Selasa, 31 Desember 2024

Manusia-manusia Gagal

 Tiga ratus enam puluh enam hari sudah kita lewati. Banyak sekali kisah sukses yang kita baca, dengarkan, harapkan supaya kisah-kisah itu menjadi bagian dari hidup kita. Cerita kesuksesan manusia, dengan pekerjaan mereka, bisnis, hubungan percintaan, pendidikan, pertemanan, atau dalam hal lainnya. 

Kebanyakan dari kita amat menyukai, bahkan menikmati berbagai pengalaman sukses seperti itu. Biografi orang-orang sukses laris manis. Seminar-seminar motivasi jualan kesuksesan penuh sesak. Linimasa, reels, FYP dijejali orang-orang kaya, bahagia, sukses. Kita sempatkan memberikan like dan love.

Karena, mungkin, yang ditulis dan dimunculkan itu ialah luaran yang berbau harum, semerbak, layaknya bunga. Semua yang terlihat indah, menawan, warna-warni. Memunculkan kekaguman. Sehingga kesuksesan merupakan hiasan dinding dan pameran dan pemandangan. 

Pengharapan atas kesuksesan menjadi sarapan, makan siang, dan makan malam kita. Angan-angan atas kesuksesan mengalir di dalam darah, sehingga amat candu.

Namun, tulisan ini bercerita tentang manusia-manusia gagal. Menjadi monumen bagi siapa saja yang gagal. Menghadirkan pigura untuk mereka yang gagal, secara lahir, batin; secara makna, konteks; secara implisit, eksplisit. Menjelma medali penghargaan atas ketabahan, kesialan, keikhlasan, kemuakan, kelemahlembutan, ketidakberdayaan, keterusterangan, kejujuran, ke-ke-an yang lainnya.

Manusia-manusia gagal seperti ditakdirkan untuk menjadi orang buangan. Yang kisahnya tidak perlu untuk diceritakan kepada khalayak ramai. Cukup ditutupi oleh kain kafan, atau bahkan daun pisang. Saking tidak layaknya untuk diketahui.

Padahal, dari merekalah kita bisa mendapatkan banyak pelajaran. Hikmah. Seperti semangat dari tulisan dan blog yang sedang Anda baca ini. Mengajak kita melihat dari sudut pandang yang lain, dari pojok ruang waktu. Mengintip dari lubang kecil pintu kebesaran Tuhan.

Baik. Tulisan ini akan bercerita tanpa struktur yang jelas, bisa saja lompat dari satu pembahasan ke pembahasan yang lainnya. Sebab memang ditulis tanpa banyak persiapan. Hanya ditulis dalam satu malam, sembari menyiapkan diri untuk kesalahan penyebutan tahun "2024", alih-alih "2025", dalam seminggu ke depan.

Pernahkah Anda menanyakan ulang definisi "kegagalan" dan "kesuksesan"? Apakah ada sedikit gelitikan ketika membaca pembukaan tulisan ini? Apakah yang menjadi sukses itu hanyalah mereka yang kaya dan bahagia? Tapi memangnya apa dan bagaimana yang disebut dengan "kaya" dan "bahagia" itu?

Dalam tulisan ini, pertama-pertama kita akan menggunakan pemahaman yang umum atas kegagalan dan kesuksesan. Yakni, kalau berhasil mencapai suatu tujuan, ya itu disebut sukses. Kalau tidak, berarti gagal. Sampai sini, semoga kita masih sepemikiran, satu frekuensi. Karena memang itulah konstruksi berpikir yang ingin dibangun.

Saat menyebut "manusia-manusia gagal", otak kita seharusnya akan memikirkan mereka yang belum atau tidak atau sejak awal sama sekali tidak ditakdirkan untuk meraih apa yang dicita-citakan, apa yang diimpikan, apa yang diharapkan. Sebab dasar itulah, kita menyebutkan "gagal".

Hikmah pertama yaitu tentang calon pemimpin gagal. (Saya tidak ingin menuliskan capres gagal, sungguh).

Ketika negeri ini memiliki satu calon, atau mungkin dua, atau mungkin banyak calon, yang menawarkan keadilan, kesetaraan. Namun, harapan dan asa itu hanya tetap menjadi harapan dan asa. Nilai itu gagal. Meskipun sebenarnya yang gagal bukan sang calon, melainkan negeri ini.

Pun sang calon juga pernah mengatakan, jika beliau terpilih, maka Allah ijinkan. Tapi jika tidak, Allah menyelamatkannya. Berarti sepertinya manusia gagal satu itu tidak benar-benar gagal. Bisa jadi dengan tidak terpilihnya beliau, ia telah sukses untuk menghindari mara bahaya.

Hal yang sama juga pasti sering kita alami. Apa yang kita pikir suatu kegagalan, karena tidak terpilih menjadi ini dan itu. Ternyata menyelamatkan kita, jiwa kita, pikiran kita, mental kita, akal sehat kita. Contohnya ketika tidak terpilih menjadi perwakilan perusahaan dalam ajang internasional. Atau saat promosi tidak kunjung diberikan. Yang ternyata menyelamatkan keluarga kita dari berbagai fitnah.

 Dua belas bulan berlalu tentunya tidak selalu hitam, tidak selalu putih, pasti abu-abu, harapannya sih warna-warni. Inilah pengantar ke hikmah kedua. Tadi masih membahas tentang "calon", sekarang langsung membahas tentang pemimpin yang gagal.

Apakah presiden gagal? Apakah gubernur gagal? Apakah walikota, bupati gagal? Apakah camat gagal? Apakah lurah, kepala desa gagal? Apakah ketua RW gagal? Apakah ketua RT gagal? Apakah kita, sebagai pemimpin di kantor, pemimpin keluarga, pemimpin bagi diri sendiri telah gagal?

Kita telah banyak mewarnai hari-hari. Kita sebagai diri sendiri, perlu banyak bercermin. Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya, rakyat adalah cerminan dari pemimpinnya. Jadi mungkin saja ketika pemimpin yang kita nilai gagal, hanya sebuah refleksi atau pantulan dari diri kita yang gagal. Gagal memberikan saran & masukan. Gagal melaksanakan fungsi check & balance. Gagal dalam fungsi controlling.

Kuas-kuas yang kita pegang, gagal untuk menyumbang goresan warna yang indah. Padahal sejak awal sudah sepakat lukisan itu diselesaikan dengan kolaborasi.

Berbicara mengenai kepemimpinan, memang tak ada habisnya. Apalagi jika disangkutpautkan dengan keberhasilan, kesuksesan, kegagalan. Belum lagi berbicara tentang multiple effect, domino effect, atau bahkan butterfly effect!

Yang terpenting, di tahun 2025 nanti kita tidak salah lagi dalam memilih pemimpin. Dan tidak gagal lagi untuk menjadi pemimpin. (Seperti yang saat ini saya rasakan) Hal paling utama, kita kembali menjadi manusia, yang penuh awas dan kepekaan. Bukankah cermin akan memantulkan bayang apapun yang muncul di depannya? Jadi apabila otak kita, hati, pikiran, nurani bersih dan mengkilap, pasti kita bisa membedakan mana pemimpin yang akan sukses dan gagal. Dalam membimbing kita kembali kepada Rabbal 'alamin. Ya, walaupun jalannya bermacam-macam.

Bagi kita yang di kantor diamanahi sebagai seorang pemimpin, koordinator, manager, team lead, atau apa pun sebutannya, pasti banyak merasa gagal. Atas kejadian-kejadian yang terjadi. Peristiwa yang membuat kita bingung, sebenarnya bisa kita kontrol atau tidak. Atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh tim kita. Orang-orang yang membuat kita bingung, sebenarnya pesan kita sudah sampai atau belum kepada mereka.

Perasaan gagal itu, oleh Tuhan pasti sudah didesain sedemikian rupa supaya kita bisa kembali kepada-Nya, kembali mengingat-Nya. Sehingga perlahan hikmah, satu per satu, muncul. Itulah yang terpenting. Hikmah. Menjadikan manusia-manusia gagal seperti kita akan menjadi "manusia" sesungguhnya. Seutuhnya.

Sayangnya, perasaan gagal itu tidak hanya menghampiri para pemimpin. Perasaan yang tiba-tiba muncul ketika kita sedang sendiri. Sebagai pribadi pun kita sempat "dikaruniai" kegagalan. Inilah hikmah ketiga.

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi anak yang gagal. Karena tidak bisa sepenuhnya membahagiakan orang tua, contohnya: (yang terparah) saat usia 30 tahun tapi belum bisa memenuhi ekspektasi keduanya, supaya kita bisa segera menikah. Padahal di luar sana, banyak orang yang berhasil dan sukses dalam pernikahan. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Apakah ekspektasi kita yang terlalu tinggi?

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi kakak yang gagal. Karena tidak bisa seutuhnya sebagai tempat curhat adik-adik kita. Pundak kita yang tidak pernah menjadi sandaran mereka. Bahkan ada kalanya, komunikasi kita dengan adik yang tidak seperti keluarga lainnya. Hanya pragmatis. Tidak bisa berbasa-basi. Sementara itu, banyak kakak-adik yang harmonis, tumbuh bersama untuk bisa saling mendukung. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Apakah trauma masa kecil yang memengaruhi hubungan tersebut?

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi teman dan sahabat yang gagal. Ada berapa teman atau sahabat yang kita miliki? Apakah satu per satu kita sudah kehilangan komunikasi dengan mereka semua yang dulunya mesra, dulunya akrab, konco kenthel? Seberapa kecil circle pertemanan kita sekarang? Apakah karena kita gagal untuk menjaga perasaan dan hubungan yang baik? Apakah kita sebrengsek itu, sehingga kita tidak sudi lagi untuk menghubungi mereka? Padahal dulu sering sekali mengunjungi rumah, ketika kita pulang kampung.

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi warga negara yang gagal. Bangsa yang gagal. Anggota masyarakat yang gagal. Tidak bisa memberikan kontribusi apa pun. Padahal, sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain. Apakah memang kepemimpinan nasional yang juga "gagal", yang membatasi kita untuk bisa sukses menjadi warga negara, bangsa, anggota masyarakat? Berarti kembali lagi karena kita gagal memilih pemimpin yang benar? Tentu semuanya berkelindan.

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi hamba yang gagal. Karena tidak bisa secara kaffah menjalankan ibadah, mengikuti perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, menjalankan amar makruf nahi munkar, menjadi khalifah fil ard, menyembah sujud hanya kepada Tuhan yang Esa. Gagal total. 

Tidak perlu khawatir. Tak usah risau. Tuhan Maha penerima tobat. Maha pengampun. Maha membolakbalik hati. Maha pengabul doa. Sampai detik ketika menulis, membaca, dan merenungi tulisan ini, kegagalan-kegagalan tersebut bisa saja akan diganti, diputar 360 derajat, menjadi kesuksesan. Aamiin.

Waktu itu seperti pedang, apabila tak pandai menggunakannya, kita yang akan ditebas. Waktu dan kesempatan di 2025 yang akan kita hadapi esok hari, serta pemahaman akan rahmat-Nya yang begitu luas memenuhi alam semesta ini, semoga menjadikan kita manusia-manusia yang gagal dalam kemaksiatan. Gagal dalam menimbun dosa. Gagal dalam terjerumus ke dalam apa-apa yang membuat Tuhan tidak rido dan murka.

Atau kalau sejak awal, Anda tidak punya niatan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, bisa disumbangkan kepada orang-orang yang amat sangat membutuhkan waktu ekstra. Bagi mereka yang datang ke kantor sebelum jam setengah 7 dan pulang selepas maghrib. Karena begitu banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Bagi mereka yang berusaha untuk tidur 7 jam, semata-mata agar bisa bangun pagi untuk lari (atau jogging) demi jantungnya yang lemah.

Namun, bagaimana pun, semua ini, keputusan ada di tangan masing-masing. Mau menjadi manusia gagal yang seperti apa?

Manusia adalah makhluk dinamis. Hatinya begitu mudah berubah-ubah. Ia seperti wadah yang siap menerima hidayah dari Tuhan. Di satu waktu menjadi tempat sampah tipu daya iblis!

Akhirnya, kegagalan satu, dua, tiga, beribu-ribu kegagalan akan mengantarkan kita kepada kesuksesan untuk bisa bertemu dengan-Nya. Dengan catatan, dari semua kegagalan itu, selangkah demi selangkah kita menjadi semakin bijaksana.

Berlari Lebih Kencang

Kata-kata "Semangat Perubahan" dan "Berlari Lebih Kencang!!" tertulis di sebuah poster, terletak di atas salah satu meja kantor. Tulisan karya saya itu beresonansi di dalam kepala pada suatu sore, ketika ruangan Fungsi kembali sunyi. Ia membawa pikiran ini merefleksi 6 bulan ke belakang. Paruh kedua tahun 2024.

Perubahan-perubahan yang terjadi: tidak tidur lagi setelah salat subuh; membaca buku dan berlari setelahnya; berangkat ke kantor sebelum pukul 6 tiap paginya. Hidup menjadi lebih sehat, menjadi lebih produktif, dan lebih dipenuhi rasa syukur. (Bahkan berat badan turun lebih dari 10 kilogram!)

Apakah terjadi karena efek tulisan poster itu? Poster yang sudah terpampang dari Agustus 2023, dengan jargon "semangat perubahan"? Ataukah tulisan itu hanya sebentuk resonansi atau refleksi atau cermin, alih-alih motivasi? Ah, yang pasti, sebenarnya, ada beberapa alasan yang menjadikan gaya hidup berubah. Atau demikianlah yang saya rasakan. Bolehkah saya sedikit bercerita?

Jumat, 14 Juni 2024. Dari Stasiun Gambir, di dalam Kereta Pandalungan kami bertemu. Duduk bersebelahan di gerbong 7 kursi ke-12. Saya yang melamun, bertanya bagaimana kabar kedua orang tua yang sedang melaksanakan ibadah haji. Dia, seorang perempuan yang memulai pembicaraan dengan meminta ijin memasang pengisi daya telepon genggam, mengangguk, lalu meneruskan persiapannya. Merapikan tas, mengeluarkan kudapan, lalu dua buku bacaan. Benda terakhir yang ia keluarkan dari dalam tas, terus dimasukkan ke dalam kantong kursi kereta itu, sungguh membuat saya terkesima. Tak bisa menahan diri untuk tidak melanjutkan obrolan.

"Biasanya kursi nomor 12 ini ada di barisan depan," kataku berbasa-basi. Ia mungkin kaget dengan topik pembicaraan yang saya mulai. Namun, itulah awal mula bagaimana kami berkenalan. Dan bukan satu-satunya hal menarik yang saya rasakan. Dan syukuri. Sedikit sesali. Sampai hari ini.

Di dalam kereta malam itu, sebelum kami menyebutkan nama masing-masing, dia menanyakan lokasi kerja. Saya yang tidak biasanya mengobrol dengan orang asing di sepanjang perjalanan, menjawab tanpa menyebutkan nama perusahaan. Hanya menyampaikan nama jalan lokasi kantor berada. Mencoba memberikan teka-teki. Jalan TB Simatupang, sebutku. Lalu perempuan berjilbab itu coba menebak beberapa nama perusahaan. Tapi kemudian saya timpali pertanyaan serupa, menanyakan di mana tempat kerjanya. Ia menjawab "kantor seberang Gambir".

"Seberang Gambir?" tanya saya. "Perta****?" Entah mengapa nama itu yang langsung muncul. Ia pun mengangguk. Perasaan aneh entah apa tiba-tiba datang. Saya melanjutkan, "Gak nyangka ketemu orang Perta**** juga di dalam kereta. Mbaknya Fungsi apa?"

Kereta Pandalungan, yang nantinya akan dipaksa mendengarkan obrolan kami itu, melesat menembus malam. Kelas eksekutif yang beberapa kali menjadi pilihan untuk pulang. Kereta yang sempat saya putuskan tidak akan dinaiki lagi, karena apa yang akan saya ceritakan ini.

Setelah bertukar informasi tentang Fungsi tempat kami bekerja, kebekuan mencair. Percakapan menjadi sedikit lebih akrab. Obrolan berlanjut ke basa-basi lainnya. Tentang beberapa nama orang yang mungkin saja saya kenal. Tentang di mana kami berkuliah dulu, apa alasan bekerja di perusahaan ini. Tentang berapa lama kami akan berada di rumah sebelum kembali ke perantauan. Dan topik-topik pembicaraan yang terbagi dalam beberapa segmen. Sebab, bolak-balik ia harus ke gerbong restorasi kereta guna melanjutkan pekerjaannya atau bertemu dengan seorang teman lama.

Sambil menunggunya, saya melanjutkan untuk membaca buku. Dua buku cetakan, yaitu tentang agama buddha dan satunya, tentang 7 hari di alam kubur serta e-book dari Google Playstore (buku karangan Cak Nun, seperti biasa).

 “You can search throughout the entire universe for someone who is more deserving of your love and affection than you are yourself, and that person is not to be found anywhere.” 
– Buddha

Apabila sebuah motivasi boleh berbentuk sesosok manusia, maka perempuan itulah salah satunya. Begini: perjalanan selama lebih dari 8 jam, dari Jakarta ke Cepu (tujuan dia pulang) itu memberikan sejumlah gagasan, sembari merasakan doa-doa orang tua dari tanah suci memenuhi udara di sekeliling.

Gagasan pertama. Selepas wanita berkacamata itu kembali dari restorasi dan duduk di kursi, fokus saya terganggu. Saya biasanya cukup abai dan lebih memilih asyik dengan buku yang dibaca, kali ini sangat mengharapkan berjalannya sebuah imajinasi, skenario yang sedari tadi tercipta.

Ingat dua buku yang dimasukkan ke kantong kursi, yang tertulis di paragraf awal? Saya membayangkan, di dalam gerbong yang tenang dan syahdu, kami berdua bersama-sama membaca buku. Terbius dengan tulisan-tulisan. Terserap ke dalam cerita yang kami baca. Bersandingan.

Pasti akan menarik sekali!

Sesuai harapan, momen yang ditunggu-tunggu pun terjadi. Saya jarang melihat orang lain membaca buku selama di dalam kereta. Kebanyakan, orang-orang menghabiskan waktu dengan ponsel pintarnya. Namun, kali ini berbeda! Wanita itu menemani saya membaca buku.

Membaca buku sendiri itu seru, sampai kita bingung mau menceritakan isi buku kepada siapa. Hingga akhir tahun 2024, saya telah membaca 85 buku. Delapan puluh lima. Dan tidak pernah mendiskusikan buku-buku itu dengan siapa pun. Sebelum atau setelah perjumpaan tersebut. Buku-buku yang nantinya setiap pagi saya baca (baik di kamar indekos sebelum berangkat kerja, maupun di meja kantor mengawali hari). Serta buku-buku yang mengawani perjalanan, seperti saat bersanding perempuan itu. 

Ternyata, memiliki teman pulang yang sama-sama gemar membaca buku itu menyenangkan. Hal yang juga kami gunakan sebagai bahan obrolan. Ia mengakui baru suka baca buku setahun belakangan, dan tipikal yang mageran. Tidak se-kutu-buku itu, istilah yang ia pakai beberapa bulan kemudian di direct message Instagram, demi menolak "gagasan" saya secara halus.

Gagasan yang sebenarnya sudah lama saya punya, tetapi sudah lama pula ia terkubur. Akibat perjumpaan di dalam kereta itu. Mengharapkan menua bersama seorang teman penggila buku.

Gagasan kedua. Tidak ada tempat yang lebih mustajab, untuk dikabulkannya doa-doa, selain di tanah suci. Di sana, diyakini doa tidak akan ditolak oleh Allah subhanahu wata'ala. Dalam lamunan di kereta itulah, saya memikirkan kemungkinan-kemungkinan isi dari doa yang dilantunkan kedua orang tua. Satu dari ribuan kemungkinan yang membawa saya dan perempuan itu, kami berdua duduk bersebelahan di baris ke-12 kereta malam. "Dipertemukan" oleh buku dan perusahaan yang sama.

"Kebetulan aja itu, Mas," ia masih teguh mengatakan, ketika saya memulai obrolan kembali via direct message, saat menyampaikan ulang gagasan itu bersamaan dengan ucapan "HBD" selang seminggu dari hari ulang tahunnya di bulan Desember. Tidak masalah. Jikalau ternyata memang kebetulan, pertemuan itu adalah kebetulan paling manis. The sweetest coincidence.

Jadi, saya membayangkan doa yang disampaikan Ayah-Ibu di Mekah, agar anak sulungnya bisa hidup lebih sehat (seperti pembukaan tulisan ini). Tidur lagi setelah salat subuh, merupakan kebiasaan buruk yang saya mulai dari jaman mahasiswa baru. Sehingga butuh perjuangan ekstra untuk mengubahnya, menghentikannya. Butuh banyak motivasi dan alasan kuat dan kegiatan pengganti, supaya tidak beranjak lagi ke atas tempat tidur.

Tak lama setelah pertemuan dengan perempuan itu, setelah ia mengucapkan "Have a safe trip, Mas!" dan turun di Stasiun Cepu, ide itu tiba. Saya ingin menyambung pertemuan. Menangkap umpan yang diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala. Singkat cerita, kami saling berkomunikasi via Instagram. Itulah awalan dari cerita yang kita tahu bagaimana akhirnya. Namun, hal terpenting adalah apa yang ingin saya sampaikan. Hikmah dari pertemuan itu.

Dari Instagramnya saya bisa menyimpulkan, bahwa perempuan itu orang yang cukup sehat, fit. Hobinya mendaki gunung, berpetualang ke alam terbuka, mentadaburi ciptaan-Nya secara langsung di hamparan bumi. Berbeda dengan saya, seorang pria dewasa yang masih terjebak dalam hidup gini-gini aja. Pria obesitas yang mageran. Hanya bisa menjelajahi dunia lewat buku-buku yang dibaca.

Meskipun saya menganggap dialah pecutan untuk bisa hidup lebih bugar, lebih rajin berolahraga, khususnya lari. Tetapi saya tidak bisa benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri saya di rentang bulan Agustus-Desember 2024 ini. Apa yang menyebabkan hampir tiap pagi bergegas memakai celana training dan sepatu lari setelah salat subuh. Dan ketika penolakan perempuan itu pun, di suatu sore, alih-alih dipenuhi oleh kesedihan, saya memilih untuk berlari ke Jalan Sudirman.

Sehingga, tidak ada alasan yang paling masuk akal, kecuali Allah-lah yang menggerakkan hati dan pikiran dan jiwa dan raga saya, untuk bisa hidup lebih sehat. Sehat jasmani dan rohani. Berkat doa orang tua.

Alasan religius itu pula yang selalu saya sebutkan, saat orang-orang (teman-teman dan rekan kerja) yang menanyakan mengapa saya tampak begitu kurus, terjadi perubahan sangat drastis. Yaitu karena Allah subhanahu wata'ala. Dia yang pasti menggerakkan saya dan perempuan itu memilih kursi nomor 12 A-B. Dia-lah yang memberikan ide supaya buku-buku itu terselip di dalam tas ransel kami, yang bertugas sebagai jeda antara dua obrolan. Dengan tujuan, perempuan itu menginspirasi saya.

Berikutnya, di dalam pekerjaan, saya juga menyadari dan pernah membayangkan, bahwa saya harus menjadi contoh yang baik bagi seluruh anggota tim. Harus datang ke kantor paling pagi dan pulang lebih sore daripada yang lainnya. Serta harus memiliki waktu yang lebih banyak untuk bisa lebih produktif, apalagi setelah saya hanya sendiri sebagai team lead. Sehingga, Allah yang Maha Baik itu menyiapkan serangkaian skenario. Mulai dari orang tua haji, pertemuan di kereta, sampai lari tiap pagi. Baik saat merasa kasmaran maupun ketika patah hati.

... Dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”
– HR. Bukhari

Lalu, apakah ini semua hanya kebetulan? Seperti yang terus menerus disampaikan oleh wanita itu. Mungkin untuk satu hal, yaitu gagasan untuk bisa bersanding dengannya di sisa umur, pertemuan itu hanyalah sebuah kebetulan. Sama-sama membaca buku dan sama-sama berkantor di perusahaan yang sama (walaupun saya holding dan dia subholding). Semua itu kebetulan belaka.

Namun, untuk alasan mengapa saya menjadi lebih sehat dan rajin lari pagi, hingga membakar belasan kilogram berat badan, tidak mungkin sebuah kebetulan. Itu semua adalah suratan takdir. Saya meyakininya. Dan harus disyukuri, karena awal usia 30 tahun itu saya bisa membuka banyak kemungkinan. Potensi. Hal-hal baik tentunya akan mengikuti. Karya-karya yang menunggu untuk diciptakan. Mengisi hari-hari sebelum ajal menjemput.

Perempuan itu bisa jadi hanyalah sebuah khayalan, yang saya ciptakan sebagai dorongan untuk menjadi pribadi lebih baik. Tidak lebih dari metafora belaka untuk melengkapi hikmah hidup. Yang mengharuskan saya berlari lebih kencang untuk mengejar banyak ketertinggalan. Tentunya selama jantung lemah ini masih bertahan. Untuk mengimbangi larinya atau untuk menyandingnya ketika ia mendaki gunung, mencapai puncak, menggapai angkasa.

Namun, bagaimanapun, (bagi sebagian orang) hidup saya masih seperti jalan di tempat, bukannya lari seperti yang setiap pagi saya lakukan.

“Hidup itu lari sprint atau lari maraton?” tanya Cak Nun.

"Kalau sprint, berarti kamu harus cepat, tapi akan cepat juga habis energimu. Kalau maraton, kamu harus sabar, mengatur napas, dan tahu kapan harus melambat untuk bertahan lebih lama."

Jatuh Cinta Kedua kepada Kehidupan


 "Jatuh Cinta Kedua kepada Kehidupan" merupakan judul buku autobiografi yang saya tulis sebagai tugas mata kuliah Keterampilan Komunikasi. Tugas yang mengharuskan kami menyusun memoar, menuliskan kisah-kisah dan perjalanan hidup. Bagi kami, para mahasiswa jurusan IT, tugas itu sangat menarik dan tentu saja menjadi tantangan tersendiri. Mayoritas kami merasa kesulitan, tapi tak sedikit juga yang menganggap bercerita tentang diri sendiri adalah hal yang mudah, sekaligus menyenangkan. 

Di kelas saya waktu itu terdapat beberapa orang yang memang sudah aktif menulis blog. Platform yang digunakan ialah Tumblr dan Blogger. Saya termasuk di antaranya, yang sudah mulai menulis blog sejak masih SMA. Tidak hanya tulisan tentang kegiatan sehari-hari di kelas atau organisasi, tetapi juga cerita pendek (cerpen), bahkan puisi. Mungkin karena jam terbang itulah, ditambah sedikit rasa 'puitis', dengan antusias, saya memutuskan untuk menggunakan judul yang sama seperti esai ini, pada buku autobiografi saya kala itu.

Mengutip bab kata pengantar autobiografi saya, ada 2 hal yang ingin ditekankan terkait term "jatuh cinta kedua". Pada buku tersebut saya ingin membagikan kepada pembaca bagaimana perasaan seperti terlahir kembali dan dapat melihat arti kehidupan, lalu jatuh cinta seperti pandangan pertama. Kepada hidup dan kehidupan itu sendiri. Lalu, saya ingin mengulas beberapa pengalaman yang sebenarnya pernah dilakukan sewaktu SMA, tetapi saya ulangi untuk kedua kalinya saat menjadi mahasiswa, dengan esensi dan pelajaran dan hikmah yang lebih hebat nan berkesan.

Sebagai tambahan, apa yang tidak saya tuliskan ketika itu, kata "kedua" juga berarti masih adanya kesempatan untuk meraih banyak hal setelah wisuda. Masih terbukanya peluang untuk "mencari" apa yang seharusnya diraih. Selain itu juga memiliki makna bahwa adanya sebuah jeda, sejenak istirahat dari "jatuh cinta pertama" ke "jatuh cinta kedua". Proses untuk melakukan perenungan, muhasabah diri, dan evaluasi. Melakukan ekstraksi hikmah dari pengalaman hidup yang sudah dilalui. Apalagi buku autobiografi tersebut banyak berkisah tentang kegiatan saya selama di kampus, juga tentang teman, sahabat, dan organisasi.

Sehingga judul buku tersebut menggambarkan rasa syukur atas kehidupan yang sudah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Yang menyebabkan saya merasakan jatuh cinta kedua kalinya (bahkan berkali-kali). Bentuk cinta yang bukan seperti sabda Nabi, hubbud–dunya wa karohiyatul maut, Al-Wahn. Semoga bukan. Melainkan murni karena rasa syukur atas pencapaian-pencapaian yang sudah didapatkan sampai saat menjelang kelulusan kuliah. 

Lalu dalam konteks esai kali ini, "jatuh cinta kedua kepada kehidupan" menunjukkan kesadaran atas checkpoint yang telah dilalui. Yaitu usia tiga puluh tahun. Umur yang saya capai pada bulan Maret tahun ini (2024). Angka yang tidak sedikit, hampir setengah dari rata-rata umur umat Nabi (sekitar 60-an). Yang menyadarkan, sambil menimbulkan pertanyaan, apakah setengahnya lagi dapat dilalui. Insya Allah, selama jantung saya ini masih mau berdetak.

Tulisan ini mengajak diri saya pribadi yang daif, untuk dapat memaknai hari-hari dalam hidup, sebagai sebuah kesempatan kedua. Untuk senantiasa memperbaiki kualitas diri, menajamkan kebijaksanaan, memandang segala sesuatu dengan pandangan Ilahi.


Kepala Tiga

Pada bulan Maret tahun lalu, ketika memasuki umur 29, saya ingat pernah menuliskan tweet, yang kurang lebih intinya seperti ini: satu tahun sebelum menginjak usia 30, saya harus melakukan berbagai kegiatan seru yang tak terlupakan. 

Lalu apakah harapan saya itu tercapai? Tentu saja! 

Berbagai aktivitas berkesan saya lakukan di tahun lalu, mulai dari keikutsertaan dalam komunitas digital perusahaan, tergabung dalam banyak kepanitiaan (yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan akan saya ikuti), lalu mewujudkan ide-ide bersama tim Accerelate Your Competence (AYC), juga berkesempatan untuk (pertama kalinya) ke Pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera! Apalagi setelah belasan tahun berkeinginan, akhirnya bisa mengunjungi saudara yang tinggal di Batam.

Dari banyak pengalaman berharga itu, pada kesempatan ini, saya ingin memfokuskan pada 2 hal, sebagai hikmah, topik yang mendasari tulisan, bagaimana wujud dari jatuh cinta kedua kepada kehidupan. Tema pertama yaitu tentang kekeluargaan. 

Mungkin bagi kebanyakan orang, memasuki usia tiga puluh tetapi masih berstatus lajang, adalah sebuah 'kesalahan'. Atau bisa dibilang seperti aib yang harus disembunyikan. Ditutup rapat-rapat. Karena terlambat untuk segera menikah dan berkeluarga. Tapi toh hidup tidak melulu menyoal pernikahan. Tentu saja, meski begitu, poinnya adalah, memasuki umur tiga puluh merupakan sebuah awal untuk berkarya lebih hebat dari sebelumnya. Bukan untuk menyesali ini dan itu. Termasuk tulisan ini yang membahas tentang keluarga. Semoga tidak dinafikan.

Baik, kita teruskan.

Saya, saat tulisan ini dibuat, masih tinggal sendiri di sebuah indekos. Kesibukan di dalam kepanitiaan dan komunitas yang ada di kantor, merupakan sebuah kesenangan luar biasa. Sebagai penyaluran untuk bisa berinteraksi, bekerja sama, dan berkomunikasi, di luar pembahasan tentang pekerjaan. Hal yang menjadikan hidup saya lebih bersemangat. Untuk bisa berkontribusi, menggunakan value diri yang amat sangat minimalis ini. Contohnya dalam hal desain grafis dan leadership. (Tentu tidak ada apa-apanya ketimbang orang-orang yang mengorbankan jiwa dan raga mereka.)

Dari interaksi, kerja sama, dan komunikasi dengan banyak orang di dalam kepanitiaan dan komunitas, dalam proses menuntaskan amanah-amanah, menyelesaikan banyak permasalahan bersama itulah, muncul beberapa orang yang saya nilai istimewa, kurang kalau hanya disebut sebagai kenalan atau rekan kerja. Mereka yang akhirnya bisa menemani kesendirian dan mengisi kekosongan hidup selama di Jakarta. Hal inilah yang menjadikan saya sangat bersyukur atas kekeluargaan yang terjalin.

Sehingga, meskipun saya belum memiliki keluarga baru atas dasar pernikahan, memiliki keluarga-keluarga kecil yang terbentuk karena surat perintah (SP), nota dinas, atau kesamaan hobi, adalah kenikmatan sosial yang harus disyukuri. Apalagi yang bisa tetap menjaga api idealisme saya. Hari-hari yang dilalui bersama orang-orang terkasih itulah yang menjadikan jatuh cinta kedua kepada kehidupan.

Topik kedua ialah kebijaksanaan. Tak henti-hentinya saya menjadikan tema ini sebagai pembahasan di semua tulisan saya. Mengapa demikian? Karena saya meyakini apabila semua orang dapat hidup lebih bijak, melihat segala sesuatu dengan lebih arif, dunia ini akan menjadi lebih baik. Kebijaksanaan komunal akan menciptakan dunia yang lebih baik.

Kebijaksanaan itu dapat diteguk dari berbagai sumber air. Dari kekeluargaan (seperti yang saya tuliskan pada paragraf sebelumnya); dari segala permasalahan, tantangan, hambatan yang dapat kita selesaikan; dari kesendirian atau keramaian; dan hal terpenting dan utama, menurut saya, kita tidak perlu harus selalu mengalami sendiri asam-garam-pahit pengalaman untuk mendapatkan hikmah --kebijaksanaan. Kita bisa mendapatkan banyak pelajaran dari kisah orang lain. Kisah-kisah yang dapat digali dari pemikiran dan tulisan mereka, yang diikat dalam berbagai tema, topik, judul buku.

Buku, bagi saya ibarat sebuah jendela, untuk melihat ke dalam, rumah hakikat diri dan melihat ke luar, luasnya kebijaksanaan. Keduanya adalah sarana untuk lebih mengenal Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhanahu wa ta'ala. Apapun buku yang dibaca, baik fiksi maupun non-fiksi. Baik yang secara eksplisit mengajarkan kepada 'jalan' untuk mendekat pada-Nya, maupun yang implisit atau sama sekali tak membahas tema itu, yang mengharuskan kita untuk mencari 'jalan' sendiri melalui tiap kata yang dibaca. 

Berbagai pembahasan yang ada di dalam buku, apabila kita melihatnya dengan lebih jernih, pasti terselip hikmah-hikmah yang mengantarkan kita kepada kehambaan. Minimal, memunculkan kesadaran bahwa diri ini papa, alpa, lemah, dan masih belum mengetahui apa-apa. Kesadaran itu akan mengantarkan rasa haus dan rasa penasaran atas ilmu Allah yang tersebar di alam semesta. Menjadikan kita lebih bijaksana. Arif. Sehingga, mau tidak mau, kita tidak bisa lepas dari buku. Termasuk Al Quran, tentunya.  

Tahun lalu (2023), karena disibukkan dengan berbagai kegiatan, yang membawa saya pada pemahaman tentang betapa berharganya kekeluargaan, seperti yang saya tuliskan di awal. (Apalagi ketika mengunjungi saudara yang tinggal di Batam. Sampai saat ini saya masih bisa merasakan bagaimana tenang dan syahdunya di sana.) Hal tersebut menjadikan buku-buku yang saya baca tidak sebanyak tahun sebelumnya. Sebab, saya hanya berfokus pada menyelesaikan banyak aktivitas, mengunjungi tempat-tempat yang baru, tanpa peduli dengan berapa banyak buku yang harus diselesaikan.

Namun, di tahun 2024 ini sebagai gantinya saya sudah membaca lebih dari 50 buku! Tepatnya 85 buku! Sebuah pencapaian yang akhirnya bisa saya rasakan. Bagaimana bisa? Bagaimana waktu luang itu bisa dikonversi menjadi kemesraan dengan buku-novel, berbagai tema dan topik? Mungkin akan saya uraikan di tulisan terpisah.

Intinya, memasuki usia tiga puluh saya merasakan kembali jatuh cinta kedua, melalui banyak kisah dan pengalaman (yang pertama kali saya alami di 2 tahun ini).

Semoga di tahun-tahun mendatang, saya bisa berkesempatan, secara resmi, untuk bisa menerbitkan buku dengan judul serupa. Jatuh Cinta Kedua kepada Kehidupan!

Sabtu, 17 Agustus 2024

Lomba Makan Kerupuk

 Pak Yusuf, wali kelas 4 SD saya suatu ketika di bulan Agustus pernah berkata di depan kelas. "Saya heran dengan lomba makan kerupuk. Mengapa masih terus dilakukan?" begitu ucap Pak Yusuf. "Padahal hanya mengajarkan keserakahan!" lanjut beliau. Kata-kata yang begitu mengena ke dalam hati dan pikiran saya, menjadi core memory hidup saya. Selalu saya ingat kembali (recall) ketika memasuki bulan kemerdekaan. Hingga tak terasa sudah 20 tahun sejak momen itu terjadi. Doa terbaik untuk Pak Yusuf!

Pak, tahun ini Indonesia memperingati HUT ke 79.

Tujuh puluh sembilan. Sebuah angka yang tidak sedikit. Juga belum tua-tua amat. Masih banyak hal yang bisa diperbaiki di negeri ini. Meskipun seharusnya perbaikan-perbaikan itu sudah dilakukan jauh sebelumnya. Kekurangan-kekurangan yang selalu menjadi topik pembahasan di tiap perayaan kemerdekaan. Munculnya berbagai retorika kenegaraan. Contoh pertanyaan yang sering muncul adalah "Apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka?"

Apakah sudah ada jaminan sila kelima Pancasila dijalankan di semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara? Saya sedikit tersenyum ketika menuliskan ini. Bukan atas tragedi yang akan dituliskan. Tentu saja bukan. Karena itu harus menjadikan kita menunduk untuk muhasabah diri. Saya tersenyum sebab saking banyaknya materi ketidakadilan sosial yang ada. Sehingga saya tidak perlu memutar otak terlalu keras. Indonesia menampilkan banyak sekali. Banyak sekali. 

Tak habis-habisnya kita melihat dan membaca berita melalui layar smartphone, di linimasa media sosial, aplikasi-aplikasi percakapan, tentang bagaimana ketimpangan terjadi di negeri tercinta ini. Ketimpangan yang seperti mencoreng ideologi negara. Bagaimana bisa di negara Pancasila ini, masih ada yang mati kelaparan sedangkan di ibukota baru diadakan pesta pora? Kendati katanya untuk perayaan kemerdekaan tidak ada kata mahal.

Bangsa Indonesia memang diciptakan menjadi salah satu bangsa yang kuat. Manusia-manusia yang didesain oleh Tuhan untuk memiliki hati yang tegar dan prasangka baik sedalam samudera. Pagi ini di beranda X saya membaca postingan (yang dilengkapi foto), seseorang yang membagikan pengalamannya berbelanja di pasar tradisional.

Ada seorang penjual sayur di pasar yang sederhana, dengan TV tabungnya menonton kegiatan upacara yang disiarkan langsung dari ibukota baru, yang memakan biaya miliaran tersebut. Saya yakin, sang penjual sayur menaruh harapan besar bagi kemajuan Indonesia kepada para petinggi yang berkumpul di dalam kegiatan upacara itu. Meskipun tentu saja hati orang tidak ada yang tahu. Apalagi isi hati mereka-mereka itu.

Pak, tahun ini Indonesia memperingati HUT ke 79.

Berarti 2045 tinggal 21 tahun lagi. Indonesia Emas. Itulah yang dijual oleh para penabur asa. Seratus tahun pasca kemerdekaan, Indonesia sudah mampu bersaing dengan negara-negara maju. Maka dari sekarang manusia-manusia Indonesia mesti "disiapkan" dengan baik. Mulai dari karakter, kompetensi, mental, kecintaan kepada negeri, dan yang terpenting adalah seberapa Pancasila mereka. Tentu saja Pancasila yang benar, bukan gimmick.

Menyiapkan 2045. Dua puluh satu tahun dari sekarang, berarti saya akan berusia 50-an. Tim saya (usia 20-an tahun) akan berumur 40-an. Para mahasiswa akan berumur 30-40. Pemuda-pemudi yang sekarang produktiflah yang akan menjadi pemimpin masa depan. Menjadi bagian dari masyarakat. Menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Pengalaman, pengetahuan, bahkan kekayaan, ketenteraman hidup, kemandirian finansial perlu disiapkan.

Namun, mereka saat ini masih harus berjuang karena susahnya mencari pekerjaan (dan mempertahankannya). Data BPS yang dilansir menunjukkan kenaikan signifikan jumlah PHK di negeri Pancasila ini daripada tahun lalu. Mereka harus mati-matian berjuang dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tak banyak. Juga batasan usia rekrutmen yang dipersyaratkan terlalu kecil. Belum lagi harus bersaing dengan entitas bukan manusia. Robot & mesin. Kecerdasan buatan. Atau apalah itu produk dari kapitalisme.

Menuju 2045 berarti harus mempersiapkan manusia yang utuh. Bagaimana caranya? Menurut hemat saya, kita harus menyepakati lagi, sebenarnya apa idelogi negara ini. Lalu menginternalisasi ideologi tersebut ke dalam diri. Ke dalam pikiran, hati, perbuatan, perkataan. Dan sebetulnya Pancasila salah satu ideologi yang bisa membawa Indonesia menjadi negara utopia. Asalkan benar-benar dijalankan sebagai penerang jalan, bukan tongkat pemukul sesama.

Pak, tahun ini Indonesia memperingati HUT ke 79.

Ketimpangan sosial, ekonomi, pendidikan, dan semuanya itu. Juga susahnya mendapatkan pekerjaan karena mulai berkurangnya padat karya. Apakah berhulu pada keserakahan manusia? Orang-orang pemilik modal (dan kesempatan dan privilege) semakin ke sini semakin berfokus pada keuntungan yang didapatkan, alih-alih pada kesempatan anak bangsa mendapatkan pekerjaan yang layak. Demi efisiensi dan peningkatan revenue, manusia semakin digantikan oleh robot, mesin, dan kecerdasan buatan.

Apakah juga keserakahan manusia yang mengakibatkan para pejabat tidak segan-segan untuk melakukan tindakan korupsi? Yang menyebabkan anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk mengatasi ketimpangan tersebut secara struktural, malah masuk ke dalam dompet pribadi. Yang menyebabkan pendidikan seperti jalan di tempat, tidak menghasilkan outcome apapun selain hanya manusia yang terbiasa untuk berlaku curang. Yang menyebabkan pemuda-pemudi usia produktif kalah bersaing sebab kompetensi mereka kurang terasah.

Apakah juga karena keserakahan yang tumbuh di dalam setiap manusia, yang menyebabkan kita lupa untuk berbagi? Bahkan sampai harus mengambil hak orang lain? Hak warga adat, hak wong cilik, hak lingkungan, hak mereka yang kalah (sejak dari kesempatan), hak orang-orang yang belum tahu besok apakah bisa makan, hak bangsa, hak anak-cucu kita.

Apakah kemerdekaan yang telah kita capai inilah yang membuat orang-orang merasa bebas untuk menggerogoti segala apa yang ada? Termasuk menggerogoti kemerdekaan bangsa sendiri? Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Retorika-retorika tersebut haruslah menjadi pekerjaan rumah kita. Menjadi bahan perenungan di menit-menit sebelum tidur, di sepertiga malam, di waktu subuh kita, di antara adzan dan iqamah.

Pak, tahun ini Indonesia memperingati HUT ke 79.

Apakah memang benar kalau lomba makan kerupuk yang kita lakukan setiap tahun itu, yang menyebabkan kita menjadi begitu serakah? Tentunya perlu ada penelitian khusus terkait ini. (Jangan-jangan sudah ada?). Tapi sepertinya para peneliti lebih menyukai penelitian bagaimana caranya supaya tanah lahan gambut bisa subur ditanami singkong dan jagung.

Coba kita bersama-sama preteli lomba makan kerupuk, kita detailkan agenda wajib setahun sekali tersebut.

Teknis lomba makan kerupuk yaitu sebuah kerupuk yang digantung dengan tali setinggi mulut peserta lomba. Siapa yang bisa makan dan menghabiskan kerupuk tercepat yang akan menjadi pemenang. Makan hanya bisa menggunakan mulut dengan bantuan tali gantung. Kedua tangan tidak boleh menyentuh kerupuk ataupun tali. Sangat sederhana.

Mungkin karena kesederhanaan tersebut yang menjadikan lomba ini selalu ada di setiap pergelaran tujuh belasan. Para panitia tidak perlu repot-repot memikirkan lomba lainnya. Karena memang kita tidak terbiasa untuk berpikir keras. Apalagi mempertanyakan hal-hal yang sudah kita wajarkan di masyarakat.

Lalu, bagian mana dari kesederhanaan lomba makan kerupuk ini yang mendorong kita untuk menjadi serakah? Apakah karena proses makannya yang harus buru-buru? Kan namanya juga berkompetisi. Apakah karena proses makannya yang tanpa menggunakan tangan? Sehingga makan seperti (maaf) binatang? Sudah buru-buru, makan tanpa tangan pula. Tanpa etika. Apakah sisi kebinatangan yang rakus, yang serakah, yang tidak manusiawi tersebut penyebabnya? Seperti yang saya sebutkan di atas, pertanyaan retorik ini juga harus kita temukan jawabannya.

Atau apakah sebenarnya bukan lomba makan kerupuk yang mengajarkan keserakahan kepada kita, melainkan lomba tersebutlah yang "mengakomodir" keserakahan yang sejak awal sudah ada dalam diri kita? Baik, ini PR kita bersama.

Kalau saya pribadi melihat filosofi dari lomba makan kerupuk ini berdasarkan hakikatnya. Kerupuk, yang menjadi bintang dari lomba ini. Sebuah makanan pelengkap yang tidak ada "dagingnya", hanya berisi "angin". Sedangkan kita berkompetisi, hanya untuk menghabiskan makanan yang tidak memberi manfaat sedikit pun (selain karena hadiah lomba). Lalu kita geser pemikiran ini ke dalam spektrum yang lebih luas di dalam kehidupan.

Seringkali kita gagal untuk memahami apa yang paling esensial dalam hidup. Apa yang menjadi tujuan kita dilahirkan di dunia ini. (Hal itulah yang menjadi kajian filsafat eksistensialisme.) Bagi kita yang memiliki framework pemikiran seorang muslim, kita geleng-geleng kepala saat melihat banyak dari kita yang tidak bisa menemukan hakikat tujuan hidup. Terlalu menghabiskan banyak energi, berlomba-lomba mengejar segala hal yang tidak bermanfaat. Memburu uang, uang, uang. Sampai-sampai harus menabrak aturan sana-sini. Padahal yang dikejar tidak akan dibawa ke dalam kuburan. 

Walaupun bukan berarti uang itu tidak ada manfaatnya. Melainkan bagaimana uang dan kekayaan itu dipandang. Apakah ia adalah kerupuk, ataukah daging. Pun, apabila ia adalah kerupuk, lalu apa dagingnya? Apakah daging bagi negeri ini adalah ketuhanan? Apakah kemanusiaan? Apakah persatuan? Apakah kerakyatan? Apakah keadilan? Itulah yang harus segera disadari.

Pada bab sebelumnya, saya mengusulkan untuk kita kembali melakukan refleksi seberapa Pancasila kita. Sehingga kita dapat memaknai lomba makan kerupuk sebagai ajang untuk mengamalkan kelima sila. 

Bersyukur atas nikmat yang diberikan karena masih bisa merasakan gurihnya kerupuk, implementasi sila pertama. Tepa selira dan menjunjung tinggi kejujuran dalam berkompetisi, sesuai sila kedua. Menjaga kerukunan dan solidaritas antar peserta lomba, makna sila ketiga. Legawa atas hasil yang diputuskan oleh panitia lomba, buah dari sila keempat. Semua peserta lomba memiliki kesempatan yang sama, perwujudan dari sila kelima. Alangkah indahnya lomba makan kerupuk apabila dipandang dengan kacamata kebijaksanaan.

Sehingga, apa yang kita takutkan dari lomba makan kerupuk sebagai penyebab keserakahan tidak akan terwujud. Karena kita sudah memahami apa yang esensial di dalam diri ini. Bagi bangsa dan negara ini. Ketimpangan ekonomi, sosial, pendidikan dan lain sebagainya itu tidak akan terjadi. Banyak perusahaan dan bisnis memilih untuk memberi kesempatan kepada anak bangsa untuk bisa bekerja dan berkarya lebih baik lagi serta mendapatkan gaji yang layak.

Harapan itulah yang ingin coba saya sampaikan di hari kemerdekaan ini. Lalu, sebagai pelengkap, mungkin segala macam hiruk pikuk merah putih ini hanyalah kerupuk saja. Upacara yang diadakan secara seremonial dan menghabiskan biaya tak sedikit itu pun cuman sebatas kerupuk. Kemerdekaan yang kita gemborkan tak lebih dari sebuah kerupuk yang terombang-ambing di atas tali, bukanlah daging. Jiwa, raga, pikiran, diri kita belum benar-benar merdeka.

Kalau memang seperti itu, saya tawarkan daging dan sayur mayur. Yaitu kutipun dari Rib’i bin ‘Amir Ats-Tsaqafi, tentang kemerdekaan hakiki ialah mengeluarkan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia, menuju penyembahan kepada Yang Maha Menguasai manusia. .. dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat.

Syahdan, dirgahayu Indonesia. Negeri tempat kita bisa beribadah dengan perasaan aman dan tenteram.

Minggu, 09 Juni 2024

Belajar dari Gibran



"Anakmu bukanlah anakmu.

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri."

(Kahlil Gibran)

...

Sore itu, selepas menyelesaikan pekerjaan, di meja kantor departemen, yang hanya ada saya dan rekan kerja saya, sebuah pikiran tiba-tiba muncul di dalam kepala. Sebuah gagasan untuk berdiskusi ringan sembari merapikan barang-barang kami, untuk persiapan pulang ke rumah masing-masing.

"Menurutku, kalau dia bisa melawan Bapaknya dengan tidak meneruskan kebobrokan ini, pasti akan keren sekali!" ucap saya mengawali diskusi.

"Gimana maksudnya?" tanya rekan sefungsi saya itu.

"Ingat kisah tentang Nabi Ibrahim dan ayahnya, kan? Beliau berani 'melawan' sang ayah yang seorang pembuat patung berhala. Juga beliaulah yang menghancurkan berhala-berhala, kecuali yang terbesar, untuk memberikan sebuah pelajaran dan hikmah, supaya ayah dan kaumnya berubah. Emang itu contoh yang ekstrim, sih. Tapi coba bayangkan jika semangat perbaikan itu juga ada di dalam diri setiap anak!"

Seperti yang kita ketahui bersama, kisah tentang dialog Nabi Ibrahim alaihissalam dengan ayahnya itu tercatat di dalam Al-Quran. Ialah di dalam surat Maryam (19) ayat 43, yang terjemahannya "Wahai Ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?" sampai pada ayat 47, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku."

Juga pada surat Al-Anbiyah (21), mulai dari ayat 52 ketika Nabi Ibrahim alaihissalam bertanya, "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?" hingga kejadian penghancuran patung berhala-berhala di ayat 58-65, juga peristiwa pembakaran nabi yang tertulis sampai ayat 70 itu. Ah, tentu saja para pembaca yang budiman sudah hafal betul kisah ini.

Hikmah dari kisah Nabi Ibrahim alaihissalam yang akan dibahas pada tulisan ini, selain karena spontanitas diskusi dengan rekan kerja saya, juga sepertinya cocok sebagai pelengkap dalam menyambut bulan Zulhijah, bulan yang di dalamnya sering dibahas kisah pengorbanan Nabi Ismail alaihissalam, anak Nabi Ibrahim.

Dalam kisah abulanbiya itu, beliau mendapatkan wahyu dari Allah subhanahuwataala padahal sang ayah adalah seorang penyembah berhala. Dakwah sang nabi kepada ayahnya itu, yang mana membawa perubahan yang cukup besar, tidaklah kasar dan tetap lemah lembut. Betapapun 'berbeda'-nya orang tua kita dengan pandangan kita, tak boleh ada sedikitpun hardikan, celaan, hinaan, atau ucapan-ucapan kasar kepada mereka berdua.

Peristiwa dialog sang nabi dengan ayah terkasih itu memberikan hikmah bahwa anak bisa saja tidak selalu sepemahaman dengan orang tuanya, apalagi jika perbuatan ayah atau ibunya tidak sesuai dengan norma, hukum, adat, etika, atau prinsip keadilan sosial. Sang anak bisa berbeda 180 derajat dari orang tuanya.

Kisah tentang anak yang berbeda sama sekali dengan ayahnya juga dapat kita temui pada jaman Rasulullah Muhammad shalallahualaihiwassalam. Tersebutlah Amr ibn Al-Ash, seorang panglima perang Islam yang diberi julukan "Sang Pembebas Mesir". Dia lahir dari seorang musuh Rasul, si pencela kehidupan akhirat dari kalangan elite Quraisy, Al-Ash ibn Wa'il. Tak dikira dari orang tua yang jauh dari hidayah itu lahirlah seorang muslim yang taat, seorang pejuang.

Selanjutnya ada Abdurrahman dan Khalidah, dua orang beriman dan pengikut Rasul, yang merupakan anak dari Al-Aswad ibn Abd Yaghuts. Al-Aswad adalah seorang perundung Rasul dari kalangan Bani Zuhrah. Meskipun masih berkerabat dengan Rasul, kebencian membuatnya selalu berusaha untuk menghentikan langkah dakwah Islam. Berbeda dengan sang ayah, Abdurrahman dikenal banyak meriwayatkan hadis dari para sahabat Rasulullah. Sementara Khalidah hidup bersama sahabat lainnya di Madinah, menjadi wanita salihah.

Al-Harits ibn Qais Al-Sahmi, termasuk ke dalam kelompok tukang olok yang juga sering menyakiti kekasih Allah subhanahuwataala. Al-Harits adalah seburuk-buruk musuh Rasul, tetapi merupakan ayah dari para syuhada, seperti Abu Qais, Al-Harits ibn Al-Harits, Abdullah, dan Al-Hajjaj. Begitulah, dari para kafir Quraisy dapat lahir orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Sehingga, memang benar, anak selalu rindu akan jati dirinya sendiri. Juga atas Hidayah dari Allah subhanahuwata'ala. Wawasan dan hikmah tentang anak dan ayah ini saya dapatkan ketika membaca buku "Para Penentang Muhammad SAW" karya Misran dan Armansyah (terbitan tahun 2018).

Saya juga teringat ucapan dari Gus Baha di salah satu kajian, bahwa tidak semua penjahat akan melahirkan anak yang akan menjadi penjahat juga, bisa jadi darinya lahir anak-anak yang akan menjadi manfaat bagi agama, bangsa, dan negara. Selanjutnya, meminjam kalimat Leila S. Chudori pada novel Namaku Alam:

"Pada saat setiap bayi lahir, para malaikat turun di suatu pagi dan mencium ubun-ubun sang bayi... Aku percaya, seorang bayi yang baru saja lahir adalah makhluk suci tanpa dosa yang meluncur ke dunia dengan bekal ciuman malaikat pada ubun-ubunnya serta harum bunga mawar dan untaian doa para orang tua."

Setiap anak yang lahir, terlahir suci. Dalam keyakinan seorang muslim, setiap anak memiliki fitrah dan yang menjadikan mereka yahudi, nasrani, atau majusi adalah orang tuanya. Terlepas dari kuatnya peran orang tua dalam menumbuhkembangkan anak, setiap anak memiliki pemikirannya sendiri tentang kehidupan.

Para orang tua tidak bisa berambisi untuk memaksakan pahamnya kepada anak, misalnya tentang dinasti politik atau tirani. Para orang tua memang berkewajiban untuk memberi pelajaran kepada anak, seperti dalam hal akidah dan syariat. Selain itu, tentang hal-hal duniawi, biarlah anak dapat memilih 'jalan' sendiri sesuai dengan panggilan hatinya. Selama itu tidak bertentangan dengan hukum positif, tentunya. Bagi para orang tua, ada ucapan dari Ali ibn Abi Thalib RA yang patut kita renungkan, "Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian."

Di dalam sejarah Indonesia, anak-anak korban perang dan konflik di masa lalu memilih untuk saling memaafkan dan melakukan rekonsiliasi. Tidak terus menerus membawa dendam atas apa yang diperbuat ayah dan ibu mereka. Mereka membentuk Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), sebagai benih dan wajah perdamaian di negeri ini. Kisah lengkapnya dapat dibaca pada buku The Children of War.

Seorang anak selalu membawa harapan bagi orang tua. Sebuah generasi baru akan menawarkan semangat perubahan dan perbaikan untuk sebuah bangsa. Maka dari itu, pendidikan menjadi sangat krusial. Bagaimana pendidikan yang berkualitas akan membentuk anak dengan karakter yang baik, calon pemimpin masa depan, yang adil dan berintegritas.

Karena memang seyogianya, ilmu pengetahuan mengantar kita kepada kebijaksanaan. Sehingga apabila melihat orang tua yang korup, culas, dan tamak, lebih-lebih diktator, anak yang memiliki kejernihan hati dan akal akan berupaya untuk meluruskan. Tidak melanjutkan keburukan dan kebatilan tersebut. Menghentikan tongkat estafet tercela itu. Bukan malah dengan senang hati membawa semangat keberlanjutan, apalagi mengendarai nepotisme, misalnya.

Walaupun di dalam realita kehidupan, tidak semua anak tumbuh dalam kondisi dan lingkungan yang ideal. Masih ada beberapa keluarga yang kurang beruntung sehingga mendapatkan cobaan yang lebih berat daripada kebanyakan orang. Contohnya seperti keluarga yang memiliki rumah di bantaran sungai yang berada di utara terminal, yang ketika SD, rumahnya itu harus digusur, sewaktu ia bersama ketiga saudara perempuan dan orang tuanya.

Namun, bagaimanapun, jangan sampai seperti Sengkuni, salah satu tokoh di dalam dunia pewayangan yang berada di barisan Kurawa. Tokoh yang suka adu domba itu memiliki masa lalu yang pahit. Ia adalah satu-satunya anak yang bertahan hidup, atau dibiarkan hidup, setelah memakan semua kerabat keluarganya. Sengkuni menjadi perwujudan dari keburukan dan kejelekan.

Seperti yang pernah ditulis dalam bukunya "Ngawur Karena Benar", Sujiwo Tedjo pernah mengusulkan untuk memasang wayang Sengkuni sebagai pajangan, alih-alih Pandawa. Sebagai iling-ilingan, pengingat bahwa ada potensi kejelekan dari dalam diri manusia yang harus senantiasa dilawan. Sebagai simbol bahwa jangan sampai kita menjadi seperti Sengkuni. Jangan sampai menjadi orang yang suka memfitnah, menghasut, dan mencelakakan orang lain.

Mungkin inilah saatnya, ketika di masa lalu, negeri ini memasang foto-foto Puntadewa, Werkudara, atau Arjuna, pihak Pandawa, mulai tahun ini kita akan memasang foto-foto Sengkuni, Duryudana, Dursasena, dan lainnya dari pihak Kurawa. Perwujudan dari anak Pandu Dewanata yang memilih jalan kelicikan dan kemudaratan.

Kembali kepada pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim alaihissalam, yang menghancurkan berhala-berhala yang menjadi sesembahan ayah dan kaumnya. Di jaman sekarang, yang modern ini, berhala-berhala itu telah berupa wujud, bukan lagi sekadar patung-patung dan ukiran-ukiran, melainkan sudah berbentuk kekuasaan, jabatan, harta, feodalisme, dan lainnya (yang membutakan nurani). Orang-orang banyak menyembah apapun perwujudan 'raja', yang dulu bertindak sebagai penerjemah makrokosmos kepada mikrokosmos.

Sehingga, penulis mengajak semua pembaca yang budiman untuk dapat berperan sebagai sang nabi, untuk menghancurkan berhala-berhala negara, yang menghambat terwujudnya janji kemerdekaan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dan dalam momen Idul Adha, kita juga seharusnya menjalankan ibadah qurban. Sebagai pengingat kisah ketakwaan dan kesalehan hidup Ibrahim dan anaknya, Ismail.

Salah satu insight menarik dari qurban adalah kata 'qurban' memiliki akar kata yang sama dengan 'qarib' yang berarti dekat. Memang, kalau kita renungkan, semua yang kita jadikan qurban atau kita korbankan adalah sesuatu yang dekat dengan kita. Uang untuk membeli kambing, harta yang didapatkan dari kerja keras, waktu berharga, dan semua yang kita dekat dengannya. Tidak mungkin kita mengorbankan sesuatu yang bukan milik kita. Kalau itu namanya bukan qurban, toh?

Nabi Ibrahim alaihissalam sewaktu mendapatkan wahyu untuk menyembelih Nabi Ismail alaihissalam, orang yang sangat dekat dengan beliau, merupakan suatu ujian apakah bisa merelakan anak yang dicintainya. Bagi kita saat ini, tentu saja ujian semacam itu tidak ada lagi, tetapi pengorbanan yang sama masih mungkin terjadi. Apakah kita siap untuk mengorbankan anak kita untuk bisa memilih hidupnya sendiri?

Pun dari sudut pandang anak, apakah kita siap untuk merelakan ambisi orang tua kita? Dengan memilih jalan perjuangan sendiri. Tidak membawa nama orang tua. Tidak memanfaatkan privilege orang tua. Tentu saja ini terasa berat, apalagi bagi anak yang sedari kecil sudah terbiasa mendapatkan banyak kemudahan-kemudahan berkat orang tuanya yang orang besar atau kaya.

Memang dibutuhkan sebuah kecerdasan dan kebijaksanaan.

Atau secara umum, kita harus membawa semangat Ibrahim dalam diri kita. Seperti ucapan Maulana Jalaluddin Rumi, jika kita belum mampu menyembelih hewan qurban tahun ini, maka sembelihlah sifat sombong dan angkuh dalam diri kita yang selalu merasa benar, selalu merasa pandai dan alim. 

Apa yang saya paparkan pada tulisan ini, sejatinya semua orang yang disebutkan di atas adalah para gibran atau jibran, sebuah nama yang berarti orang yang paling pandai. Nabi Ibrahim alaihissalam adalah orang yang pandai yang dapat menemukan ketuhanan, menghancurkan berhala-berhala, mampu merelakan anak tersayangnya;  Amr ibn Al-Ash juga cerdas karena bisa membawa pasukannya dalam membebaskan Mesir; Abdurrahman ibn Al-Aswad yang banyak meriwayatkan hadis nabi; serta para syuhada putra Al-Harits ibn Qais Al-Sahmi. 

Orang-orang yang pandai, cerdas, pintar yang sesungguhnya adalah siapa saja yang bisa menjadikan ilmunya bermanfaat dan berkah bagi orang lain (lebih-lebih bagi bangsa dan negara), bukan yang dengan kelicikan dan tipu muslihat mengatur siasat demi keserakahan sendiri, keluarga, dan kelompoknya. Maka kita harus belajar dari para gibran yang sesungguhnya, yaitu orang-orang yang memang pandai.

Sebagai kesimpulan, kembali kepada potongan puisi di awal tulisan ini. Puisi dari Gibran Kahlil Gibran yang saya baca pertama kali tahun 2012 (melalui buku Kisah Lainnya, biografi band NOAH atau Peterpan). Apa yang dapat kita pelajari dari puisi tersebut? Pesan yang menjadi inti dari tulisan ini. Baiknya, para pembaca yang budiman dapat membaca sendiri puisi tersebut. Juga dapat menyimpulkan sendiri maksudnya (apakah related dengan negeri ini?)

Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka terlahir lewat dirimu, tetapi tidak berasal dari dirimu.
Dan, meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu.

Kau boleh memberi mereka cintamu, tetapi bukan pikiranmu.
Sebab, mereka memiliki pikiran sendiri.
Kau bisa memelihara tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka.
Sebab, jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang takkan bisa kau datangi, bahkan dalam mimpimu.
Kau boleh berusaha menjadi seperti mereka, tetapi jangan menjadikan mereka seperti kamu.
Sebab, kehidupan tidak bergerak mundur dan tidak tinggal bersama hari kemarin.

Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup.
Pemanah mengetahui sasaran di jalan yang tidak terhingga, dan Ia melengkungkanmu sekuat tenaga-Nya agar anak panah melesat cepat dan jauh.
Biarlah tubuhmu yang melengkung di tangannya merupakan kegembiraan.
Sebab, seperti cinta-Nya terhadap anak panah yang melesat, Ia pun mencintai busur yang kuat.

Jumat, 24 Mei 2024

Accelerate Your Competence (AYC)


Bagaimana cara mengakselerasi kompetensi dan semangat kolaborasi di internal Fungsi? Pertanyaan itulah yang menjadi pekerjaan rumah tim Accelerate Your Competence (AYC) di awal kepengurusan. Yaitu di tahun 2022, tahun pertama kali tim Agent of Change (AoC) Fungsi dibentuk. Waktu itu AYC baru terdiri dari 5 orang --yakni Restu, Rizal, Welly, Sofi, dan saya. Selayaknya para newbie, kami masih harus belajar banyak hal. Belajar apa sebenarnya program budaya itu. Belajar bagaimana caranya menuntaskan 'amanah' itu.

Hingga akhirnya di penghujung tahun 2023, kami merasa sangat menikmati kebersamaan AYC. Kebersamaan dalam merealisasikan ide-ide. Kebersamaan yang menginspirasi penulisan esai yang Anda baca saat ini. Tulisan ini memuat kisah, perjalanan, lesson learned, hikmah, apapun yang berkaitan tentang program-program 'perubahan' yang sudah dikerjakan oleh kesepuluh anggota tim AYC (Dzikri, Evan, Filbert, Khanif, Rendy, Restu, Rizal, Sofi, Welly, dan saya).

Mbabat Alas di Tahun 2022

Di masa awal AYC, kami coba pahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh Fungsi (needs). Juga kendala apa yang selama ini dihadapi oleh pekerja & mitra kerja (problem). Keduanya harus yang berkaitan dengan nilai Kompeten dan Kolaboratif, bagian dari tata nilai AKHLAK, yang menjadi inti dari stream AYC. Analisa tersebut dijadikan bahan diskusi & brainstorming guna memperoleh daftar program inisiatif yang bisa dilaksanakan sampai akhir tahun 2022. 

Ketika itu kami menemukan kondisi masih adanya silo mentality di dalam internal Fungsi, juga belum adanya sebuah tools untuk memecah mentalitas tersebut, baik dalam hal pengetahuan/informasi maupun keterbukaan operasional. Sehingga hal tersebut menjadi root cause yang coba diselesaikan dengan 'gerakan bersama' yang digagas oleh AYC.

Berdasarkan hal di atas dan kondisi-kondisi lainnya, rapat tim AYC yang pertama kali diadakan pada bulan Juli 2022 itu pun berhasil menelurkan beberapa ide program. Saya harus membuka file-file lama untuk dapat menjelaskan detail program kala itu, sesuai dengan usulan awal, versi kesatu sebelum akhirnya terdapat banyak penyesuaian.

1. Booster

Sebuah program untuk membagikan ulang konten (broadcast tentang IT, materi sharing session, product update dari vendor, dan sebagainya) ke grup-grup WA Fungsi/Unit. Dilakukan minimal seminggu sekali dikoordinir oleh satu orang anggota AoC, dengan tugas memberi caption dan membagikan kontennya ke grup.

2. Compiler

Sebuah program dengan teknis: meminta ke setiap Fungsi di kantor pusat atau unit untuk membuat satu file materi tentang pekerjaan, teknologi terkini, risalah inovasi, atau yang lainnya. Materi-materi tersebut disimpan pada satu portal (e-learning/sharing folder) supaya dapat diakses pekerja IT yang lain. Setiap bulan terdapat 2 materi yang dibuat oleh Fungsi-fungsi secara bergantian.

3. Collaborator

Tujuannya ialah melakukan kolaborasi dan bekerja sama dengan stream AoC Fungsi yang lain (We Are IT Explorer dan 5-Star IT Rating), dengan komunitas digital perusahaan, atau dengan fungsi-fungsi IT lainnya untuk mengadakan workshop atau sharing session. Targetnya 2 bulan sekali diadakan event berbagi pengetahuan.

4. Sandbox

Mengadakan coaching dengan objektif membuat minimal satu project IT. Materi yang disampaikan pada program ini ialah hardskill/softskill, dengan pemateri (coach) berasal dari eksternal. Diadakan selama satu minggu dalam periode setahun.

5. Internship Cross Function

Sebuah program untuk memberi kesempatan bagi pekerja di internal Fungsi untuk dapat belajar (dalam bentuk intership) ke Fungsi lain. Program ini diadakan pertriwulanan.

Dari kelima usulan di atas, berdasarkan hasil diskusi dan musyawarah AYC, disepakati bahwa program yang diajukan ke manajemen adalah Collaborator dan Compiler. Kedua program inisiatif itu dipilih karena melihat resources kami yang hanya 5 orang, juga feasibility dari kemungkinan program akan dapat dijalankan (sampai tuntas).

Setelah sesi presentasi dan challenge session ke manajemen, terdapat perubahan untuk program Collaborator. Beliau menilai bahwa program tersebut tidak tampak dan terkesan kurang menunjukkan eksistensinya. Selain itu dibutuhkan sebuah program baru sebagai ciri khas Fungsi, yang belum ada di Fungsi lain. Diusulkanlah sebuah program sharing session tetapi dengan format yang santai sambil makan bersama. Sesi makan pun diusahakan menggunakan sistem potluck. Konsep yang disampaikan oleh manajemen itu menjadi masukan bagi tim AYC.

Hingga akhirnya ide program BOSS (Berbagi Obrolan Santai Fungsi) lahir. Sebuah program sharing knowledge yang dilakukan oleh pembicara internal atau eksternal kepada seluruh pekerja & mitra kerja Fungsi dengan tema IT maupun non IT, dengan ngobrol santai sambil makan siang. Program BOSS dan AoC Compiler (rebranding dari program Compiler) menjadi 2 program untuk dibahas pada AoC Summit tahun 2022 yang diadakan di Jakarta.

Seperti yang sudah disebutkan pada paragraf sebelumnya, BOSS merupakan kegiatan sharing session, diperlukan daftar usulan materi dan kira-kira siapa yang dapat membawakan materi tersebut. Serta, karena BOSS adalah sebuah event, maka harus ditentukan tanggal kegiatannya. Beberapa hal itulah yang menjadi pembahasan kami saat kegiatan AoC Summit 2022. Kurang lebih rencana AYC untuk kegiatan BOSS adalah sebagai berikut:
  • BOSS 1 & 2 sudah dilaksanakan saat kegiatan AoC Summit dengan tema financial & interests (hobby);
  • BOSS 3 diusulkan tanggal 14 September 2022 dengan pembahasan "Tips & Trick Continous Improvement Program (CIP)";
  • BOSS 4 pada 12 Oktober 2022 dengan materi Public Speaking;
  • BOSS 5 pada 16 November 2022, diajukan tema Finansial Independent Retire Early (FIRE);
  • Lalu BOSS 6 direncanakan pada 6 Desember 2022 dengan topik "How to be a Good Coach".
Sedangkan untuk teknis AoC Compiler, diputuskan akan menggunakan portal knowledge management (KM) yang sudah ada. Tujuannya supaya pemakaian portal tersebut semakin meningkat. Saat AoC Summit, pembahasan mengenai AoC Compiler hanya berupa pembagian Fungsi kantor pusat dan unit region untuk mengisi materi bulan September sampai Desember. Dari Fungsi-fungsi yang sudah mengunggah materi di portal KM di tiap bulannya, akan dipilih satu materi untuk disampaikan saat kegiatan BOSS.

Kalau dilihat dari timeline BOSS yang sangat padat, harus ada sebulan sekali, ini tidak sesuai dengan 'rencana' AYC yang berjumlah 5 orang. Muncul kekhawatiran tidak akan maksimalnya program tersebut. Syukurlah setelah kegiatan AoC Summit, terdapat tambahan jumlah anggota Agent of Change, termasuk personal baru AYC. Saat itu kami ketambahan 3 orang, yaitu Evan, Sabar, dan Khanif. Sehingga anggota AYC menjadi 8 orang. Dengan masuknya 3 personel baru, dimulailah keseruan AYC.

Dalam pelaksanaan AoC di tahun 2022, kami memiliki sebuah guidance, pedoman, pegangan, yaitu project charter budaya. Di dalamnya berisi latar belakang, tujuan, daftar program, dan timeline. Sebisa mungkin semua stream harus menjalankan program-program sesuai waktu yang sudah ditentukan di dalam project charter. Apalagi itu adalah konsekuensi dari ide yang sudah ditelurkan dan dimatangkan saat kegiatan AoC Summit. Mau tidak mau, meskipun kegiatan AoC dinilai hanya sebatas 'ekstrakurikuler', kami semua harus berkomitmen untuk menyelesaikannya. Waktu itu kami belum memahami bahwa di akhir tahun akan dilakukan semacam penilaian berapa nilai AKHLAK Fungsi kami.

Di dalam AYC sendiri, terdapat sekurang-kurangnya 3 strategi untuk menyukseskan kegiatan BOSS dan AoC Compiler, apa yang kami sebut sebagai kegiatan mbabat alas, mencoba menemukan standarisasi dalam pelaksanannya, supaya di tahun berikutnya, bisa auto-pilot. Tiga strategi yang dimaksud yaitu,

Strategi Pertama, pembagian PIC (Person In Charge) untuk kegiatan BOSS. Karena AYC sudah berjumlah 8 orang dan BOSS tahun 2022 direncanakan berlangsung sebanyak 4 kali, maka masing-masing kegiatan BOSS diperlukan 2 orang PIC. PIC ini tentunya bukan panitia tunggal, melainkan lebih ke menentukan pembagian orang untuk masing-masing jobdesk (meskipun pada akhirnya, pembagian orang-orang yang bertugas itu-itu saja, tanpa ada perubahan berarti). Pembagian tugas inilah yang ternyata menjadikan BOSS lebih 'mature' sampai akhir tahun 2023.

Kalau tidak salah ingat, pembagian PIC untuk kegiatan BOSS 2022 sebagai berikut:
  • BOSS 3: Sofia & saya;
  • BOSS 4: Evan & Welly;
  • BOSS 5: Sabar & Rizal;
  • BOSS 6: Khanif & Restu.
Jika dilihat dari pembagian PIC di atas, dalam satu kali BOSS (selain seri 3) terdapat personel di kantor pusat dan unit region. Selain supaya pembagiannya adil, teman-teman di kantor pusat dan unit bisa saling berbagi gagasan dan aspirasi, dengan melihat kondisi di masing-masing lokasi kerja. Sebab kegiatan akan dilakukan secara hybrid meeting yang diikuti semua pekerja & mitra kerja unit kerja IT di seluruh Indonesia. Contoh aspirasi yang dimaksud adanya pembagian zona waktu, WIB, WITA, WIT, yang membuat kami harus menentukan kapan waktu yang pas dalam pelaksanaan BOSS.

Strategi Kedua, yang paling utama dan amat sangat membantu AYC menyukseskan kegiatan BOSS, adalah pembuatan petunjuk teknis (juknis) berupa file Ms Excel. Saat persiapan BOSS 3, kami menyadari bahwa kegiatan BOSS akan berulang tiap bulannya. Pasti. Maka dari itu, kami menganalisa kira-kira apa saja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Mulai dari booking ruangan, multimedia, penentuan MC, dan lainnya. Kesemuanya merupakan to-do list wajib yang harus disiapkan dan kerjakan saat pelaksanaan BOSS, walhasil kami terpikirkan untuk membuat semacam daftar item to-do list beserta detail penjelasannya. Inilah juknis dari BOSS. Selain itu di dalamnya juga memuat waktu (kapan maksimal item itu harus selesai dikerjakan) dan PIC dari masing-masing item.

Juknis BOSS ini yang selalu menjadi pegangan AYC dalam menyiapkan program sharing session tersebut. Ketika meeting inisiasi ataupun "gerak otomatis", serta koordinasi di group chat selalu mengacu ke dalam pembagian tugas yang ada di dalam juknis. Juknis BOSS, walaupun keliatan sederhana, tapi menjadi aset berharga bagi AYC. 

Strategi Ketiga, membuat desain (khususnya desain poster) yang profesional. Profesional berarti bagus, sesuai tujuan desain, menerapkan teori-teori desain grafis, komposisi warna yang pas, tidak norak, dan yang paling penting sedap dipandang mata. Menjadi bagian dari gerakan anak muda, mengharuskan kami harus melakukan branding ala anak muda. Yaitu mendesain kebutuhan publikasi dengan apik. Mulai dari BOSS 3 sampai yang terakhir, BOSS 9, AYC mempercayakan bagian desain kepada saya. Saya pun akhirnya harus memikirkan dengan matang desain poster kegiatan itu. Riset dan belajar dari desain-desain yang ada di Pinterest menjadi hal yang wajib. Kalau bukan karena AYC, saya mungkin tidak akan pernah se-passionate itu dalam hal desain.

Selain ketiga strategi di atas, sebenarnya ada juga strategi yang lain, contohnya pembuatan formulir feedback kegiatan BOSS, pembuatan rekapitulasi materi AoC Compiler, dan banyak lagi. Mungkin akan saya coba jelaskan sembari menuliskan kisah-kisah AYC di paragraf-paragraf selanjutnya.

Lalu, apabila membahas pelaksanaan program BOSS dan AoC Compiler, 3 dari 4 kegiatan BOSS dapat berjalan sesuai timeline yang ditentukan. Karena satu dan lain hal, untuk BOSS 6 terpaksa harus diagendakan pada tahun 2023. Tetapi ini juga menjadi bukti bahwa meskipun berbeda tahun, AYC masih berkomitmen untuk menuntaskan amanah itu.

BOSS 3, kegiatan official pertama AYC, dengan judul "Jurus Ampuh CIP Mendunia" itu berjalan dengan cukup lancar. 'Cukup' maksudnya tidak benar-benar maksimal. Mungkin karena memang kami belum memiliki gambaran kondisi lapangan dan bagaimana sebaiknya kegiatan sharing session itu, belum lagi dilanjutkan dengan kegiatan makan siang bersama. 

Di bulan berikutnya, BOSS 4 berjudul "Cuap-Cuap Jadi Cuan". Kami mulai mengetahui 'pola' dari pelaksanaan BOSS. Momen yang saya ingat pada kegiatan ini ialah ramainya peserta offline yang hadir. Sangat berbeda saat BOSS 3. Jumlah peserta yang meningkat tersebut berasal dari publikasi yang lebih masif, branding topik yang dibahas --yang lebih menjual, juga kegiatan BOSS yang sudah menjadi bagian dari fungsi kami. Kuantitas tersebut menjadi sebuah tantangan, juga pelajaran berharga. Contohnya dalam hal penentuan berapa banyak makanan yang harus disiapkan.

Kegiatan BOSS terakhir di tahun 2022, yaitu BOSS 5. Setelah seri 3 dan 4 yang diisi oleh pemateri internal, kali ini kami berkesempatan untuk dapat mengundang pemateri dari luar, yaitu Greget Kalla Buana, seorang Islamic Finance Specialist. Tema yang beliau bahas adalah resesi tahun 2023, dan lengkapnya berjudul "Tetap Siaga, Tetap Cuan Di Bayang-Bayang Resesi 2023".

Semua pengalaman saat menjalankan program di tahun 2022 menjadi bekal tim AYC untuk berkreasi di tahun 2023. Pergantian tahun, selain mengharuskan kami untuk menyiapkan ide-ide, juga terdapat sedikit perubahan anggota. Salah seorang personel, yaitu Sabar, tidak lanjut AoC, alhasil dari member 2022 tersisa 7 orang. Menjelang tahun kepengurusan baru, AoC Fungsi kami melakukan penambahan jumlah AoC, untuk AYC sendiri mendapatkan 3 orang baru, yaitu Dzikri, Filbert, dan Rendy. Total anggota AYC pun menjadi 10 orang. Bekal kami menjadi lebih lengkap untuk menyambut semangat perubahan di tahun 2023. Tidak hanya keseruan, sama seperti di awal saya tulisan, tetapi juga kesenangan-kesenangan tercipta dengan tim yang baru.

Bersenang-senang di Tahun 2023: Inisiasi AKHLAK Day

Berbicara mengenai kegiatan AoC tahun 2023, Alhamdulillah AYC dapat melaksanakan semua program 100% sesuai timeline yang ada di dalam project charter. Plus, kami menginisiasi program AKHLAK Day pertama Fungsi. Bagaimana kisah pencapaian tersebut? Semuanya berawal dari ide. Memang, hal terpenting adalah idenya dari kami, sehingga kami benar-benar ingin supaya idenya terwujud. Dari kita, untuk kita (ngomong ama internal AYC)

Sebelum masuk ke pembahasan pencapaian di tahun 2023. Ijinkanlah saya menceritakan kegiatan-kegiatan yang kami lalui terlebih dahulu. Di awal tahun 2023 kami harus melanjutkan pekerjaan rumah tahun 2022 yang tertunda, yaitu BOSS 6. Saat itu tema yang dibahas berbeda dengan apa yang kami rencanakan di awal, karena terdapat masukan dari VP (Vice President) kami, yang sekaligus menjadi pemateri kegiatan tersebut. Tema BOSS menjadi "Melek Analisa Keuangan Fundamental Ala Orang IT".

Kegiatan yang dilakukan tanggal 31 Januari 2023 itu menjadi refreshment dan pemantik api semangat tim AYC, untuk melanjutkan ke-AoC-an di tahun selanjutnya. Bermacam ide dan gagasan kami kumpulkan sebagai bekal untuk dibahas pada kegiatan AoC Summit 2023. Setidaknya ada 4 program kerja yang kami ajukan, yaitu:

1. BOSS+

Kesuksesan di tahun 2022 tentunya menjadikan BOSS kembali untuk diselenggarakan di tahun berikutnya. Tanda 'plus' sebagai penanda adanya peningkatan pada pelaksanaan BOSS, yang merupakan masukan dan evaluasi, seperti lebih sering mengundang pemateri eksternal dan memberikan dana konsumsi untuk semua unit region (tidak hanya di kantor pusat).

2. AoC Compiler

AoC Compiler juga dirasa harus diteruskan sebagai upaya untuk menumbuhkan semangat berbagi pengetahuan di internal Fungsi. Juga, seperti tujuan awal diadakannya program ini yaitu untuk meningkatkan penggunaan portal knowledge management yang sudah ada.

3. Cerdas Cermat

Sebuah program baru dengan format cerdas cermat yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan keilmuan pekerja dan mitra kerja Fungsi. Cerdas Cermat juga akan menjadi parameter penilaian pemahaman nilai-nilai AKHLAK. Materi yang menjadi soal cerdas cermat berkaitan tentang istilah ICT, sistem tata kelola, program budaya, dan informasi lainnya tentang Fungsi kami.

4. Coaching

Teknisnya, akan ada beberapa kelompok coaching yang dipandu oleh seorang coach. Masing-masing kelompok akan membahas tema yang berbeda. Kegiatan ini diadakan tiap tiga bulan sekali.


Keempat usulan program kami bawa ke lokasi AoC Summit. Kegiatan tahunan AoC itu, kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, karena diadakan di luar kota Jakarta, menjadi awal dari semua keakraban AYC. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari itu menjadi kesempatan kami dalam menggodok ide-ide yang ada. Brainstorming, diskusi, presentasi, semua itu ternyata menyenangkan. Pembahasan BOSS+, AoC Compiler, Cerdas Cermat, dan Coaching menjadi lebih intens karena personel yang membahas lebih banyak daripada tahun 2022. Juga kami sudah memiliki pengalaman dan evaluasi saat menjalankan program-program budaya di tahun sebelumnya.

AoC Summit 2023 itu pun mengerucutkan 2 program, yaitu BOSS+ dan Cerdas Cermat. Kami harus mengeliminasi program Coaching karena terlalu banyak program hanya akan membuat kami kewalahan. Sedangkan AoC Compiler dilebur ke dalam kegiatan BOSS+. Oh iya, Cerdas Cermat memiliki nama baru, berdasarkan usulan dari Mas Rendy, yaitu CCIT, Cerdas Cermat IT. Nama program yang kami gunakan hingga akhir. Sehingga, 2 program tersebut, yang merupakan ide yang berasal dari tim AYC, menjadi wajib untuk dituntaskan.

Kegiatan pertama AYC setelah AoC Summit, mempersiapkan CCIT, mulai dari penentuan tema desain, pengumpulan soal (kami sampai harus membuat bank soal), penentuan teknis dan timeline, juga mempersiapkan pendaftaran peserta. Masih segar dalam ingatan saya, pembahasan teknis CCIT dilakukan di ruang VP kosong yang bersebelahan dengan ruang VP kami. Mungkin itu adalah awal dari semua meeting offline yang membuat AYC menjadi lebih akrab. 

Setelah pembahasan teknis, kami melakukan technical meeting CCIT, yang walaupun dilakukan secara online, AYC pun tetap memilih berkumpul di satu ruangan meeting. Selanjutnya juga sama, saat babak penyisihan pertama, pembahasan soal, serta beberapa kali kumpul internal AYC juga dilakukan secara hybrid (karena masih ada 3 anggota tim yang di unit region).

Ada momen tak terlupakan saat pembahasan soal, kami harus mencari tempat atau ruang rapat secara sembunyi-sembunyi. Kami bahkan insecure sendiri, takut kalau soal yang kami bahas bocor, diketahui oleh peserta CCIT. Sebelum meeting kami memastikan suara kami tidak terdengar dari luar. Ini adalah wujud integritas dan keadilan. Supaya hanya kami yang mengetahui soal-soal yang digunakan saat cerdas cermat.

Di sela-sela waktu mengerjakan CCIT, kami juga harus melaksanakan kegiatan BOSS+. Karena ini adalah program lanjutan dari tahun 2022, kami sudah sedikit autopilot mengerjakannya. BOSS pertama yang dilakukan oleh 10 tim AYC ialah BOSS 7 dengan tema "Mastering Stress Intelligence". Pematerinya berasal dari eksternal, Monica Kumalasari, seorang gesture & micro expression specialist. Pembahasan kegiatan BOSS juga dilakukan secara hybrid, 7 orang tim AYC di kantor pusat lebih memilih untuk kumpul, setelah jam istirahat, daripada harus online.

Berkat frekuensi kumpul AYC yang lumayan sering, kami menjadi tidak segan lagi untuk saling bercanda, ngobrol ngalur ngidul. Efeknya, berkat keakraban yang terjalin itulah ide-ide baru bermunculan. Di luar branding atau gimmick dari program yang sudah direncanakan, kami menjadi memiliki banyak gagasan segar. Salah satunya ialah gagasan tentang AKHLAK Day.

Ide tentang AKHLAK Day tidak serta merta muncul, seperti yang kami laksanakan di bulan September 2023 yang lalu. Melainkan kumpulan dari usulan dan masukan dari banyak pihak, selain dari tim AYC sendiri, yang saling melengkapi pengeksekusian kegiatan tersebut. 

Rencana awal event budaya itu muncul ketika tim AYC berkumpul, berdiskusi bersama, mengevaluasi kegiatan babak penyisihan kedua CCIT yang baru saja dilaksanakan. Di ruang meeting 51B itu kami mulai membahas kegiatan final CCIT yang akan diadakan secara offline. Mulai dari lokasi kegiatan, waktu pelaksanaan, usulan publikasi (sampai akhirnya bisa menggaet media perusahaan), finalisasi teknis, sampai pada anggaran yang dibutuhkan. Pembahasan anggaran inilah yang ternyata menjadi tantangan tersendiri. Program yang awalnya hanya untuk menilai seberapa kompeten pekerja dan mitra kerja Fungsi, ternyata menjadi ajang untuk saling menunjukkan eksistensi antar Fungsi. Alias harus dipikirkan matang-matang pelaksanaannya. Sebab, semua orang di internal Fungsi membahas kegiatan baru AYC ini.

Setelah berdiskusi panjang, menakar kira-kira berapa kebutuhan anggaran pelaksanaan final CCIT, juga mencocokkan dengan budget yang telah disiapkan di awal saat AoC Summit, ternyata masih tidak sesuai kebutuhan. Maksudnya 'kebutuhan' di sini untuk mengakomodir kegiatan final versi maksimal. Berbagai ide bermunculan, beberapa di antaranya seperti mengundang vendor untuk menjadi sponsor kegiatan CCIT, mengadakan event di kantor yang lebih kecil, dan menggabungkan kegiatan final CCIT dengan BOSS 8, yang saat itu memang belum dilaksanakan, sehingga anggaran 2 event tersebut bisa saling disubsidi silang. Ide untuk penggabungan final CCIT dan BOSS itu tiba-tiba membuat kami semua bersemangat. Jadi, selain karena sekali gayung dua-tiga pulau terlampaui, event tersebut menjadi ajang untuk peningkatan nilai kompeten dan kolaboratif, core value AYC, yang belum pernah ada sebelumnya. Sehingga tercetuslah rencana kegiatan AYC (Accelerate Your Competence) Day.

Ide tentang AYC Day tersebut kami bawa ke berbagai forum, baik yang resmi (ketika forum Agent of Change Fungsi) maupun yang tidak resmi (obrolan di meja kerja). Sejak awal AYC tidak menutup diri akan masukan-masukan dari luar tim. Hal inilah yang menjadikan kami lebih matang dalam menelurkan ide AYC Day, termasuk kritikan atas gagasan mengundang pihak ketiga sebagai sponsor atau booth di kegiatan tersebut, juga usulan untuk membuat stan-stan kegiatan AoC lainnya, seperti Bye Fat Be Fit dan SHIFT.  

Nama "AKHLAK Day Fungsi" akhirnya kami gunakan saat presentasi ke manajemen. Gagasan untuk membuat sebuah event budaya, yang juga menjadi showcase untuk kegiatan dan program budaya AKHLAK Fungsi kami. Terlebih lagi supaya kegiatan final CCIT dan BOSS 8 dapat terlaksana dengan baik. Lalu setelah sesi presentasi selesai, selepas kami mengantongi izin dari managemen, kami langsung tancap gas untuk merealisasi ide AYC tersebut.

Mulai dari mencari event organizer, menyeleksi soal-soal untuk digunakan saat final, melakukan rekapitulasi skor babak penyisihan (untuk menentukan siapa 5 tim finalis CCIT), mencari pemateri BOSS plus pembawa acara, berkoordinasi dengan dewan juri dan stream AoC juga komunitas digital, dan persiapan-persiapan lainnya, yang kesemuanya kami lakukan dengan senang dan antusias. Tidak lupa juga saat membahas AKHLAK Day ini tim AYC kumpul di salah satu ruang meeting kantor.

Hingga akhirnya pada bulan September 2023 itu kami berhasil melaksanakan kegiatan AKHLAK Day pertama Fungsi kami. Sangat seru dan berkesan. Kira-kira formatnya seperti ini:

1. Opening Speech oleh VP, pembahasan terkait Cloud Computing dan IT Shifting Mindset;
2. BOSS 8, dengan tema "Digital Leadership: Human and AI Collaborations" oleh Panji Wasmana (National Technology Officer Microsoft Indonesia);
3. Game Cyber Security, oleh master of game Fungsi, yaitu Fahmi;
4. Final CCIT dengan 5 finalis (3 dari kantor pusat dan 2 dari unit region);
5. Doorprize di akhir acara.

Selain itu, kami juga membuat stan/booth yang mewakili masing-masing nilai budaya, yaitu:
  • Amanah: Stream "We Are IT Explorer";
  • Kompeten: Stream kami sendiri, yaitu "Accelerate Your Competence";
  • Harmonis: Stream "5-Star IT Rating";
  • Loyal: Survey kepuasan pelanggan;
  • Adaptif: UMKM Fungsi kami;
  • Kolaboratif: Komunitas digital perusahaan.
Salah satu strategi yang berkesan saat pelaksanaan AKHLAK Day, supaya semua peserta dapat berkunjung ke semua stan, yaitu dengan gamifikasi. Saat registrasi, setiap peserta akan mendapatkan satu kertas yang bertuliskan "Saya ___ (diisi nama sendiri), berkomitmen untuk menerapkan:" dengan 6 kotak di bawahnya. Kotak-kotak inilah yang berisi misi AKHLAK Day. Semua peserta harus mengumpulkan stiker huruf yang menjadi pelengkap kata "AKHLAK" dari 6 stan yang ada. Setelah stiker lengkap, peserta berhak untuk mengikuti undian di akhir acara.
 
Meskipun ada peran rekan-rekan AoC yang lain, seperti dalam penjagaan stan dan perlengkapan juga acara, tetapi 90% persiapan dan eksekusi kegiatan ini dilakukan sepenuhnya oleh tim AYC. Iya, kami bersepuluh. 

Selain to-do list wajib yang disebutkan di atas, tim internal AYC sendiri banyak memberikan sumbangsih dan inisiatif demi terlaksananya kegiatan ini, contohnya yaitu pembuatan desain poster dan video bumper (ini tugas saya, yang hampir-hampir membuat saya stres karena perfeksionisme), pembuatan aplikasi scoring oleh Filbert, penggunaan Meta Oculus di stan AYC (thanks to Mas Rendy), usulan pemateri yang pro dari Khanif (yang satu almamater dengan dia), usulan tema BOSS dari Mas Dizkri (juga inisiatifnya dalam penyediaan stan dan souvenir), teknis dan pengemasan acara dari jagonya sie acara Sofi, waktu yang dikorbankan untuk hadir ke Jakarta (yang sangat berpengaruh pada tim AYC, yaitu Mas Rizal, Restu, dan Welly), juga Evan yang bersedia menyelesaikan semua administrasi event AKHLAK Day.

Saya sangat bersyukur ide AKHLAK Day itu muncul di AYC, yang membuat kami merasakan asyiknya ekstrakurikuler kantor. Karena mulai dari persiapan sampai eksekusinya ide-ide itu menjadi pengalaman yang luar bisa. Apresiasi setinggi-tingginya untuk tim AYC.

Kembali ke pertanyaan awal. Bagaimana ide yang sudah dibuat itu, bisa dieksekusi dan akhirnya dapat terlaksana dengan baik? Menyambung dari pembahasan sebelumnya, bahwa program kerja yang tertulis di dalam project charter hanya akan menjadi tulisan, timeline hanya akan petunjuk kapan kami harus melakukan apa, tanpa adanya eksekusi yang bagus, ide hanyalah sebatas ide, maka itulah tugas saya sebagai koordinator untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Tetapi faktor terbesar tentunya adalah tim itu sendiri. Sebuah tim yang dapat berkolaborasi untuk menjalankan proker tepat waktu. Sekali lagi, apa yang membuat semuanya mau melakukannya? Mungkin salah satunya karena kami menerapkan fun theory. Kami melakukannya karena berkumpul bersama adalah hiburan tersendiri. Bercanda saat meeting offline, ngomong ngelantur, merupakan sarana rekreasi setelah penat dengan pekerjaan.

Memang, hal itu bisa terlaksana karena 7 dari 10 anggota AYC berada di Jakarta, sehingga kami lebih memilih untuk melaksanakan rapat secara offline. Hanya dengan memesan ruang rapat, kami sudah bisa berkreasi tanpa batas. Saya ingat kami pernah ditegur oleh salah seorang peserta meeting di ruang sebelah, karena kami sangat 'ramai'. Ya, memang tidak ada yang bisa menjamin rapat anak-anak muda seperti meeting orang tua yang serius. Tentu saja porsi bercanda lebih banyak. Setelah teguran itu kami berpindah ruangan. Mengingatnya membuat saya ingin tertawa.

Seperti yang pernah saya tulis di blog sebelumnya (baca lebih lengkap: Son Isol Production: Game Studio Pertama dan Fun Theory), mengutip dari Ian Bogost, fun theory tidak akan berhasil tanpa adanya komitmen. Kami mungkin sangat menyukai kumpul AYC, tapi kami juga sangat serius untuk bisa menyukseskan semua kegiatannya.

Selain untuk bersenang-senang, melaksanakan strategi yang sama dengan tahun 2022, strategi lainnya untuk men-seratuspersen-kan timeline di project charter budaya, ialah membuat laporan/evidence untuk setiap kegiatan. Mulai dari babak Cerdas Cermat IT (CCIT), yaitu Babak Amanah 1, Babak Amanah 2, serta kegiatan BOSS. Hal ini menjadikan semua administrasi dan dokumentasi AYC menjadi lebih rapi, yang juga membuat kami dapat memonitor pelaksanaan program-program menjadi lebih baik.

Hal yang sama juga kami lakukan untuk program kerja terakhir kami di tahun 2023, yaitu BOSS 9. Kali ini kami mencoba hal yang baru, yaitu menggunakan format talkshow. Tema yang dibahas yaitu enterpreneurship. Judul lebih lengkapnya "Punya Bisnis? Tetapi Tetap Perform di Pekerjaan Apa Bisa?"

Sehingga, ketika kami melakukan evaluasi dan refleksi, 100% eksekusi program di tahun 2023 masih sama dan sesuai dengan ide yang kami presentasikan saat AoC Summit. Konsisten dan tepat waktu. Bahkan kami pun menginisiasi kegiatan AKHLAK Day di fungsi. Tentu saja kegiatan tersebut tidak akan berjalan tanpa bantuan dari stream AoC lain dan dukungan para manajemen.

Itulah serangkaian kisah AYC di tahun 2023, mungkin ada banyak hal yang belum bisa saya tuliskan, beberapa di antara tentu saja (hanya) menjadi core memory di otak saya. Hikmah-hikmah yang muncul tentu menjadi pelajaran berharga untuk kemudian hari.


Istirahat di Tahun 2024

Kalau boleh jujur, seharusnya AoC tidak hanya sekadar menjalankan program kerja, tetapi melihat ini sebagai ikhtiar jangka panjang, yang hasilnya akan dirasakan di tahun-tahun mendatang. Sesederhana membawa pertanyaan "apa yang ingin diubah?" Dalam kasus AYC, kami ingin mengubah silo mentality yang ada di dalam internal Fungsi, melalui program-program yang kami susun. Tentunya tidak semua program harus diperlakukan seperti melaksanakan pekerjaan, bukan? Harus ada sedikit pendekatan fun. Maka dari itulah di tahun 2022-2023 kami menjadikan tools yang bernama BOSS, AoC Compiler, CCIT untuk meningkatkan kompetensi dan semangat kolaborasi.

Pergantian kepengurusan ternyata memberikan sedikit efek kepada AYC. Selain karena petunjuk teknis program budaya di tahun 2024 berbeda dengan tahun 2023, entah apa maksud lainnya dari pembina AoC, sehingga terdapat perombakan total pada stream-stream yang ada. Mau tidak mau, AYC harus vakum, menjadi stream bayangan. Orang-orangnya masih menyimpan semangat "Accelerate Your Competence", tetapi secara formal sudah terpecah ke stream-stream yang baru. Program seperti BOSS, AoC Compiler, dan CCIT, apalagi AKHLAK Day, bukan lagi menjadi milik AYC. AoC Compiler dan CCIT bahkan tidak ada lagi yang mau melaksanakan. Warisan CCIT yang tersisa hanya akun quizizz yang masih digunakan oleh tim AoC. 

Hal-hal itulah yang menjadikan AYC tidak eksis lagi di dalam Surat Perintah (SP) AoC Fungsi. Tidak masalah. Toh, yang penting WA Group-nya masih aktif. Semangat ber-AYC juga pernah kami sampaikan saat AoC Summit 2024, apa saja ide dan gagasan kami untuk menyambut program kerja AoC 2024, yang ternyata hanya sebatas ide dan gagasan. Berbeda dengan tahun 2022-2023, waktu kami bersenang-senang dalam membesarkan AYC, di tahun 2024 kami harus beristirahat. Tetapi saya yakin, teman-teman AYC yang lain masih bersemangat di stream yang baru.

Tambahan: Sebuah Ide

Di WA Group AYC, pascavakum, saya pernah mengusulkan sebuah ide. Accelerate Your Competence bertransformasi (AYC 2.0) menjadi sebuah forum komunikasi (forkom) Agent of Change Fungsi ICT di Holding dan Subholding. Forkom tersebut masih membawa core value AYC, yaitu kompeten dan kolaboratif. Adanya AoC di fungsi ICT masing-masing entitas menjadi sebuah peluang untuk dapat berkolaborasi dalam peningkatan kompetensi pekerja dan mitra kerja. Dan usulan program AYC 2.0 tersebut adalah CCIT (Cerdas Cermat IT). Ini juga mengakomodir ide kami untuk menjadikan CCIT sebagai event besar tahunan, yang juga dapat diikuti oleh pekerja & mitra kerja subholding. Setelah ditiadakannya CCIT secara formal dari project charter budaya tahun 2024. Apa yang saya sebut sebagai beyond AoC. AoC harus berpikir menembus batas-batas yang ada. Apabila memang CCIT tidak ada secara formal di internal Fungsi, apabila memang ingin untuk diteruskan, maka harus mencari cara yang lain. Sehingga AYC 2.0 itulah yang saya usulkan.

Begitulah kira-kira perjalanan kurang lebih 2,5 tahun AYC di Fungsi kami. Selanjutnya saya akan menuliskan di esai yang terpisah, apa-apa saja hal yang saya pelajari ketika merealisasikan ide-ide bersama AYC. Salah satunya sudah saya temukan judulnya, yaitu "AYC adalah Guru Saya." Tulisan-tulisan tersebut tidak bermaksud apa-apa, selain untuk mengapresiasi kesembilan tim AYC (selain saya), yaitu Dzikri, Evan, Filbert, Khanif, Rendy, Restu, Rizal, Sofi, dan Welly. Juga sebagai ikhtiar keabadian, supaya kisah AYC ini dapat menjadi harta karun hikmah yang dapat kita temukan di masa depan. 

Sayang sekali rencana kita untuk foto bareng di studio masih belum terlaksana, Gengs.