Selasa, 31 Desember 2024

Berlari Lebih Kencang

Kata-kata "Semangat Perubahan" dan "Berlari Lebih Kencang!!" tertulis di sebuah poster, terletak di atas salah satu meja kantor. Tulisan karya saya itu beresonansi di dalam kepala pada suatu sore, ketika ruangan Fungsi kembali sunyi. Ia membawa pikiran ini merefleksi 6 bulan ke belakang. Paruh kedua tahun 2024.

Perubahan-perubahan yang terjadi: tidak tidur lagi setelah salat subuh; membaca buku dan berlari setelahnya; berangkat ke kantor sebelum pukul 6 tiap paginya. Hidup menjadi lebih sehat, menjadi lebih produktif, dan lebih dipenuhi rasa syukur. (Bahkan berat badan turun lebih dari 10 kilogram!)

Apakah terjadi karena efek tulisan poster itu? Poster yang sudah terpampang dari Agustus 2023, dengan jargon "semangat perubahan"? Ataukah tulisan itu hanya sebentuk resonansi atau refleksi atau cermin, alih-alih motivasi? Ah, yang pasti, sebenarnya, ada beberapa alasan yang menjadikan gaya hidup berubah. Atau demikianlah yang saya rasakan. Bolehkah saya sedikit bercerita?

Jumat, 14 Juni 2024. Dari Stasiun Gambir, di dalam Kereta Pandalungan kami bertemu. Duduk bersebelahan di gerbong 7 kursi ke-12. Saya yang melamun, bertanya bagaimana kabar kedua orang tua yang sedang melaksanakan ibadah haji. Dia, seorang perempuan yang memulai pembicaraan dengan meminta ijin memasang pengisi daya telepon genggam, mengangguk, lalu meneruskan persiapannya. Merapikan tas, mengeluarkan kudapan, lalu dua buku bacaan. Benda terakhir yang ia keluarkan dari dalam tas, terus dimasukkan ke dalam kantong kursi kereta itu, sungguh membuat saya terkesima. Tak bisa menahan diri untuk tidak melanjutkan obrolan.

"Biasanya kursi nomor 12 ini ada di barisan depan," kataku berbasa-basi. Ia mungkin kaget dengan topik pembicaraan yang saya mulai. Namun, itulah awal mula bagaimana kami berkenalan. Dan bukan satu-satunya hal menarik yang saya rasakan. Dan syukuri. Sedikit sesali. Sampai hari ini.

Di dalam kereta malam itu, sebelum kami menyebutkan nama masing-masing, dia menanyakan lokasi kerja. Saya yang tidak biasanya mengobrol dengan orang asing di sepanjang perjalanan, menjawab tanpa menyebutkan nama perusahaan. Hanya menyampaikan nama jalan lokasi kantor berada. Mencoba memberikan teka-teki. Jalan TB Simatupang, sebutku. Lalu perempuan berjilbab itu coba menebak beberapa nama perusahaan. Tapi kemudian saya timpali pertanyaan serupa, menanyakan di mana tempat kerjanya. Ia menjawab "kantor seberang Gambir".

"Seberang Gambir?" tanya saya. "Perta****?" Entah mengapa nama itu yang langsung muncul. Ia pun mengangguk. Perasaan aneh entah apa tiba-tiba datang. Saya melanjutkan, "Gak nyangka ketemu orang Perta**** juga di dalam kereta. Mbaknya Fungsi apa?"

Kereta Pandalungan, yang nantinya akan dipaksa mendengarkan obrolan kami itu, melesat menembus malam. Kelas eksekutif yang beberapa kali menjadi pilihan untuk pulang. Kereta yang sempat saya putuskan tidak akan dinaiki lagi, karena apa yang akan saya ceritakan ini.

Setelah bertukar informasi tentang Fungsi tempat kami bekerja, kebekuan mencair. Percakapan menjadi sedikit lebih akrab. Obrolan berlanjut ke basa-basi lainnya. Tentang beberapa nama orang yang mungkin saja saya kenal. Tentang di mana kami berkuliah dulu, apa alasan bekerja di perusahaan ini. Tentang berapa lama kami akan berada di rumah sebelum kembali ke perantauan. Dan topik-topik pembicaraan yang terbagi dalam beberapa segmen. Sebab, bolak-balik ia harus ke gerbong restorasi kereta guna melanjutkan pekerjaannya atau bertemu dengan seorang teman lama.

Sambil menunggunya, saya melanjutkan untuk membaca buku. Dua buku cetakan, yaitu tentang agama buddha dan satunya, tentang 7 hari di alam kubur serta e-book dari Google Playstore (buku karangan Cak Nun, seperti biasa).

 “You can search throughout the entire universe for someone who is more deserving of your love and affection than you are yourself, and that person is not to be found anywhere.” 
– Buddha

Apabila sebuah motivasi boleh berbentuk sesosok manusia, maka perempuan itulah salah satunya. Begini: perjalanan selama lebih dari 8 jam, dari Jakarta ke Cepu (tujuan dia pulang) itu memberikan sejumlah gagasan, sembari merasakan doa-doa orang tua dari tanah suci memenuhi udara di sekeliling.

Gagasan pertama. Selepas wanita berkacamata itu kembali dari restorasi dan duduk di kursi, fokus saya terganggu. Saya biasanya cukup abai dan lebih memilih asyik dengan buku yang dibaca, kali ini sangat mengharapkan berjalannya sebuah imajinasi, skenario yang sedari tadi tercipta.

Ingat dua buku yang dimasukkan ke kantong kursi, yang tertulis di paragraf awal? Saya membayangkan, di dalam gerbong yang tenang dan syahdu, kami berdua bersama-sama membaca buku. Terbius dengan tulisan-tulisan. Terserap ke dalam cerita yang kami baca. Bersandingan.

Pasti akan menarik sekali!

Sesuai harapan, momen yang ditunggu-tunggu pun terjadi. Saya jarang melihat orang lain membaca buku selama di dalam kereta. Kebanyakan, orang-orang menghabiskan waktu dengan ponsel pintarnya. Namun, kali ini berbeda! Wanita itu menemani saya membaca buku.

Membaca buku sendiri itu seru, sampai kita bingung mau menceritakan isi buku kepada siapa. Hingga akhir tahun 2024, saya telah membaca 85 buku. Delapan puluh lima. Dan tidak pernah mendiskusikan buku-buku itu dengan siapa pun. Sebelum atau setelah perjumpaan tersebut. Buku-buku yang nantinya setiap pagi saya baca (baik di kamar indekos sebelum berangkat kerja, maupun di meja kantor mengawali hari). Serta buku-buku yang mengawani perjalanan, seperti saat bersanding perempuan itu. 

Ternyata, memiliki teman pulang yang sama-sama gemar membaca buku itu menyenangkan. Hal yang juga kami gunakan sebagai bahan obrolan. Ia mengakui baru suka baca buku setahun belakangan, dan tipikal yang mageran. Tidak se-kutu-buku itu, istilah yang ia pakai beberapa bulan kemudian di direct message Instagram, demi menolak "gagasan" saya secara halus.

Gagasan yang sebenarnya sudah lama saya punya, tetapi sudah lama pula ia terkubur. Akibat perjumpaan di dalam kereta itu. Mengharapkan menua bersama seorang teman penggila buku.

Gagasan kedua. Tidak ada tempat yang lebih mustajab, untuk dikabulkannya doa-doa, selain di tanah suci. Di sana, diyakini doa tidak akan ditolak oleh Allah subhanahu wata'ala. Dalam lamunan di kereta itulah, saya memikirkan kemungkinan-kemungkinan isi dari doa yang dilantunkan kedua orang tua. Satu dari ribuan kemungkinan yang membawa saya dan perempuan itu, kami berdua duduk bersebelahan di baris ke-12 kereta malam. "Dipertemukan" oleh buku dan perusahaan yang sama.

"Kebetulan aja itu, Mas," ia masih teguh mengatakan, ketika saya memulai obrolan kembali via direct message, saat menyampaikan ulang gagasan itu bersamaan dengan ucapan "HBD" selang seminggu dari hari ulang tahunnya di bulan Desember. Tidak masalah. Jikalau ternyata memang kebetulan, pertemuan itu adalah kebetulan paling manis. The sweetest coincidence.

Jadi, saya membayangkan doa yang disampaikan Ayah-Ibu di Mekah, agar anak sulungnya bisa hidup lebih sehat (seperti pembukaan tulisan ini). Tidur lagi setelah salat subuh, merupakan kebiasaan buruk yang saya mulai dari jaman mahasiswa baru. Sehingga butuh perjuangan ekstra untuk mengubahnya, menghentikannya. Butuh banyak motivasi dan alasan kuat dan kegiatan pengganti, supaya tidak beranjak lagi ke atas tempat tidur.

Tak lama setelah pertemuan dengan perempuan itu, setelah ia mengucapkan "Have a safe trip, Mas!" dan turun di Stasiun Cepu, ide itu tiba. Saya ingin menyambung pertemuan. Menangkap umpan yang diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala. Singkat cerita, kami saling berkomunikasi via Instagram. Itulah awalan dari cerita yang kita tahu bagaimana akhirnya. Namun, hal terpenting adalah apa yang ingin saya sampaikan. Hikmah dari pertemuan itu.

Dari Instagramnya saya bisa menyimpulkan, bahwa perempuan itu orang yang cukup sehat, fit. Hobinya mendaki gunung, berpetualang ke alam terbuka, mentadaburi ciptaan-Nya secara langsung di hamparan bumi. Berbeda dengan saya, seorang pria dewasa yang masih terjebak dalam hidup gini-gini aja. Pria obesitas yang mageran. Hanya bisa menjelajahi dunia lewat buku-buku yang dibaca.

Meskipun saya menganggap dialah pecutan untuk bisa hidup lebih bugar, lebih rajin berolahraga, khususnya lari. Tetapi saya tidak bisa benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri saya di rentang bulan Agustus-Desember 2024 ini. Apa yang menyebabkan hampir tiap pagi bergegas memakai celana training dan sepatu lari setelah salat subuh. Dan ketika penolakan perempuan itu pun, di suatu sore, alih-alih dipenuhi oleh kesedihan, saya memilih untuk berlari ke Jalan Sudirman.

Sehingga, tidak ada alasan yang paling masuk akal, kecuali Allah-lah yang menggerakkan hati dan pikiran dan jiwa dan raga saya, untuk bisa hidup lebih sehat. Sehat jasmani dan rohani. Berkat doa orang tua.

Alasan religius itu pula yang selalu saya sebutkan, saat orang-orang (teman-teman dan rekan kerja) yang menanyakan mengapa saya tampak begitu kurus, terjadi perubahan sangat drastis. Yaitu karena Allah subhanahu wata'ala. Dia yang pasti menggerakkan saya dan perempuan itu memilih kursi nomor 12 A-B. Dia-lah yang memberikan ide supaya buku-buku itu terselip di dalam tas ransel kami, yang bertugas sebagai jeda antara dua obrolan. Dengan tujuan, perempuan itu menginspirasi saya.

Berikutnya, di dalam pekerjaan, saya juga menyadari dan pernah membayangkan, bahwa saya harus menjadi contoh yang baik bagi seluruh anggota tim. Harus datang ke kantor paling pagi dan pulang lebih sore daripada yang lainnya. Serta harus memiliki waktu yang lebih banyak untuk bisa lebih produktif, apalagi setelah saya hanya sendiri sebagai team lead. Sehingga, Allah yang Maha Baik itu menyiapkan serangkaian skenario. Mulai dari orang tua haji, pertemuan di kereta, sampai lari tiap pagi. Baik saat merasa kasmaran maupun ketika patah hati.

... Dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”
– HR. Bukhari

Lalu, apakah ini semua hanya kebetulan? Seperti yang terus menerus disampaikan oleh wanita itu. Mungkin untuk satu hal, yaitu gagasan untuk bisa bersanding dengannya di sisa umur, pertemuan itu hanyalah sebuah kebetulan. Sama-sama membaca buku dan sama-sama berkantor di perusahaan yang sama (walaupun saya holding dan dia subholding). Semua itu kebetulan belaka.

Namun, untuk alasan mengapa saya menjadi lebih sehat dan rajin lari pagi, hingga membakar belasan kilogram berat badan, tidak mungkin sebuah kebetulan. Itu semua adalah suratan takdir. Saya meyakininya. Dan harus disyukuri, karena awal usia 30 tahun itu saya bisa membuka banyak kemungkinan. Potensi. Hal-hal baik tentunya akan mengikuti. Karya-karya yang menunggu untuk diciptakan. Mengisi hari-hari sebelum ajal menjemput.

Perempuan itu bisa jadi hanyalah sebuah khayalan, yang saya ciptakan sebagai dorongan untuk menjadi pribadi lebih baik. Tidak lebih dari metafora belaka untuk melengkapi hikmah hidup. Yang mengharuskan saya berlari lebih kencang untuk mengejar banyak ketertinggalan. Tentunya selama jantung lemah ini masih bertahan. Untuk mengimbangi larinya atau untuk menyandingnya ketika ia mendaki gunung, mencapai puncak, menggapai angkasa.

Namun, bagaimanapun, (bagi sebagian orang) hidup saya masih seperti jalan di tempat, bukannya lari seperti yang setiap pagi saya lakukan.

“Hidup itu lari sprint atau lari maraton?” tanya Cak Nun.

"Kalau sprint, berarti kamu harus cepat, tapi akan cepat juga habis energimu. Kalau maraton, kamu harus sabar, mengatur napas, dan tahu kapan harus melambat untuk bertahan lebih lama."

0 comments:

Posting Komentar