Tiga ratus enam puluh enam hari sudah kita lewati. Banyak sekali kisah sukses yang kita baca, dengarkan, harapkan supaya kisah-kisah itu menjadi bagian dari hidup kita. Cerita kesuksesan manusia, dengan pekerjaan mereka, bisnis, hubungan percintaan, pendidikan, pertemanan, atau dalam hal lainnya.
Kebanyakan dari kita amat menyukai, bahkan menikmati berbagai pengalaman sukses seperti itu. Biografi orang-orang sukses laris manis. Seminar-seminar motivasi jualan kesuksesan penuh sesak. Linimasa, reels, FYP dijejali orang-orang kaya, bahagia, sukses. Kita sempatkan memberikan like dan love.
Karena, mungkin, yang ditulis dan dimunculkan itu ialah luaran yang berbau harum, semerbak, layaknya bunga. Semua yang terlihat indah, menawan, warna-warni. Memunculkan kekaguman. Sehingga kesuksesan merupakan hiasan dinding dan pameran dan pemandangan.
Pengharapan atas kesuksesan menjadi sarapan, makan siang, dan makan malam kita. Angan-angan atas kesuksesan mengalir di dalam darah, sehingga amat candu.
Namun, tulisan ini bercerita tentang manusia-manusia gagal. Menjadi monumen bagi siapa saja yang gagal. Menghadirkan pigura untuk mereka yang gagal, secara lahir, batin; secara makna, konteks; secara implisit, eksplisit. Menjelma medali penghargaan atas ketabahan, kesialan, keikhlasan, kemuakan, kelemahlembutan, ketidakberdayaan, keterusterangan, kejujuran, ke-ke-an yang lainnya.
Manusia-manusia gagal seperti ditakdirkan untuk menjadi orang buangan. Yang kisahnya tidak perlu untuk diceritakan kepada khalayak ramai. Cukup ditutupi oleh kain kafan, atau bahkan daun pisang. Saking tidak layaknya untuk diketahui.
Padahal, dari merekalah kita bisa mendapatkan banyak pelajaran. Hikmah. Seperti semangat dari tulisan dan blog yang sedang Anda baca ini. Mengajak kita melihat dari sudut pandang yang lain, dari pojok ruang waktu. Mengintip dari lubang kecil pintu kebesaran Tuhan.
Baik. Tulisan ini akan bercerita tanpa struktur yang jelas, bisa saja lompat dari satu pembahasan ke pembahasan yang lainnya. Sebab memang ditulis tanpa banyak persiapan. Hanya ditulis dalam satu malam, sembari menyiapkan diri untuk kesalahan penyebutan tahun "2024", alih-alih "2025", dalam seminggu ke depan.
Pernahkah Anda menanyakan ulang definisi "kegagalan" dan "kesuksesan"? Apakah ada sedikit gelitikan ketika membaca pembukaan tulisan ini? Apakah yang menjadi sukses itu hanyalah mereka yang kaya dan bahagia? Tapi memangnya apa dan bagaimana yang disebut dengan "kaya" dan "bahagia" itu?
Dalam tulisan ini, pertama-pertama kita akan menggunakan pemahaman yang umum atas kegagalan dan kesuksesan. Yakni, kalau berhasil mencapai suatu tujuan, ya itu disebut sukses. Kalau tidak, berarti gagal. Sampai sini, semoga kita masih sepemikiran, satu frekuensi. Karena memang itulah konstruksi berpikir yang ingin dibangun.
Saat menyebut "manusia-manusia gagal", otak kita seharusnya akan memikirkan mereka yang belum atau tidak atau sejak awal sama sekali tidak ditakdirkan untuk meraih apa yang dicita-citakan, apa yang diimpikan, apa yang diharapkan. Sebab dasar itulah, kita menyebutkan "gagal".
Hikmah pertama yaitu tentang calon pemimpin gagal. (Saya tidak ingin menuliskan capres gagal, sungguh).
Ketika negeri ini memiliki satu calon, atau mungkin dua, atau mungkin banyak calon, yang menawarkan keadilan, kesetaraan. Namun, harapan dan asa itu hanya tetap menjadi harapan dan asa. Nilai itu gagal. Meskipun sebenarnya yang gagal bukan sang calon, melainkan negeri ini.
Pun sang calon juga pernah mengatakan, jika beliau terpilih, maka Allah ijinkan. Tapi jika tidak, Allah menyelamatkannya. Berarti sepertinya manusia gagal satu itu tidak benar-benar gagal. Bisa jadi dengan tidak terpilihnya beliau, ia telah sukses untuk menghindari mara bahaya.
Hal yang sama juga pasti sering kita alami. Apa yang kita pikir suatu kegagalan, karena tidak terpilih menjadi ini dan itu. Ternyata menyelamatkan kita, jiwa kita, pikiran kita, mental kita, akal sehat kita. Contohnya ketika tidak terpilih menjadi perwakilan perusahaan dalam ajang internasional. Atau saat promosi tidak kunjung diberikan. Yang ternyata menyelamatkan keluarga kita dari berbagai fitnah.
Dua belas bulan berlalu tentunya tidak selalu hitam, tidak selalu putih, pasti abu-abu, harapannya sih warna-warni. Inilah pengantar ke hikmah kedua. Tadi masih membahas tentang "calon", sekarang langsung membahas tentang pemimpin yang gagal.
Apakah presiden gagal? Apakah gubernur gagal? Apakah walikota, bupati gagal? Apakah camat gagal? Apakah lurah, kepala desa gagal? Apakah ketua RW gagal? Apakah ketua RT gagal? Apakah kita, sebagai pemimpin di kantor, pemimpin keluarga, pemimpin bagi diri sendiri telah gagal?
Kita telah banyak mewarnai hari-hari. Kita sebagai diri sendiri, perlu banyak bercermin. Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya, rakyat adalah cerminan dari pemimpinnya. Jadi mungkin saja ketika pemimpin yang kita nilai gagal, hanya sebuah refleksi atau pantulan dari diri kita yang gagal. Gagal memberikan saran & masukan. Gagal melaksanakan fungsi check & balance. Gagal dalam fungsi controlling.
Kuas-kuas yang kita pegang, gagal untuk menyumbang goresan warna yang indah. Padahal sejak awal sudah sepakat lukisan itu diselesaikan dengan kolaborasi.
Berbicara mengenai kepemimpinan, memang tak ada habisnya. Apalagi jika disangkutpautkan dengan keberhasilan, kesuksesan, kegagalan. Belum lagi berbicara tentang multiple effect, domino effect, atau bahkan butterfly effect!
Yang terpenting, di tahun 2025 nanti kita tidak salah lagi dalam memilih pemimpin. Dan tidak gagal lagi untuk menjadi pemimpin. (Seperti yang saat ini saya rasakan) Hal paling utama, kita kembali menjadi manusia, yang penuh awas dan kepekaan. Bukankah cermin akan memantulkan bayang apapun yang muncul di depannya? Jadi apabila otak kita, hati, pikiran, nurani bersih dan mengkilap, pasti kita bisa membedakan mana pemimpin yang akan sukses dan gagal. Dalam membimbing kita kembali kepada Rabbal 'alamin. Ya, walaupun jalannya bermacam-macam.
Bagi kita yang di kantor diamanahi sebagai seorang pemimpin, koordinator, manager, team lead, atau apa pun sebutannya, pasti banyak merasa gagal. Atas kejadian-kejadian yang terjadi. Peristiwa yang membuat kita bingung, sebenarnya bisa kita kontrol atau tidak. Atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh tim kita. Orang-orang yang membuat kita bingung, sebenarnya pesan kita sudah sampai atau belum kepada mereka.
Perasaan gagal itu, oleh Tuhan pasti sudah didesain sedemikian rupa supaya kita bisa kembali kepada-Nya, kembali mengingat-Nya. Sehingga perlahan hikmah, satu per satu, muncul. Itulah yang terpenting. Hikmah. Menjadikan manusia-manusia gagal seperti kita akan menjadi "manusia" sesungguhnya. Seutuhnya.
Sayangnya, perasaan gagal itu tidak hanya menghampiri para pemimpin. Perasaan yang tiba-tiba muncul ketika kita sedang sendiri. Sebagai pribadi pun kita sempat "dikaruniai" kegagalan. Inilah hikmah ketiga.
Sebagai pribadi, kita merasa menjadi anak yang gagal. Karena tidak bisa sepenuhnya membahagiakan orang tua, contohnya: (yang terparah) saat usia 30 tahun tapi belum bisa memenuhi ekspektasi keduanya, supaya kita bisa segera menikah. Padahal di luar sana, banyak orang yang berhasil dan sukses dalam pernikahan. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Apakah ekspektasi kita yang terlalu tinggi?
Sebagai pribadi, kita merasa menjadi kakak yang gagal. Karena tidak bisa seutuhnya sebagai tempat curhat adik-adik kita. Pundak kita yang tidak pernah menjadi sandaran mereka. Bahkan ada kalanya, komunikasi kita dengan adik yang tidak seperti keluarga lainnya. Hanya pragmatis. Tidak bisa berbasa-basi. Sementara itu, banyak kakak-adik yang harmonis, tumbuh bersama untuk bisa saling mendukung. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Apakah trauma masa kecil yang memengaruhi hubungan tersebut?
Sebagai pribadi, kita merasa menjadi teman dan sahabat yang gagal. Ada berapa teman atau sahabat yang kita miliki? Apakah satu per satu kita sudah kehilangan komunikasi dengan mereka semua yang dulunya mesra, dulunya akrab, konco kenthel? Seberapa kecil circle pertemanan kita sekarang? Apakah karena kita gagal untuk menjaga perasaan dan hubungan yang baik? Apakah kita sebrengsek itu, sehingga kita tidak sudi lagi untuk menghubungi mereka? Padahal dulu sering sekali mengunjungi rumah, ketika kita pulang kampung.
Sebagai pribadi, kita merasa menjadi warga negara yang gagal. Bangsa yang gagal. Anggota masyarakat yang gagal. Tidak bisa memberikan kontribusi apa pun. Padahal, sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain. Apakah memang kepemimpinan nasional yang juga "gagal", yang membatasi kita untuk bisa sukses menjadi warga negara, bangsa, anggota masyarakat? Berarti kembali lagi karena kita gagal memilih pemimpin yang benar? Tentu semuanya berkelindan.
Sebagai pribadi, kita merasa menjadi hamba yang gagal. Karena tidak bisa secara kaffah menjalankan ibadah, mengikuti perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, menjalankan amar makruf nahi munkar, menjadi khalifah fil ard, menyembah sujud hanya kepada Tuhan yang Esa. Gagal total.
Tidak perlu khawatir. Tak usah risau. Tuhan Maha penerima tobat. Maha pengampun. Maha membolakbalik hati. Maha pengabul doa. Sampai detik ketika menulis, membaca, dan merenungi tulisan ini, kegagalan-kegagalan tersebut bisa saja akan diganti, diputar 360 derajat, menjadi kesuksesan. Aamiin.
Waktu itu seperti pedang, apabila tak pandai menggunakannya, kita yang akan ditebas. Waktu dan kesempatan di 2025 yang akan kita hadapi esok hari, serta pemahaman akan rahmat-Nya yang begitu luas memenuhi alam semesta ini, semoga menjadikan kita manusia-manusia yang gagal dalam kemaksiatan. Gagal dalam menimbun dosa. Gagal dalam terjerumus ke dalam apa-apa yang membuat Tuhan tidak rido dan murka.
Atau kalau sejak awal, Anda tidak punya niatan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, bisa disumbangkan kepada orang-orang yang amat sangat membutuhkan waktu ekstra. Bagi mereka yang datang ke kantor sebelum jam setengah 7 dan pulang selepas maghrib. Karena begitu banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Bagi mereka yang berusaha untuk tidur 7 jam, semata-mata agar bisa bangun pagi untuk lari (atau jogging) demi jantungnya yang lemah.
Namun, bagaimana pun, semua ini, keputusan ada di tangan masing-masing. Mau menjadi manusia gagal yang seperti apa?
Manusia adalah makhluk dinamis. Hatinya begitu mudah berubah-ubah. Ia seperti wadah yang siap menerima hidayah dari Tuhan. Di satu waktu menjadi tempat sampah tipu daya iblis!
Akhirnya, kegagalan satu, dua, tiga, beribu-ribu kegagalan akan mengantarkan kita kepada kesuksesan untuk bisa bertemu dengan-Nya. Dengan catatan, dari semua kegagalan itu, selangkah demi selangkah kita menjadi semakin bijaksana.
0 comments:
Posting Komentar