Minggu, 05 Januari 2025

Mukena Biru Tua: Kumpulan Puisi 2011—2012

 Setiap penulis dan orang-orang yang bekerja di dunia literasi biasanya adalah seorang penyair/pemuisi. Mereka juga menulis dan menggubah puisi-puisi. Puisi menjadi salah satu cara untuk mengungkapkan pikiran, kritik, gagasan, ideologi melalui kata-kata yang indah dan sederhana. Lewat puisi, Helvy Tiana Rosa menyerukan semangat perjuangan Palestina. Melalui puisi, Emha Ainun Nadjib ber-amar ma'ruf nahi mungkar lewat kritik yang disampaikan kepada Presiden Soeharto. Begitu pula Taufiq Ismail, puisi-puisinya sarat kritikan. Chairil Anwar, sang binatang jalang, berpuisi untuk menunjukkan semangat hidupnya. 

Bagi seorang pembelajar hidup seperti saya, puisi memberi kesempatan untuk merajut rima, menguntai keteraturan, dan menyelami diksi. Sebab, banyak sekali puisi yang saya tulis levelnya tidak akan mampu mencapai level para penyair, tentang kehidupan, pemerintah, negara, bangsa, agama. Membayangkan saja rasanya tidak sopan. Puisi-puisi yang saya mulai tulis ketika masa SMA, saat memutuskan untuk belajar menulis. Puisi-puisi yang tersebar di Twitter, Tumblr, SMS, atau catatan-catatan di telepon genggang. Puisi-puisi itu hanyalah remahan, serpihan, sisa-sisa.

Puisi jugalah yang sedikit banyak memotret kisah hidup saya. Beberapa kenangan tentang masa-masa remaja pun tertulis di dalam puisi. Kisah-kisah picisan putih abu-abu. Beberapa di antaranya berkisah tentang "mukena biru tua". Tentang seorang wanita yang dengan mukenanya yang berwarna biru tua (navy), yang saya temu di masjid, ketika sholat dhuha di jam istirahat pertama dan sholat dhuhur di jam istirahat kedua.

Sampai-sampai, saya pernah mencetak kumpulan puisi yang saya tulis untuk menjadi sebuah buku. Dengan mesin cetak (personal printer) yang ada di rumah. Saking nikmatnya bergelut dengan puisi. Buku tersebut pun saya beri judul "Mukena Biru Tua". Judul yang juga saya pilih pada tulisan kali ini. Sebagai penanda dan istilah untuk merujuk periode tahun tersebut.

Di bawah ini adalah puisi-puisi pilihan dari yang pernah saya tulis sepanjang tahun 2011-2012. Setidaknya itu yang tertulis di blog saya. Blog yang khusus saya buat di tahun 2012 untuk mengumpulkan puisi-puisi yang tercecer. Dari ratusan puisi tersebut, saya pilihkan beberapa puisi yang sesuai dengan idealisme blog "Hikmah" ini. Yaitu tentang eksistensialisme, perjuangan hidup, kenegaraan, kebangsaan, persahabatan, harapan, penindasan, dan ketabahan.

Mengapa kali ini saya menyisipkan puisi-puisi? Sebab seperti kata mantan presiden Amerika, John F. Kennedy, "When power corrupts, poetry cleanses."



Andai Aku Bukan Cermin

jujur ku terbengkalai
menepis dan terurai
menjadi jutaan partikel kebohongan
lebih keras dari sebuah senapan

keruh ku mencoba
apungkan kenangan cinta
kepastian esok kupertanyakan lagi
tentang kejadian yang pernah ku alami


---

Mungkin Ini Saat Terakhir Ku Menatap Wajahmu

setiap tetes darah yang keluar dari nadi
akan mengalir lembut tumpah ke bumi

setelah kau tebas tanganku ini
perih rasa yg kuderita saat ini

pernahkah kau berpikir tentang ini?
setelah kau hujam jantungku ini
senyummu menandakan kepuasan
ketika aku merintih kesakitan

wahai, sahabat terkasihku
perangai gemulai menjerat diriku
kau bukan dirimu yang dulu

sadarlah engkau
dan lihat lukaku

---

Kerumunan Awan

pernahkah kau perhatikan kerumunan awan?
lekukan abu-abu nya indah dan menawan
mengiyakan ke mana pun angin membawanya pergi
langit biru sebagai tempat mereka mengadu kasih

sempatkanlah dirimu untuk mendengar kicau burung
bersandar tinggi di atas pohon termenung
kicaunya yang ceria menyembunyikan dukanya
inginkan sahabat-sahabatnya tak ikut merasakan kesedihannya

tanpa harus memahami apa yang aku alami,
saat ini dirimu hanya perlu menemani


---

Semangat!

desiran ombak lambat laun mengikis karang
meretakkan setiap apa yang menghadang
semangatnya menemani laju halilintar
mimpinya tidak akan pernah pudar


---

Pertarungan Tadi Malam

bulan di pagi hari pun begitu indah
menyejukkan hati yang sedang gundah
telapak kaki telanjang menyentuh batu tajam
sisa-sisa pertarungan tadi malam

mengapa masih tercium bau darah?
langit cerah pun terlihat marah

jika saja hujan turun membasahi bumi
menghapus semua kesedihan dalam mimpi

tapi semua telah berakhir sempurna
walaupun kedua sayapku telah sirna
masa depan bagai cahaya yang kemilau
mengabadikan cita-cita dan menghapus risau


---

Kedamaian

warnaku tak tercampur oleh rasa hina
tak biasa oleh perlombaan senjata

kedamaian selalu tercipta
di sini,
di dalam jiwa

aku bagaikan bulu yang menari dalam lintasan angin
aku tak biasa untuk menderita
karena pedang,
karena senapan

namaku damai
dan aku mengawali cinta
untuk seluruh insan manusia,
yang ada kalanya kan binasa

aku ini tiada berjasa
hanya pada mereka aku bercerita
bahwa aku ini bukan binatang bertaring
bukan binatang penuh cakar

aku hanya sayap-sayap
yang mengikuti matahari berlaju

tiada keanggunan yang melebihi hati
hati yang mengimami kedamaian


---

Karyaku

hijau yang senantiasa berdatangan dari arah kilauan biru mudanya
menjeritkan setiap goresan kuas yang menari di atasnya

kanvas-kanvas itu masih kosong dan rindu untuk dijamah
menginginkan hasil yang maksimal dari seorang pelukis terinspirasikan dunia

tak kurasa itu semua terlahir begitu saja
tak jua kumerasa
tak sirna rasa ini
yang menahan iri hati,
mengenai keajaiban sebuah mahakarya

jika saja di waktu ku masih belia aku habiskan waktuku 'tuk berkarya
kuhabiskan waktu 'tuk bersiap
sebuah warna berpadu bagai pelangi dan cercahan difraksi sinar putih

'kan menghasilkan sesuatu yang memunculkan senyuman yang ikhlas
dari setiap orang yang menyaksikan
salah satu mahakarya dunia

itulah aku,
itulah mimpiku,
inilah karyaku


---

Cinta yang Bosan

sampai nafas yang membeku di antara dua cahaya
aku terikat oleh berbagai dilema
antara bergerak dan terdiam di jagat raya,
dalam buaian air mata

aku bosan menanti cinta yang tiada kepastian
sampai beku dan tak tersentuh

dilema itu semakin menjadi ketika merak kian pergi

aku cinta seseorang yang membuat bosan
menunggunya bagai mati tak penuhi janji
hingga bosan tak terkendali

andai mati menyapaku kini

---

Sebelum Ketiadaan

selalu ada kisah yang mengawali perjalanan seseorang ke dalam ketiadaan
yang selalu menyingsingkan langit biru dan goresan-goresan jingganya

kuingin setiap aliran darah yang mengalir melewati pipa-pipa vena dan arteri
menjadi sebuah dokumentasi dan pelukisku akan indahnya hidup yang diberikan-Nya

selalu kutanyakan mengenai guratan yang kau buat di hatiku
dari mana kau tahu ku tak lagi seperti dulu?

aku yang selalu akan membuat garis waktu 
mengenai langkah kecil kakiku di atas bumi yang tua ini
langkah-langkah yang semakin tak berarah
hingga aku lupa jati diriku
di mana

saat mengingkari sejuta butiran partikel air yang melayang-layang
ketika kaki-kaki enam mengikuti jejak teman-temannya
di saat itu aku ada
aku ada untukmu
membuat jejak-jejak

yang akan membekas pada raut muka yang tua itu
membekas pada laju angin yang menghalangiku
hingga kini

hingga ku,
tak menatap wajahmu lagi


---

Meninggal Dalam Ombak

aku meninggal dalam ombak
meninggalkan karang
merasakan hembus
menitih pasir

biarkan aku rangkai sendiri kematianku
tiadalah ragu tuk bercerita


---

Ayahku Seorang Aktivis

ayahku adalah seorang aktivis
darah yang mengalir pada diriku
semangat yang menggebu

ayahku adalah seorang aktivis
aktivis kejujuran
sama sepertiku

ayahku adalah seorang aktivis
akan kuteruskan perjuangannya
yang merelakan kesenangan
yang tak pedulikan caci maki
untuk kejujuran


---

Tanah Airku Bercahaya (Mei 2012)

tanah airku terkotori
haluannya terkoyak
bangsanya terabaikan
memisahkan antara penguasa dan pemusik jalanan
memendarkan tangis yang memekikkan telinga

tanah airku menjelma
keindahannya terjamah
kaki garuda terkekang
mengalunkan jerit pada dinding-dinding penderitaan
dengan keasyikan penguasa yang tiada peduli

tanah airku bercahaya
masa depannya cerah
secercah mimpi terlahirkan
menggapai langit yang membanggakan ibu pertiwi
melukiskan rasa manis di atas planet bumi


---

Luka Malam yang Terabaikan

kami tersebut dalam jerit-jerit malam
melenyapkan suara terkaman seram
lesapkan deru pelor senapan

aku mengagumi suara tawa malam itu
yang mengitari kota tiada jenuh
menutup segala dusta akan isak tangis
mencari ceria seorang gadis di sana

ia mencoba 'tuk merajut mimpi dalam haru
mengais mimpi-mimpi yang sempat tersapu ombak
di balik bebatuan tegar

aku tertahan oleh angin pantai
serasa sakit memandang bulan purnama
horizon malam bercahayakan bintang
juga lampu-lampu kota

merasakan tatapan jenuh kepadamu
kau tiada lagi peduli dengan kunang-kunang
yang terang mengindahkan malam
yang masih saja membiarkan mereka berserakan
remukkan langit yang tenang

maka jangan kau salahkan hembusan amarahku
ketika kau kini mudah melangkah pergi
meninggalkan senyum-senyum semu diriku

kuhanya bisa melihat awan menerkam bulan
membiarkan sayap-sayap bidadari pupus,
luka yang terabaikan


---

Berjumpa Mentari

lihatlah mentari hangat esok pagi
apakah akan tersenyum terang kembali
menerangi semua hati yang sepi
memberi semangat yang tiada letih
dan karunia Tuhan yang patut kita syukuri

aku tlah lama berkelana
memunguti air mata
menghapus resah
menghilangkan dahaga akan cinta
di dalam telaga Cinta Maha Kuasa

kini izinkanlah aku tidur sementara
'tuk kembali mewarnai hari hari indah
di kala fajar hingga senja
ketika terang hingga bulan purnama


---

Puisi 21 Kata

paksaan pada candu
sempat merayu
ia terpaku

ajakan kala bahagia
pegang rahasia
pipi memerah

lupakan selalu diri
dekatilah kekasih
aku merintih


---

Sahabat Sebatas Rindu

aku pernah menggandengmu kala ragu
kutepuk pundak yang menanggung beban berat itu

ketika gelap menghampirimu
ketika retak bumi ibu pertiwiku
ketika cinta hampir membunuhmu

berdirilah tatap mata yang sepi ini
anggaplah aku ini ada
anggaplah aku selamanya
semua yang memusuhimu adalah musuhku
hati kecil kita saling menyatu

Sahabat,
walau pedang kau tusukkan pada jantungku
selama itu yang terbaik bagimu
aku tak apa

senyumku slalu terpancar untukmu
tak usah kau resah
tak usahlah kau pikirkan aku

teranglah
teranglah dalam gelap
aku akan selalu bersamamu, walau hanya sebatas rindu


---

Kado

gitar plastik senar benang terbungkus rapi
kado untuk para musisi jalanan sepi
rambut gondrong terurai penuh keringat
ya memang panas ke mana pun menyengat


---

Menyembuhkan Luka Ibu Pertiwi

Engkau seekor garuda gagah
matamu tajam menatap bangsa
tubuhmu tegar bagai angkasa
kau lipat sayap sayap penuh bangga
membusungkan dada penuh asa

Engkau sebuah konstitusi
penuhi sel sel penjara dengan hukum mati
tegas dan disiplin tinggi
membombardir nyawa dengan intuisi
tiada ragu menembak nurani

Engkau adalah bendera negaraku
berkibar kau di langit biru
tiang menjulang bersama angin tempatmu beradu
merah putih yang selalu padu
memperhitungkan insan-insan di bawahmu

Engkau bagai peci presiden
kau tampak agung hitam dan keren
menutupi keringat yang berbau aren
leluasa mengikuti pidato menteri dan wamen

Engkau merajai nusantara
dengan ambisi politik mereka
cinta anak bangsa ingatlah
bukan kaisar Jepang atau Inggris dengan Rajanya
amanat yang tiada lekang olehnya
bawa serta nurani titipan Yang Maha Kuasa
bersamaku harumkan Indonesia
sembuhkan luka Ibu Pertiwi tercinta


---

Raut Muka Hilang

muka yang masam,
seringnya pada masam,
kelam yang bergejolak juga,
raga sepi terlepas sanubari tua,
membesarkan sendu-sendu ku,
juga tawa-tawa hilang nya jua,
mula nya larut hujam sesuatu,
sehingga surau bakar separat,
imbuhan jerit selayang rasa ada,
mohon tinggallah lupakan kekasih,
menjalin desir sepi kulihat kau sendiri,
inginku dekati mengantarkan ku,
semangatkan cinta sering sesal,
logika tiada berujung cekal nian,
lalu fatamorgana menyekik ia,
bawalah arti yang sebenar-
benarnya kasih,
kasihku hilang...


---

Penebusan

camar menukik di atas deru ombak
aku pun merasa tersaingi olehnya
aku kepakkan sayap lebih lebar
bulu-buluku pupus
karena aku tlah menua
mengingat perjuanganku saja
aku harus bersemayam dalam patung-patung gagah
pelangi-pelangi yang tergambar dalam dinding
yang mereka sebut mural
aku kini ingin memperbaikinya
dengan berkejaran saat sore
bersama camar
latarku langit senja
memaki ombak dari atas sini
sematkan senyum
lemparkan duka


---

Ditemani Dirimu

engkaulah terang dalam ketenangan
melepaskan tepisan dalam temaram
basuh hangatnya kesendirian
dengan berbagai kasih dan harapan

aku sendiri
membatu di tepi jalan
kudapati lalu lalang,
yang kurasa riuhnya 
memusingkan orang-orang
namun bagiku
itu hanyalah angin lalu
karena tatapanku hanya bisu

engkaulah yang melihat senyumanku
senyuman yang bahkan tak dihiraukan dunia
karena tercium kebakaan di dalamnya
terjepit luka
tercabik lara


---

Cinta Abadi Bisma

berjalanlah Bisma di tepi pantai
merenungi kasihnya yang membuai
memberi kehangatan kepada sebuah hati
dari seorang dewi yang cantik jelita,
Dewi Amba

sayang di kala keduanya saling mengasihi
sumpah janji yang membuat keduanya tak bisa bersatu
hingga Bisma menghilangkan nyawa Dewi Amba

takdir telah menggoreskan catatan
suatu ketika pada Baratayudha
mereka akan memulai kasih cinta abadi
di tangan Srikandi yang bersemayam di dalamnya Amba
di ujung anak panah
Bisma gugur dengan cinta
menemui Dewi Amba dalam cinta baka
hingga keduanya saling beradu rindu
menapaki hari dengan janji setia


---

Sajak Indonesia 3

I.
aku suka Indonesia
sesuka aku dengan kolak
merah untuk gula merah
putih untuk santan
jayalah negeriku
yang penuh dengan umbi-umbian

II.
Indonesia bagai sebuah kerang
yang mendewasakan diri dalam kedalaman
hingga ia diam-diam
memberikan mutiara-mutiara
sebagai keindahan

III.
entah berapa kali kata 'lelah' kita ucap
namun dalam 'lelah' itu kita butuh sebuah kata
yang dibisikkan ke dalam telinga
yaitu 'Indonesia'

IV.
Ibu Pertiwi
aku rindu pangkuanmu
ketika aku masih lugu
ketika bumi yang kuinjak masih dapat membahagiakanku
karena riang anak-anakmu

V.
angin-angin masih tetap mengibarkan bendera
karena tinggi tiang masih di atas bangunan-bangunan
yang tak megah dan sederhana

VI.
hingga kulihat kain kafan disiapkan untukku
namun kuingin tetap berkibar di atas negeriku
hingga esok terus terlihat anak-cucuku

VII.
aku telah terbiasa menjadi jiwa bersatu dalam raga
aku tengah membiasa menjadi insan dengan corak khatulistiwa


---

Kita Sebagai Insan (Agustus 2012)

setiap dari kita adalah insan yang dipenuhi rindu
rindu bertemu dengan Sang Khalik
Dialah sebaik-baiknya Cinta untuk dirindu

setiap dari kita adalah hina yang tak terbantahkan
karena kita berasal dari mani yang dipancarkan
yang tersimpan dalam tempat penuh buai nan kokoh

setiap dari kita sejatinya berasal dari jiwa-jiwa yang tenang
yang membutuhkan waktu dan tempat untuk sebuah perenungan
memahami setiap ayat-ayat Al-Qur'an dan yang tersebar di semesta.


---

Aku dan Surabaya

betapapun aku menyelam ke dalam sungai-sungai di Surabaya ini
yang keruh dan berbau tak sedap
tak pernah aku menemukan jati diri kota pahlawanku

seberapa banyakpun aku menyetubuhi
pohon-pohon besar di pinggir-pinggir jalan
tak sempat terpikir di benakku untuk apa aku ditanam

selincah apapun aku naik ke langit
memanjat tinggi tugu di atas pemakaman
tak kuasa aku menggiring awan
untuk singgah dan mendinginkan
hati, pikiran, dan suhu kota
 yang mulai perpolusi bak ibu kota tersebut

antara aku dan kota ini
seharusnya ada benang merah
yang memuat kata-kata indah, bersejarah,
dari setiap untaiannya

aku dan Surabaya sudah berteman sejak 18 tahun yang lalu
dan belum memahami satu sama lain
belum berupaya
untuk meningkatkan status kita
sebagai sahabat yang saling bertukar rasa


---

Perpisahan Kita Abadi

lampu-lampu
berpendar menurut aku

aku adalah semakin larutnya malam
aku menghilang olehmu

kamu adalah yang membuat pohon-pohon kokoh
menancapkan akar dengan tangguh

aku dan kamu
bagai sisi yang saling melainkan

jika aku ada engkau tiada
jika engkau tercipta aku binasa

perpisahan kita abadi


---

Seribu Tahun

seribu tahun yang lalu adalah penantianku
gerimis perlahan membasahi sekujur tubuh
meskipun telah kubasuh dengan sapu tangan pemberianmu

seribu tahun yang lalu di pekarangan rumahku
masih dapat kutumbuhi berbagai palawija,
rempah-rempah, dan buah penghilang dahaga

seribu tahun mencari kepalsuan
hingga menghilang di balik awan hitam
guntur dan gemuruh hampir memecah pendengaran

seribu tahun bukanlah waktu yang singkat
setiap detik menusuk-nusuk kulit dan dagingku
membebani kepalaku dengan galaumu
meninggikan langit di atas pertiwi
sediakan bak untuk menampung tangis negeri

---

Membalik Kenyataan

membalik kenyataan searah rayuan
kering kerontang bulir-bulir kenangan
secerca rindu terpancar dari padanya
lalu diam-diam kembalilah gelap gemerlap

tangan-tangan mungil mengais
tangis-tangis tumpah dari pepohonan
kilau desahmu bangkitkan birahi
terukir oleh beberapa percikan musim semi

lalu kemanapun angin mengalir
dan air berhembus
naungan kasihku setia tertuju

satu yang harus kau lakukan
cintailah cinta dan kasihanilah cintamu
yang tak membuat genggaman tangan
dan bibir bercumbu

---

Nak

doaku menyertai kehilanganmu
ketika tak kau raih tangan ini
ketika keajaiban hanya menepi
kala kau lewat dengan kegundahan hati

gubuk tua itu sebagai bukti
hampir-hampir roboh porak-poranda
meniadakan catatan-catatan kebencian
yang kau tulis
yang kau tujukan kepada penguasa

berangkatlah ketika fajar masih muda
dan keheningan menemani
hingga terdengarlah detak jantung
dan langkah kakimu

bawalah bekal seadanya ini
untukmu sengaja aku buatkan sedikit berbeda
yaitu tanpa cinta dan kelembutan
sebab kebencianmu masih nyata

berangkatlah
berjuanglah
lalu pulanglah seinginmu
namun tak ada lagi yang tersisa
karena usiaku kini telah senja
dan kau pun tahu itu
setua pohon yang menemani gubuk kita

Nak,
karena dewasa kini engkau
bawalah segala apa yang kau persiapkan
termasuk keimanan dan ketaqwaan
meski kebencianmu meluap-luap
tetap ingatlah Tuhan
tetap mengabdilah kepada-Nya

---

Antara Keheningan dan Keramaian

apakah aku harus tampil untuk menunjukkan siapa aku
ataukah hanya untuk menguatkan eksistensiku
yaitu kefanaan belaka
dan ketegaran semu

tapi jiwaku ini adalah aku
yang lebih suka diam
dalam ketidakdiaman
yang lebih suka berbisik
di saat tak saling berbisik

bukan aku jika suka menunjukkan aku
namun juga bukan aku jika benci mengungkapkan siapa aku

jadi antara keheningan dan keramaian
terdapat aku
terdapat jati diriku

---

Kesediaan

benarkah ini
lantunan musik yang kudengar adalah tangismu
merdu sekali menyayat hati

mungkinkah ini
lukisan indah yang kulihat adalah lukamu
senang sekali menanggung laramu

aku harus tersenyum
ketika aku tahu apa yang kau rasa
ketika tahu sakit yang tercurah

semua ini karena wujud cintaku
yang kau rasa karena lapar dan dahaga
yang muncul karena ada derita
perlahan tertutupi keakraban
lama-lama penuh juga hati yang riang
memaksamu 'tuk ikut tersenyum bahagia

di situlah peranku sebagai kasihmu
mengeringkan tumpahan air matamu
yang meluap karena resah hati dan kegundahan
lalu kupersiapkan pundakku sebagai tempat bersandar

tidurlah barang sebentar
tidurlah dalam kenikmatan
lupakan dunia yang tak mengindahkanmu
lupakan aku yang tak berbuat apa-apa untukmu
yang hanya bisa tersenyum sambil menahan tumpahan air mata
dan menyediakan pundak untukmu kembali mengingatnya

---

Tersembunyi

kita tertawa seakan dunia bahagia
kita tersenyum sematkan kesukaan
selebih itu hanyalah dusta
karena kutahu perih apa yang singgah

di balik sunggingan bibir itu
tersimpan berbagai memori menyayat hati
yang tak sanggup kau ucap
hingga suatu ketika engkau harus menghapus air mata
dengan senyuman yang menyakitkan

balaslah tanganku ini dan raihlah
gapailah langit bersamaku
mencari arti bahagia denganku
lalu menyisipkan suka untuk dunia




0 comments:

Posting Komentar