah yang menggerakkan hati dan pikiran dan jiwa dan raga saya, untuk bisa hidup lebih sehat. Sehat jasmani dan rohani. Berkat doa orang tua.

Alasan religius itu pula yang selalu saya sebutkan, saat orang-orang (teman-teman dan rekan kerja) yang menanyakan mengapa saya tampak begitu kurus, terjadi perubahan sangat drastis. Yaitu karena Allah subhanahu wata'ala. Dia yang pasti menggerakkan saya dan perempuan itu memilih kursi nomor 12 A-B. Dia-lah yang memberikan ide supaya buku-buku itu terselip di dalam tas ransel kami, yang bertugas sebagai jeda antara dua obrolan. Dengan tujuan, perempuan itu menginspirasi saya.

Berikutnya, di dalam pekerjaan, saya juga menyadari dan pernah membayangkan, bahwa saya harus menjadi contoh yang baik bagi seluruh anggota tim. Harus datang ke kantor paling pagi dan pulang lebih sore daripada yang lainnya. Serta harus memiliki waktu yang lebih banyak untuk bisa lebih produktif, apalagi setelah saya hanya sendiri sebagai team lead. Sehingga, Allah yang Maha Baik itu menyiapkan serangkaian skenario. Mulai dari orang tua haji, pertemuan di kereta, sampai lari tiap pagi. Baik saat merasa kasmaran maupun ketika patah hati.

... Dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”
– HR. Bukhari

Lalu, apakah ini semua hanya kebetulan? Seperti yang terus menerus disampaikan oleh wanita itu. Mungkin untuk satu hal, yaitu gagasan untuk bisa bersanding dengannya di sisa umur, pertemuan itu hanyalah sebuah kebetulan. Sama-sama membaca buku dan sama-sama berkantor di perusahaan yang sama (walaupun saya holding dan dia subholding). Semua itu kebetulan belaka.

Namun, untuk alasan mengapa saya menjadi lebih sehat dan rajin lari pagi, hingga membakar belasan kilogram berat badan, tidak mungkin sebuah kebetulan. Itu semua adalah suratan takdir. Saya meyakininya. Dan harus disyukuri, karena awal usia 30 tahun itu saya bisa membuka banyak kemungkinan. Potensi. Hal-hal baik tentunya akan mengikuti. Karya-karya yang menunggu untuk diciptakan. Mengisi hari-hari sebelum ajal menjemput.

Perempuan itu bisa jadi hanyalah sebuah khayalan, yang saya ciptakan sebagai dorongan untuk menjadi pribadi lebih baik. Tidak lebih dari metafora belaka untuk melengkapi hikmah hidup. Yang mengharuskan saya berlari lebih kencang untuk mengejar banyak ketertinggalan. Tentunya selama jantung lemah ini masih bertahan. Untuk mengimbangi larinya atau untuk menyandingnya ketika ia mendaki gunung, mencapai puncak, menggapai angkasa.

Namun, bagaimanapun, (bagi sebagian orang) hidup saya masih seperti jalan di tempat, bukannya lari seperti yang setiap pagi saya lakukan.

“Hidup itu lari sprint atau lari maraton?” tanya Cak Nun.

"Kalau sprint, berarti kamu harus cepat, tapi akan cepat juga habis energimu. Kalau maraton, kamu harus sabar, mengatur napas, dan tahu kapan harus melambat untuk bertahan lebih lama."