Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia tempat semua orang dapat berpikir menggunakan akal sehatnya? Ketika tidak ada orang, meskipun mengaku menggunakan logika, yang terjebak di dalam kesalahan berpikir, logical fallacies, atau berbagai macam bias? Betapa mudahnya sebuah ide disampaikan, didiskusikan, didebat, diperinci, dihantam sana-sini, bahkan dipreteli, tanpa menghilangkan sedikit pun esensi dan kemurniannya sehingga ide dan gagasan menjadi matang untuk dijalankan.
Setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri, dalam waktu yang bersamaan juga dapat menjadi orang yang diajak berbicara, karena saking nyambungnya pikiran di antara mereka. Setiap orang dapat menyampaikan argumentasinya dengan amat sangat logis dan dapat dibenarkan. Mulai dari apa yang melatarbelakangi ide itu dibuat, sampai bagaimana hasil (outcome) --tidak hanya keluaran (output) dari program tersebut. Semua usulan (entah itu improvement, enhancement, tambahan, standardisasi, atau bahkan sampai tetek bengek) didasari oleh kebutuhan-kebutuhan nyata, tidak berangkat dari berbagai asumsi (yang bisa jadi malah liar). Tidak berasal dari bias informasi. Tidak bersumber dari ego sekadar ingin melakukan "perbaikan".
Pemahaman konteks yang lemah, penguasaan istilah (terminologi) yang tidak maksimal, dan perbedaan tingkat kecerdasan juga memiliki andil dalam menyiptakan kondisi antitesis prolog tulisan ini. Namun, terlepas dari adanya gap dari tiga parameter tersebut pada orang-orang yang saling mendiskusikan gagasan, hal paling dasar adalah penggunaan akal yang sehat.
Konteks dapat didalami dengan bertanya. Terminologi bisa digali dari bahasa lain (atau menggunakan analogi). Tingkat kecerdasan dapat dimaklumi (sebab butuh upaya lebih untuk menyamakannya). Namun, apabila tidak menggunakan akal sehat, sebagai fondasi, maka silang pendapat tidak akan berjalan dengan lancar. Lebih buruk lagi, hanya menghasilkan riak-riak yang terabaikan, bunyi-bunyian tong kosong, keriuhan urat-urat leher, sehingga ide yang semula diniatkan baik, akhirnya jauh panggang dari api.
Tapi apakah cukup hanya berbekal penggunaan akal sehat? Dan apakah diperlukan sebuah konsensus untuk itu? Guna menuju dunia utopia seperti yang saya tuliskan di atas, mungkin kita perlu melakukan sebuah pendekatan. Gagasan yang ingin diuraikan tulisan ini adalah integrasi akal sehat. Sebuah usaha untuk mendamaikan pikiran yang bergemuruh atas kejadian-kejadian yang tak semestinya terjadi.
Integritas dan Integralistik
Istilah "integrasi" seringkali digunakan untuk menggambarkan sebuah kemajuan teknologi pada suatu sistem. Tak jarang juga sebagai bukti bahwa adanya peningkatan kualitas. Katakanlah, contohnya sistem pengadaan yang terintegrasi, sistem penanganan pelanggan yang terintegrasi, sistem kamera pemantau yang terintegrasi. Semuanya berhubungan dengan teknologi komunikasi dan informasi dan teknologi digital. Padahal sebelumnya telah ada irigasi yang terintegrasi, telepon yang terintegrasi, dan sistem lain yang sederhana tanpa ada embel-embel digital. Maka dengan hal tersebut, istilah "integrasi" tidak melulu menjadi sebuah kebanggaan dalam suatu proses, tetapi hanya mengubah posisi yang sebelumnya tidak standar, menjadi standar. Yang sebelumnya tidak tersambung, menjadi tersambung. Dan harus dipastikan saat membawa konsep integrasi, keuntungan-keuntungan baru mengikuti, bukannya malah kerugian-kerugian yang muncul.
Menurut hemat saya, untuk memastikan suatu sistem yang terintegrasi dapat menghasilkan manfaat yang maksimal, setidaknya diperlukan 2 hal. Sebuah sikap, yang istilahnya juga memiliki kedekatan akar kata dengan integrasi, yaitu integritas dan integralistik. Integrasi, integritas, dan integralistik memiliki akar kata yang sama, yaitu integer, yang berarti bulat atau utuh.
Secara lebih detail, menurut KBBI integritas berarti mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Ketika kita membaca tesaurus, kata integritas terdapat pada satu kelas kata dengan "kepaduan" dan "keutuhan", mungkin saja kita sering menggunakan kata integritas untuk menggambarkan sosok orang yang berdedikasi tinggi, jujur, dan amanah. Dan itu tidak salah, karena integritas juga memiliki sinonim kata yang luhur pada kelompok kata "moral" dan "kejujuran".
Sikap berintegritas menjadi sangat penting dalam pelaksanaan suatu integrasi, karena akan menjadi kompas moral dan penjaga niat awal. Pelaksanaan integrasi membutuhkan tenaga dan biaya yang cukup besar. Belum lagi adanya pengorbanan yang timbul. Kejujuran pada diri sendiri menjadi bekal untuk dapat memastikan bahwa integrasi itu menjadi hal yang memang harus diperjuangkan. Karena kebermanfaatannya.
Selanjutnya, bagian terpenting dari integrasi adalah semangat integralistik. Pertama kali saya berkenalan dengan kata ini sewaktu masih mahasiswa. Bagaimana kata-kata itu dijejalkan kepada kami, para mahasiswa baru, oleh kakak-kakak kelas (atau senior), untuk menggambarkan sebuah kondisi ideal dari keluarga besar mahasiswa. Kesatuan dan keutuhan para mahasiswa, apapun latar belakang program studi (prodi), jurusan, bahkan suku atau daerah. Mengapa hal itu penting? Jawaban yang saya dapatkan. Karena mahasiswa dituntut untuk bisa menjadi miniatur bangsa Indonesia. Implementasi sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia.
Selain itu, integralistik juga akan menjadi tools yang tentunya akan bermanfaat bagi para mahasiswa dalam menghadapi berbagai permasalahan di kampus. Karena dari integralistik akan timbul rasa kekeluargaan, gotong royong dan tepa selira. Manfaatnya pun tidak hanya dirasakan ketika menempuh perkuliahan tetapi juga setelah menjadi alumni. Dalam beberapa hal, integralistik memiliki lebih banyak benefit daripada mudharat.
Sehingga, sikap integralistik juga seharusnya dapat dijaminkan supaya bisa dimiliki oleh semua orang yang terlibat dalam proses integrasi. Katakanlah, sebagai contoh, integrasi penanganan kendala sistem. Sebelum adanya integrasi, penanganan kendala masih terdistribusi, tidak terpusat. Tidak ada semacam alur komunikasi baku bagaimana hubungan antara kendala, permasalahan (termasuk root cause), dan cara menyelesaikan kendala tersebut. Peran sikap integralistik akan membawa solusi yang utuh dan komprehensif, karena semua orang yang terlibat merasakan permasalahan yang sama. Tidak silo, meskipun memiliki KPI (key performance index) masing-masing.
Dua sikap tersebut (integritas dan integralistik) akan memunculkan akal dua jengkal. Perasaan sama dengan orang lain. Perasaan untuk sama-sama memastikan sebuah sistem yang terintegrasi dapat memberi manfaat yang lebih. Perasaan dengan pemikiran khoirunnas anfa'uhum linnas. Bukannya, dengan gagasan integrasi, timbul akal sejengkal, merasa diri lebih dari orang lain. Egois. Egosentris.
Harapannya, sifat dan sikap integritas dan integralistik juga kelak melahirkan seorang integrasionis hebat. Seseorang yang dapat menjadi integrator bagi sistem yang terpecah-pecah, orang-orang yang terpisah-pisah seperti kepingan puzzel, lego, yang "hanya" menunggu untuk disatupadukan dalam suatu kesisteman terintegrasi. Memunculkan sebuah "dunia" yang harmonis karena sudah terintegrasi. Bukankah itu definisi dari integrated versi dictionary.com? Yaitu combining or coordinating separate elements so as to provide a harmonious, interrelated whole. Menggabungkan atau mengkoordinasikan unsur-unsur yang terpisah sehingga menghasilkan suatu kesatuan yang harmonis dan saling berkaitan. Kata kuncinya adalah harmonis. Sangat disesalkan apabila proses integrasi suatu sistem malah memecah-belah.
Hatta kita telah selesai meneguk hikmah dari kata integrasi, integrasi, dan integralistik. Tiga kata jargon yang akan mengawal kita ke dalam pembahasan "integrasi akal sehat".
Integrasi Akal Sehat
Sehingga, maksud dari integrasi akal sehat adalah pertama, memastikan bahwa semua peserta diskusi (hendaknya, patut, harus, wajib!) menggunakan akal sehat. Pikiran yang baik dan normal. Memaksa pikiran untuk bisa berfokus, secara sadar dalam tukar pendapat. Tidak terdistraksi dengan hal yang lain. Apalagi sembari mengerjakan pekerjaan lainnya (multitasking). Selain tidak sopan, tentunya akal kita bisa menjadi tidak "utuh".
Kedua, memahami secara terperinci apa yang sebenarnya ingin dibahas, tujuan yang hendak dicapai, dan dasar mengapa pembahasan itu harus dilaksanakan. Amat sangat disayangkan ketika orang-orang yang sudah meluangkan waktu untuk berdiskusi, nyatanya tidak mengeluarkan pendapat sama sekali. Bukannya mereka tidak mampu, melainkan sejak awal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya didiskusikan.
Hal tersebut juga mencegah adanya sebuah fenomena yang bernama "groupthink", ketika semua orang di dalam grup diskusi seakan-akan menyepakati bersama, membuat konsensus. Padahal sebetulnya hanya tidak mau berpendapat, mungkin karena malas, abai, atau tidak paham. Grup diskusi yang semula bertujuan mendapatkan hasil terbaik, malah menghasilkan keluaran yang bukan maksimal. Apa adanya.
Ketiga, menggunakan data dan informasi yang mendukung, supaya benar-benar dapat menjadikan diskusi hidup dan produktif. Tidak berdasarkan asumsi-asumsi. Pun kita juga mengenal istilah integritas data (data integrity). Sifat dari data menunjukkan jika data-data itu benar, akurat, konsisten, lengkap, utuh. Hal ini akan menyingkap fakta, yang membuat kita akan merasa yaqin. Mulai dari ilmu yaqin, 'ainul yaqin, dan sampai pada tahap haqqul yaqin.
Sebab akal akar berpulas tak patah. Mereka yang sudah pandai tidak mudah kalah dalam perbantahan. Sebagaimana cita-cita yang disebutkan di awal, sebuah ide seharusnya disampaikan, didiskusikan, didebat, diperinci, dihantam sana-sini, bahkan dipreteli, sekecil-kecilnya. Kalau memang semua anggota bisa beradu argumen secara sadar, mengetahui tujuan diskusi, dan berbasis data, ide yang awalnya berbentuk tunas bisa menjadi tanaman berbuah lezat.
Poin terakhir, perlu mengintegrasikan akal sehat dengan integritas dan integralistik. Seperti pembahasan sebelumnya. Integrasi akal sehat dengan 2 sifat tersebut membuahkan keutuhan yang harmonis. Integrasi yang terintegrasi. Orang-orangnya, sistemnya, prosesnya.
Bagaimana seseorang yang menyampaikan gagasan, tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga perbuatan. Sebab gagasannya sudah terintegrasi dengan alam sadarnya. Dan apabila ia beranggapan bahwa gagasan itu memang baik, ia akan menyiapkan segala sesuatunya, sebagai bekal untuk berdiskusi.
Lalu, sistem yang didasari oleh integrasi akal sehat akan berjalan secara komprehensif, sebab sistem tersebut dibuat memang berawal dari tujuan (mulia) yang ingin dicapai. Dan proses yang mengaplikasikan integrasi akal sehat juga menyiratkan sebuah proses bagaimana tubuh ini bekerja. Suatu kesempurnaan karya agung dari Tuhan, Allah subhanahu wata'ala.
Meminjam terminologi Al Quran, orang-orang yang sudah terintegrasi akal sehatnya, seperti seorang ulul albab. Memahami esensi dari sebuah ilmu pengetahuan. Mengintegrasikan semuanya, pikiran, perasaan, daya pikir, tilikan, pemahaman, kebijaksanaan, dengan kedekatan kepada Tuhan. Sebab ia berpikir dan "berzikir". Ikhlas dan ikhtiar. Sabar dan syukur.
Akal, Akil, Akel
Semua orang yang berintegrasi harus memiliki niat baik, tekad baik, dan perbuatan baik; untuk mencapai cita-cita, dengan harus berpikir, berkiat, dan bertenaga kuat.
Perlu diingat juga bahwa akal tak sekali tiba. Tak ada suatu usaha yang sekali terus jadi dan sempurna. Harus selalu kontinu mengikhtiari diri.
Selamat berjuang, orang-orang yang memiliki ide dan akal sehat! Syukuri nikmat terbesar yang Tuhan berikan kepada kita tersebut.