Selasa, 31 Desember 2024

Manusia-manusia Gagal

 Tiga ratus enam puluh enam hari sudah kita lewati. Banyak sekali kisah sukses yang kita baca, dengarkan, harapkan supaya kisah-kisah itu menjadi bagian dari hidup kita. Cerita kesuksesan manusia, dengan pekerjaan mereka, bisnis, hubungan percintaan, pendidikan, pertemanan, atau dalam hal lainnya. 

Kebanyakan dari kita amat menyukai, bahkan menikmati berbagai pengalaman sukses seperti itu. Biografi orang-orang sukses laris manis. Seminar-seminar motivasi jualan kesuksesan penuh sesak. Linimasa, reels, FYP dijejali orang-orang kaya, bahagia, sukses. Kita sempatkan memberikan like dan love.

Karena, mungkin, yang ditulis dan dimunculkan itu ialah luaran yang berbau harum, semerbak, layaknya bunga. Semua yang terlihat indah, menawan, warna-warni. Memunculkan kekaguman. Sehingga kesuksesan merupakan hiasan dinding dan pameran dan pemandangan. 

Pengharapan atas kesuksesan menjadi sarapan, makan siang, dan makan malam kita. Angan-angan atas kesuksesan mengalir di dalam darah, sehingga amat candu.

Namun, tulisan ini bercerita tentang manusia-manusia gagal. Menjadi monumen bagi siapa saja yang gagal. Menghadirkan pigura untuk mereka yang gagal, secara lahir, batin; secara makna, konteks; secara implisit, eksplisit. Menjelma medali penghargaan atas ketabahan, kesialan, keikhlasan, kemuakan, kelemahlembutan, ketidakberdayaan, keterusterangan, kejujuran, ke-ke-an yang lainnya.

Manusia-manusia gagal seperti ditakdirkan untuk menjadi orang buangan. Yang kisahnya tidak perlu untuk diceritakan kepada khalayak ramai. Cukup ditutupi oleh kain kafan, atau bahkan daun pisang. Saking tidak layaknya untuk diketahui.

Padahal, dari merekalah kita bisa mendapatkan banyak pelajaran. Hikmah. Seperti semangat dari tulisan dan blog yang sedang Anda baca ini. Mengajak kita melihat dari sudut pandang yang lain, dari pojok ruang waktu. Mengintip dari lubang kecil pintu kebesaran Tuhan.

Baik. Tulisan ini akan bercerita tanpa struktur yang jelas, bisa saja lompat dari satu pembahasan ke pembahasan yang lainnya. Sebab memang ditulis tanpa banyak persiapan. Hanya ditulis dalam satu malam, sembari menyiapkan diri untuk kesalahan penyebutan tahun "2024", alih-alih "2025", dalam seminggu ke depan.

Pernahkah Anda menanyakan ulang definisi "kegagalan" dan "kesuksesan"? Apakah ada sedikit gelitikan ketika membaca pembukaan tulisan ini? Apakah yang menjadi sukses itu hanyalah mereka yang kaya dan bahagia? Tapi memangnya apa dan bagaimana yang disebut dengan "kaya" dan "bahagia" itu?

Dalam tulisan ini, pertama-pertama kita akan menggunakan pemahaman yang umum atas kegagalan dan kesuksesan. Yakni, kalau berhasil mencapai suatu tujuan, ya itu disebut sukses. Kalau tidak, berarti gagal. Sampai sini, semoga kita masih sepemikiran, satu frekuensi. Karena memang itulah konstruksi berpikir yang ingin dibangun.

Saat menyebut "manusia-manusia gagal", otak kita seharusnya akan memikirkan mereka yang belum atau tidak atau sejak awal sama sekali tidak ditakdirkan untuk meraih apa yang dicita-citakan, apa yang diimpikan, apa yang diharapkan. Sebab dasar itulah, kita menyebutkan "gagal".

Hikmah pertama yaitu tentang calon pemimpin gagal. (Saya tidak ingin menuliskan capres gagal, sungguh).

Ketika negeri ini memiliki satu calon, atau mungkin dua, atau mungkin banyak calon, yang menawarkan keadilan, kesetaraan. Namun, harapan dan asa itu hanya tetap menjadi harapan dan asa. Nilai itu gagal. Meskipun sebenarnya yang gagal bukan sang calon, melainkan negeri ini.

Pun sang calon juga pernah mengatakan, jika beliau terpilih, maka Allah ijinkan. Tapi jika tidak, Allah menyelamatkannya. Berarti sepertinya manusia gagal satu itu tidak benar-benar gagal. Bisa jadi dengan tidak terpilihnya beliau, ia telah sukses untuk menghindari mara bahaya.

Hal yang sama juga pasti sering kita alami. Apa yang kita pikir suatu kegagalan, karena tidak terpilih menjadi ini dan itu. Ternyata menyelamatkan kita, jiwa kita, pikiran kita, mental kita, akal sehat kita. Contohnya ketika tidak terpilih menjadi perwakilan perusahaan dalam ajang internasional. Atau saat promosi tidak kunjung diberikan. Yang ternyata menyelamatkan keluarga kita dari berbagai fitnah.

 Dua belas bulan berlalu tentunya tidak selalu hitam, tidak selalu putih, pasti abu-abu, harapannya sih warna-warni. Inilah pengantar ke hikmah kedua. Tadi masih membahas tentang "calon", sekarang langsung membahas tentang pemimpin yang gagal.

Apakah presiden gagal? Apakah gubernur gagal? Apakah walikota, bupati gagal? Apakah camat gagal? Apakah lurah, kepala desa gagal? Apakah ketua RW gagal? Apakah ketua RT gagal? Apakah kita, sebagai pemimpin di kantor, pemimpin keluarga, pemimpin bagi diri sendiri telah gagal?

Kita telah banyak mewarnai hari-hari. Kita sebagai diri sendiri, perlu banyak bercermin. Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya, rakyat adalah cerminan dari pemimpinnya. Jadi mungkin saja ketika pemimpin yang kita nilai gagal, hanya sebuah refleksi atau pantulan dari diri kita yang gagal. Gagal memberikan saran & masukan. Gagal melaksanakan fungsi check & balance. Gagal dalam fungsi controlling.

Kuas-kuas yang kita pegang, gagal untuk menyumbang goresan warna yang indah. Padahal sejak awal sudah sepakat lukisan itu diselesaikan dengan kolaborasi.

Berbicara mengenai kepemimpinan, memang tak ada habisnya. Apalagi jika disangkutpautkan dengan keberhasilan, kesuksesan, kegagalan. Belum lagi berbicara tentang multiple effect, domino effect, atau bahkan butterfly effect!

Yang terpenting, di tahun 2025 nanti kita tidak salah lagi dalam memilih pemimpin. Dan tidak gagal lagi untuk menjadi pemimpin. (Seperti yang saat ini saya rasakan) Hal paling utama, kita kembali menjadi manusia, yang penuh awas dan kepekaan. Bukankah cermin akan memantulkan bayang apapun yang muncul di depannya? Jadi apabila otak kita, hati, pikiran, nurani bersih dan mengkilap, pasti kita bisa membedakan mana pemimpin yang akan sukses dan gagal. Dalam membimbing kita kembali kepada Rabbal 'alamin. Ya, walaupun jalannya bermacam-macam.

Bagi kita yang di kantor diamanahi sebagai seorang pemimpin, koordinator, manager, team lead, atau apa pun sebutannya, pasti banyak merasa gagal. Atas kejadian-kejadian yang terjadi. Peristiwa yang membuat kita bingung, sebenarnya bisa kita kontrol atau tidak. Atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh tim kita. Orang-orang yang membuat kita bingung, sebenarnya pesan kita sudah sampai atau belum kepada mereka.

Perasaan gagal itu, oleh Tuhan pasti sudah didesain sedemikian rupa supaya kita bisa kembali kepada-Nya, kembali mengingat-Nya. Sehingga perlahan hikmah, satu per satu, muncul. Itulah yang terpenting. Hikmah. Menjadikan manusia-manusia gagal seperti kita akan menjadi "manusia" sesungguhnya. Seutuhnya.

Sayangnya, perasaan gagal itu tidak hanya menghampiri para pemimpin. Perasaan yang tiba-tiba muncul ketika kita sedang sendiri. Sebagai pribadi pun kita sempat "dikaruniai" kegagalan. Inilah hikmah ketiga.

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi anak yang gagal. Karena tidak bisa sepenuhnya membahagiakan orang tua, contohnya: (yang terparah) saat usia 30 tahun tapi belum bisa memenuhi ekspektasi keduanya, supaya kita bisa segera menikah. Padahal di luar sana, banyak orang yang berhasil dan sukses dalam pernikahan. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Apakah ekspektasi kita yang terlalu tinggi?

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi kakak yang gagal. Karena tidak bisa seutuhnya sebagai tempat curhat adik-adik kita. Pundak kita yang tidak pernah menjadi sandaran mereka. Bahkan ada kalanya, komunikasi kita dengan adik yang tidak seperti keluarga lainnya. Hanya pragmatis. Tidak bisa berbasa-basi. Sementara itu, banyak kakak-adik yang harmonis, tumbuh bersama untuk bisa saling mendukung. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Apakah trauma masa kecil yang memengaruhi hubungan tersebut?

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi teman dan sahabat yang gagal. Ada berapa teman atau sahabat yang kita miliki? Apakah satu per satu kita sudah kehilangan komunikasi dengan mereka semua yang dulunya mesra, dulunya akrab, konco kenthel? Seberapa kecil circle pertemanan kita sekarang? Apakah karena kita gagal untuk menjaga perasaan dan hubungan yang baik? Apakah kita sebrengsek itu, sehingga kita tidak sudi lagi untuk menghubungi mereka? Padahal dulu sering sekali mengunjungi rumah, ketika kita pulang kampung.

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi warga negara yang gagal. Bangsa yang gagal. Anggota masyarakat yang gagal. Tidak bisa memberikan kontribusi apa pun. Padahal, sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain. Apakah memang kepemimpinan nasional yang juga "gagal", yang membatasi kita untuk bisa sukses menjadi warga negara, bangsa, anggota masyarakat? Berarti kembali lagi karena kita gagal memilih pemimpin yang benar? Tentu semuanya berkelindan.

Sebagai pribadi, kita merasa menjadi hamba yang gagal. Karena tidak bisa secara kaffah menjalankan ibadah, mengikuti perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, menjalankan amar makruf nahi munkar, menjadi khalifah fil ard, menyembah sujud hanya kepada Tuhan yang Esa. Gagal total. 

Tidak perlu khawatir. Tak usah risau. Tuhan Maha penerima tobat. Maha pengampun. Maha membolakbalik hati. Maha pengabul doa. Sampai detik ketika menulis, membaca, dan merenungi tulisan ini, kegagalan-kegagalan tersebut bisa saja akan diganti, diputar 360 derajat, menjadi kesuksesan. Aamiin.

Waktu itu seperti pedang, apabila tak pandai menggunakannya, kita yang akan ditebas. Waktu dan kesempatan di 2025 yang akan kita hadapi esok hari, serta pemahaman akan rahmat-Nya yang begitu luas memenuhi alam semesta ini, semoga menjadikan kita manusia-manusia yang gagal dalam kemaksiatan. Gagal dalam menimbun dosa. Gagal dalam terjerumus ke dalam apa-apa yang membuat Tuhan tidak rido dan murka.

Atau kalau sejak awal, Anda tidak punya niatan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, bisa disumbangkan kepada orang-orang yang amat sangat membutuhkan waktu ekstra. Bagi mereka yang datang ke kantor sebelum jam setengah 7 dan pulang selepas maghrib. Karena begitu banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Bagi mereka yang berusaha untuk tidur 7 jam, semata-mata agar bisa bangun pagi untuk lari (atau jogging) demi jantungnya yang lemah.

Namun, bagaimana pun, semua ini, keputusan ada di tangan masing-masing. Mau menjadi manusia gagal yang seperti apa?

Manusia adalah makhluk dinamis. Hatinya begitu mudah berubah-ubah. Ia seperti wadah yang siap menerima hidayah dari Tuhan. Di satu waktu menjadi tempat sampah tipu daya iblis!

Akhirnya, kegagalan satu, dua, tiga, beribu-ribu kegagalan akan mengantarkan kita kepada kesuksesan untuk bisa bertemu dengan-Nya. Dengan catatan, dari semua kegagalan itu, selangkah demi selangkah kita menjadi semakin bijaksana.

Berlari Lebih Kencang

Kata-kata "Semangat Perubahan" dan "Berlari Lebih Kencang!!" tertulis di sebuah poster, terletak di atas salah satu meja kantor. Tulisan karya saya itu beresonansi di dalam kepala pada suatu sore, ketika ruangan Fungsi kembali sunyi. Ia membawa pikiran ini merefleksi 6 bulan ke belakang. Paruh kedua tahun 2024.

Perubahan-perubahan yang terjadi: tidak tidur lagi setelah salat subuh; membaca buku dan berlari setelahnya; berangkat ke kantor sebelum pukul 6 tiap paginya. Hidup menjadi lebih sehat, menjadi lebih produktif, dan lebih dipenuhi rasa syukur. (Bahkan berat badan turun lebih dari 10 kilogram!)

Apakah terjadi karena efek tulisan poster itu? Poster yang sudah terpampang dari Agustus 2023, dengan jargon "semangat perubahan"? Ataukah tulisan itu hanya sebentuk resonansi atau refleksi atau cermin, alih-alih motivasi? Ah, yang pasti, sebenarnya, ada beberapa alasan yang menjadikan gaya hidup berubah. Atau demikianlah yang saya rasakan. Bolehkah saya sedikit bercerita?

Jumat, 14 Juni 2024. Dari Stasiun Gambir, di dalam Kereta Pandalungan kami bertemu. Duduk bersebelahan di gerbong 7 kursi ke-12. Saya yang melamun, bertanya bagaimana kabar kedua orang tua yang sedang melaksanakan ibadah haji. Dia, seorang perempuan yang memulai pembicaraan dengan meminta ijin memasang pengisi daya telepon genggam, mengangguk, lalu meneruskan persiapannya. Merapikan tas, mengeluarkan kudapan, lalu dua buku bacaan. Benda terakhir yang ia keluarkan dari dalam tas, terus dimasukkan ke dalam kantong kursi kereta itu, sungguh membuat saya terkesima. Tak bisa menahan diri untuk tidak melanjutkan obrolan.

"Biasanya kursi nomor 12 ini ada di barisan depan," kataku berbasa-basi. Ia mungkin kaget dengan topik pembicaraan yang saya mulai. Namun, itulah awal mula bagaimana kami berkenalan. Dan bukan satu-satunya hal menarik yang saya rasakan. Dan syukuri. Sedikit sesali. Sampai hari ini.

Di dalam kereta malam itu, sebelum kami menyebutkan nama masing-masing, dia menanyakan lokasi kerja. Saya yang tidak biasanya mengobrol dengan orang asing di sepanjang perjalanan, menjawab tanpa menyebutkan nama perusahaan. Hanya menyampaikan nama jalan lokasi kantor berada. Mencoba memberikan teka-teki. Jalan TB Simatupang, sebutku. Lalu perempuan berjilbab itu coba menebak beberapa nama perusahaan. Tapi kemudian saya timpali pertanyaan serupa, menanyakan di mana tempat kerjanya. Ia menjawab "kantor seberang Gambir".

"Seberang Gambir?" tanya saya. "Perta****?" Entah mengapa nama itu yang langsung muncul. Ia pun mengangguk. Perasaan aneh entah apa tiba-tiba datang. Saya melanjutkan, "Gak nyangka ketemu orang Perta**** juga di dalam kereta. Mbaknya Fungsi apa?"

Kereta Pandalungan, yang nantinya akan dipaksa mendengarkan obrolan kami itu, melesat menembus malam. Kelas eksekutif yang beberapa kali menjadi pilihan untuk pulang. Kereta yang sempat saya putuskan tidak akan dinaiki lagi, karena apa yang akan saya ceritakan ini.

Setelah bertukar informasi tentang Fungsi tempat kami bekerja, kebekuan mencair. Percakapan menjadi sedikit lebih akrab. Obrolan berlanjut ke basa-basi lainnya. Tentang beberapa nama orang yang mungkin saja saya kenal. Tentang di mana kami berkuliah dulu, apa alasan bekerja di perusahaan ini. Tentang berapa lama kami akan berada di rumah sebelum kembali ke perantauan. Dan topik-topik pembicaraan yang terbagi dalam beberapa segmen. Sebab, bolak-balik ia harus ke gerbong restorasi kereta guna melanjutkan pekerjaannya atau bertemu dengan seorang teman lama.

Sambil menunggunya, saya melanjutkan untuk membaca buku. Dua buku cetakan, yaitu tentang agama buddha dan satunya, tentang 7 hari di alam kubur serta e-book dari Google Playstore (buku karangan Cak Nun, seperti biasa).

 “You can search throughout the entire universe for someone who is more deserving of your love and affection than you are yourself, and that person is not to be found anywhere.” 
– Buddha

Apabila sebuah motivasi boleh berbentuk sesosok manusia, maka perempuan itulah salah satunya. Begini: perjalanan selama lebih dari 8 jam, dari Jakarta ke Cepu (tujuan dia pulang) itu memberikan sejumlah gagasan, sembari merasakan doa-doa orang tua dari tanah suci memenuhi udara di sekeliling.

Gagasan pertama. Selepas wanita berkacamata itu kembali dari restorasi dan duduk di kursi, fokus saya terganggu. Saya biasanya cukup abai dan lebih memilih asyik dengan buku yang dibaca, kali ini sangat mengharapkan berjalannya sebuah imajinasi, skenario yang sedari tadi tercipta.

Ingat dua buku yang dimasukkan ke kantong kursi, yang tertulis di paragraf awal? Saya membayangkan, di dalam gerbong yang tenang dan syahdu, kami berdua bersama-sama membaca buku. Terbius dengan tulisan-tulisan. Terserap ke dalam cerita yang kami baca. Bersandingan.

Pasti akan menarik sekali!

Sesuai harapan, momen yang ditunggu-tunggu pun terjadi. Saya jarang melihat orang lain membaca buku selama di dalam kereta. Kebanyakan, orang-orang menghabiskan waktu dengan ponsel pintarnya. Namun, kali ini berbeda! Wanita itu menemani saya membaca buku.

Membaca buku sendiri itu seru, sampai kita bingung mau menceritakan isi buku kepada siapa. Hingga akhir tahun 2024, saya telah membaca 85 buku. Delapan puluh lima. Dan tidak pernah mendiskusikan buku-buku itu dengan siapa pun. Sebelum atau setelah perjumpaan tersebut. Buku-buku yang nantinya setiap pagi saya baca (baik di kamar indekos sebelum berangkat kerja, maupun di meja kantor mengawali hari). Serta buku-buku yang mengawani perjalanan, seperti saat bersanding perempuan itu. 

Ternyata, memiliki teman pulang yang sama-sama gemar membaca buku itu menyenangkan. Hal yang juga kami gunakan sebagai bahan obrolan. Ia mengakui baru suka baca buku setahun belakangan, dan tipikal yang mageran. Tidak se-kutu-buku itu, istilah yang ia pakai beberapa bulan kemudian di direct message Instagram, demi menolak "gagasan" saya secara halus.

Gagasan yang sebenarnya sudah lama saya punya, tetapi sudah lama pula ia terkubur. Akibat perjumpaan di dalam kereta itu. Mengharapkan menua bersama seorang teman penggila buku.

Gagasan kedua. Tidak ada tempat yang lebih mustajab, untuk dikabulkannya doa-doa, selain di tanah suci. Di sana, diyakini doa tidak akan ditolak oleh Allah subhanahu wata'ala. Dalam lamunan di kereta itulah, saya memikirkan kemungkinan-kemungkinan isi dari doa yang dilantunkan kedua orang tua. Satu dari ribuan kemungkinan yang membawa saya dan perempuan itu, kami berdua duduk bersebelahan di baris ke-12 kereta malam. "Dipertemukan" oleh buku dan perusahaan yang sama.

"Kebetulan aja itu, Mas," ia masih teguh mengatakan, ketika saya memulai obrolan kembali via direct message, saat menyampaikan ulang gagasan itu bersamaan dengan ucapan "HBD" selang seminggu dari hari ulang tahunnya di bulan Desember. Tidak masalah. Jikalau ternyata memang kebetulan, pertemuan itu adalah kebetulan paling manis. The sweetest coincidence.

Jadi, saya membayangkan doa yang disampaikan Ayah-Ibu di Mekah, agar anak sulungnya bisa hidup lebih sehat (seperti pembukaan tulisan ini). Tidur lagi setelah salat subuh, merupakan kebiasaan buruk yang saya mulai dari jaman mahasiswa baru. Sehingga butuh perjuangan ekstra untuk mengubahnya, menghentikannya. Butuh banyak motivasi dan alasan kuat dan kegiatan pengganti, supaya tidak beranjak lagi ke atas tempat tidur.

Tak lama setelah pertemuan dengan perempuan itu, setelah ia mengucapkan "Have a safe trip, Mas!" dan turun di Stasiun Cepu, ide itu tiba. Saya ingin menyambung pertemuan. Menangkap umpan yang diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala. Singkat cerita, kami saling berkomunikasi via Instagram. Itulah awalan dari cerita yang kita tahu bagaimana akhirnya. Namun, hal terpenting adalah apa yang ingin saya sampaikan. Hikmah dari pertemuan itu.

Dari Instagramnya saya bisa menyimpulkan, bahwa perempuan itu orang yang cukup sehat, fit. Hobinya mendaki gunung, berpetualang ke alam terbuka, mentadaburi ciptaan-Nya secara langsung di hamparan bumi. Berbeda dengan saya, seorang pria dewasa yang masih terjebak dalam hidup gini-gini aja. Pria obesitas yang mageran. Hanya bisa menjelajahi dunia lewat buku-buku yang dibaca.

Meskipun saya menganggap dialah pecutan untuk bisa hidup lebih bugar, lebih rajin berolahraga, khususnya lari. Tetapi saya tidak bisa benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri saya di rentang bulan Agustus-Desember 2024 ini. Apa yang menyebabkan hampir tiap pagi bergegas memakai celana training dan sepatu lari setelah salat subuh. Dan ketika penolakan perempuan itu pun, di suatu sore, alih-alih dipenuhi oleh kesedihan, saya memilih untuk berlari ke Jalan Sudirman.

Sehingga, tidak ada alasan yang paling masuk akal, kecuali Allah-lah yang menggerakkan hati dan pikiran dan jiwa dan raga saya, untuk bisa hidup lebih sehat. Sehat jasmani dan rohani. Berkat doa orang tua.

Alasan religius itu pula yang selalu saya sebutkan, saat orang-orang (teman-teman dan rekan kerja) yang menanyakan mengapa saya tampak begitu kurus, terjadi perubahan sangat drastis. Yaitu karena Allah subhanahu wata'ala. Dia yang pasti menggerakkan saya dan perempuan itu memilih kursi nomor 12 A-B. Dia-lah yang memberikan ide supaya buku-buku itu terselip di dalam tas ransel kami, yang bertugas sebagai jeda antara dua obrolan. Dengan tujuan, perempuan itu menginspirasi saya.

Berikutnya, di dalam pekerjaan, saya juga menyadari dan pernah membayangkan, bahwa saya harus menjadi contoh yang baik bagi seluruh anggota tim. Harus datang ke kantor paling pagi dan pulang lebih sore daripada yang lainnya. Serta harus memiliki waktu yang lebih banyak untuk bisa lebih produktif, apalagi setelah saya hanya sendiri sebagai team lead. Sehingga, Allah yang Maha Baik itu menyiapkan serangkaian skenario. Mulai dari orang tua haji, pertemuan di kereta, sampai lari tiap pagi. Baik saat merasa kasmaran maupun ketika patah hati.

... Dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”
– HR. Bukhari

Lalu, apakah ini semua hanya kebetulan? Seperti yang terus menerus disampaikan oleh wanita itu. Mungkin untuk satu hal, yaitu gagasan untuk bisa bersanding dengannya di sisa umur, pertemuan itu hanyalah sebuah kebetulan. Sama-sama membaca buku dan sama-sama berkantor di perusahaan yang sama (walaupun saya holding dan dia subholding). Semua itu kebetulan belaka.

Namun, untuk alasan mengapa saya menjadi lebih sehat dan rajin lari pagi, hingga membakar belasan kilogram berat badan, tidak mungkin sebuah kebetulan. Itu semua adalah suratan takdir. Saya meyakininya. Dan harus disyukuri, karena awal usia 30 tahun itu saya bisa membuka banyak kemungkinan. Potensi. Hal-hal baik tentunya akan mengikuti. Karya-karya yang menunggu untuk diciptakan. Mengisi hari-hari sebelum ajal menjemput.

Perempuan itu bisa jadi hanyalah sebuah khayalan, yang saya ciptakan sebagai dorongan untuk menjadi pribadi lebih baik. Tidak lebih dari metafora belaka untuk melengkapi hikmah hidup. Yang mengharuskan saya berlari lebih kencang untuk mengejar banyak ketertinggalan. Tentunya selama jantung lemah ini masih bertahan. Untuk mengimbangi larinya atau untuk menyandingnya ketika ia mendaki gunung, mencapai puncak, menggapai angkasa.

Namun, bagaimanapun, (bagi sebagian orang) hidup saya masih seperti jalan di tempat, bukannya lari seperti yang setiap pagi saya lakukan.

“Hidup itu lari sprint atau lari maraton?” tanya Cak Nun.

"Kalau sprint, berarti kamu harus cepat, tapi akan cepat juga habis energimu. Kalau maraton, kamu harus sabar, mengatur napas, dan tahu kapan harus melambat untuk bertahan lebih lama."

Jatuh Cinta Kedua kepada Kehidupan


 "Jatuh Cinta Kedua kepada Kehidupan" merupakan judul buku autobiografi yang saya tulis sebagai tugas mata kuliah Keterampilan Komunikasi. Tugas yang mengharuskan kami menyusun memoar, menuliskan kisah-kisah dan perjalanan hidup. Bagi kami, para mahasiswa jurusan IT, tugas itu sangat menarik dan tentu saja menjadi tantangan tersendiri. Mayoritas kami merasa kesulitan, tapi tak sedikit juga yang menganggap bercerita tentang diri sendiri adalah hal yang mudah, sekaligus menyenangkan. 

Di kelas saya waktu itu terdapat beberapa orang yang memang sudah aktif menulis blog. Platform yang digunakan ialah Tumblr dan Blogger. Saya termasuk di antaranya, yang sudah mulai menulis blog sejak masih SMA. Tidak hanya tulisan tentang kegiatan sehari-hari di kelas atau organisasi, tetapi juga cerita pendek (cerpen), bahkan puisi. Mungkin karena jam terbang itulah, ditambah sedikit rasa 'puitis', dengan antusias, saya memutuskan untuk menggunakan judul yang sama seperti esai ini, pada buku autobiografi saya kala itu.

Mengutip bab kata pengantar autobiografi saya, ada 2 hal yang ingin ditekankan terkait term "jatuh cinta kedua". Pada buku tersebut saya ingin membagikan kepada pembaca bagaimana perasaan seperti terlahir kembali dan dapat melihat arti kehidupan, lalu jatuh cinta seperti pandangan pertama. Kepada hidup dan kehidupan itu sendiri. Lalu, saya ingin mengulas beberapa pengalaman yang sebenarnya pernah dilakukan sewaktu SMA, tetapi saya ulangi untuk kedua kalinya saat menjadi mahasiswa, dengan esensi dan pelajaran dan hikmah yang lebih hebat nan berkesan.

Sebagai tambahan, apa yang tidak saya tuliskan ketika itu, kata "kedua" juga berarti masih adanya kesempatan untuk meraih banyak hal setelah wisuda. Masih terbukanya peluang untuk "mencari" apa yang seharusnya diraih. Selain itu juga memiliki makna bahwa adanya sebuah jeda, sejenak istirahat dari "jatuh cinta pertama" ke "jatuh cinta kedua". Proses untuk melakukan perenungan, muhasabah diri, dan evaluasi. Melakukan ekstraksi hikmah dari pengalaman hidup yang sudah dilalui. Apalagi buku autobiografi tersebut banyak berkisah tentang kegiatan saya selama di kampus, juga tentang teman, sahabat, dan organisasi.

Sehingga judul buku tersebut menggambarkan rasa syukur atas kehidupan yang sudah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Yang menyebabkan saya merasakan jatuh cinta kedua kalinya (bahkan berkali-kali). Bentuk cinta yang bukan seperti sabda Nabi, hubbud–dunya wa karohiyatul maut, Al-Wahn. Semoga bukan. Melainkan murni karena rasa syukur atas pencapaian-pencapaian yang sudah didapatkan sampai saat menjelang kelulusan kuliah. 

Lalu dalam konteks esai kali ini, "jatuh cinta kedua kepada kehidupan" menunjukkan kesadaran atas checkpoint yang telah dilalui. Yaitu usia tiga puluh tahun. Umur yang saya capai pada bulan Maret tahun ini (2024). Angka yang tidak sedikit, hampir setengah dari rata-rata umur umat Nabi (sekitar 60-an). Yang menyadarkan, sambil menimbulkan pertanyaan, apakah setengahnya lagi dapat dilalui. Insya Allah, selama jantung saya ini masih mau berdetak.

Tulisan ini mengajak diri saya pribadi yang daif, untuk dapat memaknai hari-hari dalam hidup, sebagai sebuah kesempatan kedua. Untuk senantiasa memperbaiki kualitas diri, menajamkan kebijaksanaan, memandang segala sesuatu dengan pandangan Ilahi.


Kepala Tiga

Pada bulan Maret tahun lalu, ketika memasuki umur 29, saya ingat pernah menuliskan tweet, yang kurang lebih intinya seperti ini: satu tahun sebelum menginjak usia 30, saya harus melakukan berbagai kegiatan seru yang tak terlupakan. 

Lalu apakah harapan saya itu tercapai? Tentu saja! 

Berbagai aktivitas berkesan saya lakukan di tahun lalu, mulai dari keikutsertaan dalam komunitas digital perusahaan, tergabung dalam banyak kepanitiaan (yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan akan saya ikuti), lalu mewujudkan ide-ide bersama tim Accerelate Your Competence (AYC), juga berkesempatan untuk (pertama kalinya) ke Pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera! Apalagi setelah belasan tahun berkeinginan, akhirnya bisa mengunjungi saudara yang tinggal di Batam.

Dari banyak pengalaman berharga itu, pada kesempatan ini, saya ingin memfokuskan pada 2 hal, sebagai hikmah, topik yang mendasari tulisan, bagaimana wujud dari jatuh cinta kedua kepada kehidupan. Tema pertama yaitu tentang kekeluargaan. 

Mungkin bagi kebanyakan orang, memasuki usia tiga puluh tetapi masih berstatus lajang, adalah sebuah 'kesalahan'. Atau bisa dibilang seperti aib yang harus disembunyikan. Ditutup rapat-rapat. Karena terlambat untuk segera menikah dan berkeluarga. Tapi toh hidup tidak melulu menyoal pernikahan. Tentu saja, meski begitu, poinnya adalah, memasuki umur tiga puluh merupakan sebuah awal untuk berkarya lebih hebat dari sebelumnya. Bukan untuk menyesali ini dan itu. Termasuk tulisan ini yang membahas tentang keluarga. Semoga tidak dinafikan.

Baik, kita teruskan.

Saya, saat tulisan ini dibuat, masih tinggal sendiri di sebuah indekos. Kesibukan di dalam kepanitiaan dan komunitas yang ada di kantor, merupakan sebuah kesenangan luar biasa. Sebagai penyaluran untuk bisa berinteraksi, bekerja sama, dan berkomunikasi, di luar pembahasan tentang pekerjaan. Hal yang menjadikan hidup saya lebih bersemangat. Untuk bisa berkontribusi, menggunakan value diri yang amat sangat minimalis ini. Contohnya dalam hal desain grafis dan leadership. (Tentu tidak ada apa-apanya ketimbang orang-orang yang mengorbankan jiwa dan raga mereka.)

Dari interaksi, kerja sama, dan komunikasi dengan banyak orang di dalam kepanitiaan dan komunitas, dalam proses menuntaskan amanah-amanah, menyelesaikan banyak permasalahan bersama itulah, muncul beberapa orang yang saya nilai istimewa, kurang kalau hanya disebut sebagai kenalan atau rekan kerja. Mereka yang akhirnya bisa menemani kesendirian dan mengisi kekosongan hidup selama di Jakarta. Hal inilah yang menjadikan saya sangat bersyukur atas kekeluargaan yang terjalin.

Sehingga, meskipun saya belum memiliki keluarga baru atas dasar pernikahan, memiliki keluarga-keluarga kecil yang terbentuk karena surat perintah (SP), nota dinas, atau kesamaan hobi, adalah kenikmatan sosial yang harus disyukuri. Apalagi yang bisa tetap menjaga api idealisme saya. Hari-hari yang dilalui bersama orang-orang terkasih itulah yang menjadikan jatuh cinta kedua kepada kehidupan.

Topik kedua ialah kebijaksanaan. Tak henti-hentinya saya menjadikan tema ini sebagai pembahasan di semua tulisan saya. Mengapa demikian? Karena saya meyakini apabila semua orang dapat hidup lebih bijak, melihat segala sesuatu dengan lebih arif, dunia ini akan menjadi lebih baik. Kebijaksanaan komunal akan menciptakan dunia yang lebih baik.

Kebijaksanaan itu dapat diteguk dari berbagai sumber air. Dari kekeluargaan (seperti yang saya tuliskan pada paragraf sebelumnya); dari segala permasalahan, tantangan, hambatan yang dapat kita selesaikan; dari kesendirian atau keramaian; dan hal terpenting dan utama, menurut saya, kita tidak perlu harus selalu mengalami sendiri asam-garam-pahit pengalaman untuk mendapatkan hikmah --kebijaksanaan. Kita bisa mendapatkan banyak pelajaran dari kisah orang lain. Kisah-kisah yang dapat digali dari pemikiran dan tulisan mereka, yang diikat dalam berbagai tema, topik, judul buku.

Buku, bagi saya ibarat sebuah jendela, untuk melihat ke dalam, rumah hakikat diri dan melihat ke luar, luasnya kebijaksanaan. Keduanya adalah sarana untuk lebih mengenal Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhanahu wa ta'ala. Apapun buku yang dibaca, baik fiksi maupun non-fiksi. Baik yang secara eksplisit mengajarkan kepada 'jalan' untuk mendekat pada-Nya, maupun yang implisit atau sama sekali tak membahas tema itu, yang mengharuskan kita untuk mencari 'jalan' sendiri melalui tiap kata yang dibaca. 

Berbagai pembahasan yang ada di dalam buku, apabila kita melihatnya dengan lebih jernih, pasti terselip hikmah-hikmah yang mengantarkan kita kepada kehambaan. Minimal, memunculkan kesadaran bahwa diri ini papa, alpa, lemah, dan masih belum mengetahui apa-apa. Kesadaran itu akan mengantarkan rasa haus dan rasa penasaran atas ilmu Allah yang tersebar di alam semesta. Menjadikan kita lebih bijaksana. Arif. Sehingga, mau tidak mau, kita tidak bisa lepas dari buku. Termasuk Al Quran, tentunya.  

Tahun lalu (2023), karena disibukkan dengan berbagai kegiatan, yang membawa saya pada pemahaman tentang betapa berharganya kekeluargaan, seperti yang saya tuliskan di awal. (Apalagi ketika mengunjungi saudara yang tinggal di Batam. Sampai saat ini saya masih bisa merasakan bagaimana tenang dan syahdunya di sana.) Hal tersebut menjadikan buku-buku yang saya baca tidak sebanyak tahun sebelumnya. Sebab, saya hanya berfokus pada menyelesaikan banyak aktivitas, mengunjungi tempat-tempat yang baru, tanpa peduli dengan berapa banyak buku yang harus diselesaikan.

Namun, di tahun 2024 ini sebagai gantinya saya sudah membaca lebih dari 50 buku! Tepatnya 85 buku! Sebuah pencapaian yang akhirnya bisa saya rasakan. Bagaimana bisa? Bagaimana waktu luang itu bisa dikonversi menjadi kemesraan dengan buku-novel, berbagai tema dan topik? Mungkin akan saya uraikan di tulisan terpisah.

Intinya, memasuki usia tiga puluh saya merasakan kembali jatuh cinta kedua, melalui banyak kisah dan pengalaman (yang pertama kali saya alami di 2 tahun ini).

Semoga di tahun-tahun mendatang, saya bisa berkesempatan, secara resmi, untuk bisa menerbitkan buku dengan judul serupa. Jatuh Cinta Kedua kepada Kehidupan!