Novel filosofis yang saya baca ulang di tahun 2024 lalu, yang menurut saya juga perlu untuk dibaca oleh Rekan-rekan semua, adalah novel Sang Alkemis karya Paulo Coelho. Novel itu dibuka dengan cerita seorang dewi hutan yang berdialog dengan sebuah telaga tentang Narcissus yang tenggelam, inti dialognya kurang lebih seperti ini:
"Apakah Engkau menangis untuk Narcissus yang tenggelam, karena Engkau tak dapat lagi melihat keelokan paras wajahnya?" tanya Dewi Hutan.
"Aku menangis untuk Narcissus, tapi bukan karena aku tak bisa lagi melihat keelokannya," ujar Sang Telaga, "melainkan karena tak bisa lagi kulihat pantulan keelokan diriku sendiri dari kedua matanya."
Syahdan.
Cermin secara fitrah adalah benda yang jujur, karena ia akan memantulkan semua citra di depannya. Sehingga apabila terdapat orang seperti Narcissus, yang terlampau mencintai diri sendiri, ia akan menghabiskan banyak waktu memandangi dirinya lewat cermin (atau dalam kisahnya, sebuah telaga). Dan cermin bukanlah pihak yang patut disalahkan. Ia hanya bertugas untuk merefleksikan, memantulkan bayangan.
Filosofi terkait cermin juga dapat kita temukan (kebalikan dari narsisisme) pada novel Veronica Roth, "Divergent". Pada faksi Abnegation, yang paling ringan tangan, tak mementingkan diri sendiri (self-less). Orang-orang faksi Abnegation dilarang untuk melihat ke dalam cermin terlalu lama, karena khawatir akan menyebabkan tumbuhnya sifat egois & terlalu cinta pada diri sendiri. Sifat-sifat yang mengganggu core value dari Abnegation --penyangkalan diri, yang ujungnya dapat merusak tatanan hidup (dalam dunia Divergent, post Chicago).
"Cermin" pun tidak hanya satu bentuk, satu wujud. Apa saja, di alam semesta ini, bisa menjadi sebuah cermin. Baik yang kongkrit maupun abstrak. Baik yang sementara maupun permanen. Baik yang asli maupun buatan. Sehingga cermin, yang dibahas pada tulisan ini, tidak dibatasi pada konsep kebendaan, tetapi lebih akan digali dari konsep kesifatan. Setidaknya, itulah yang coba saya uraikan. Kembali lagi, seperti semangat dari blog ini, esai ini mencoba untuk mengikat hikmah yang muncul di tengah-tengah waktu serta sebagai pengingat di masa mendatang. Atau mungkin saja bentuk autokritik untuk diri saya yang sekarang.
Baiklah, saya akan memulainya.
Individual Goal (IG) atau Key Performance Index (KPI) seringkali kita tetapkan di awal tahun dan isi realisasinya di akhir tahun. Konsep penilaian ini, berbasis nilai numerik yang memaksa kita untuk menerjemahkan output dari pekerjaan-pekerjaan kita. Capaian-capaian kita. Yang memang harus kita tuliskan. Padahal mungkin saja capaian tersebut tidak menghasilkan outcome apapun. Tidak memberikan hasil atau manfaat bagi perusahaan, orang lain, terlebih bagi diri sendiri.
Beberapa orang yang saya kenal, mengaku sudah cukup acuh tak acuh dengan pengisian IG. Beberapa di antaranya menilai bahwa IG hanya formalitas, yang toh menurut mereka hasil akhir penilaian ditentukan secara subyektif, alih-alih obyektif. Ditambah lagi, mayoritas manager ternyata tidak suka melakukan penilaian kinerja. Kalau bisa, tidak mereka lakukan. Hal ini seperti yang dibahas pada buku Performance (atau judul "Kinerja" dalam terbitan bahasa Indonesia), kumpulan tulisan yang disunting A. Dale Timpe.
Terlebih, mungkin ini juga salah satu kelemahan manusia Indonesia, yang tidak benar-benar bisa menjalankan meritokrasi/"merit system" atau bahkan penilaian berbasis kuantitatif lainnya. Sehingga pada akhirnya orang-orang memilih untuk menunjuk "siapa yang terbaik" atau "siapa yang take the lead" berdasarkan parameter-parameter kualitatif yang tidak relevan, seperti kekerabatan, kenyamanan, pertemanan, good-looking atau tidak, dan sebagainya. Sehingga menjamurlah nepotisme dan kolusi di negeri ini.
Namun menurut saya tidak bisa hanya ada satu tujuan yang disandarkan pada IG atau KPI. Ia lebih daripada hanya sebagai penentu kamu nilai berapa, saya dapat nilai berapa, dia dapat nilai berapa. Metode penilaian ini sepatutnya juga diperlakukan sebagai sebuah cermin. Bagaimana tool tersebut sebagai refleksi bagi diri, sudah sejauh mana kualitas diri kita, sudah naik level kah kita.
Bagaimana cara kita mengisi dan melengkapi individual goal tersebutlah yang menjadi penting. Apakah kita jujur dalam pengisiannya? Ataukah penuh dengan manipulasi data? Sehingga pada akhirnya menyebabkan nilai kita bagus, tapi nilai yang lainnya jelek, yaitu nilai kejujuran. Tentunya inilah pekerjaan rumah kita, perlunya menggunakan rutinitas tahunan itu sebagai cermin moral.
Apakah kita berlaku totalitas dalam pengisiannya? Ataukah, seperti yang saya sebutkan di awal, hanya bersikap formalitas? Mengakibatkan nilai IG tidak representatif, kurang menggambarkan "diri" kita sepenuhnya. Manusia adalah makhluk yang terbatas, terikat ruang dan waktu, tidak bisa mendalami hati dan pikiran orang lain. Pengisian IG yang sungguh-sungguh akan membantu atasan kita, rekan kerja kita, atau orang lain dalam menilai pekerjaan dan pencapaian kita. Bukankah ini juga akan menjadi sebuah hubungan yang baik? Keterbukaan, apa adanya, seperti sebuah cermin. Kita dan orang lain.
Ataukah IG dan KPI menjadi bentuk kesombongan kita? Apakah dengan nilai-nilai yang terlampau bagus itu menyebabkan kita seperti Narcissus, yang begitu mengagumi diri sendiri? Ingat, Narcissus tenggelam ke dalam telaga yang setiap hari dipandanginya! Tentunya cara kita bercermin melalui nilai-nilai harusnya dilengkapi dengan rasa syukur dan kebijaksanaan.
Lalu, apa lagi yang bisa digunakan sebagai cermin?
Kalau boleh usul, gunakanlah buku! Pilihlah atau jika perlu carilah buku yang benar-benar Anda sukai. Yang sesuai dengan minat dan kebutuhan. Dapatkan buku yang pantas untuk dibaca dan dihabiskan dengan waktu yang sangat berharga itu. Semua kutu buku yang Anda kenal pasti akan menyarankan hal yang sama.
Buku yang dibaca, apa saja temanya, topiknya, pembahasannya, akan mengaktifkan otak kita. Menciptakan sebuah dialog dan dialektika. Merefleksikan semua pengalaman yang pernah kita alami. Pikiran, yang mungkin selama ini hanya mengendap di dalam kepala. Melalui membaca buku, semuanya akan saling bertabrakan, berintegrasi, bersautan. Hingga akhirnya dalam satu klik, memunculkan sebuah cermin imajiner. Anda bisa gunakan untuk mencerminkan apapun. Rasa sakit, bangga, jati diri, keimanan, dan banyak lagi!
Syukur-syukur buku yang Anda baca itu membahas tentang manusia, bertema psikologi, antropologi, filsafat, atau topik sosial lainnya. Supaya lebih berasa. Beberapa rekomendasi di antaranya yaitu Ikigai, karya Hector Garcia dan Francesc Miralles; Going Offline, karya Desi Anwar; Semua Orang Butuh Curhat, karya Lori Gottlieb; Lapis-Lapis Keberkahan, karya Salim A. Fillah; Berkenalan dengan Eksistensialisme, karya Fuad Hassan; dan tentu saja daftarnya masih banyak.
Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak Rekan-rekan untuk berkenalan dengan salah satu buku. Buku yang sebenarnya melatarbelakangi saya menulis esai ini. Ketika membacanya, saya banyak sekali berpikir sambil memandangi cermin imajiner yang ada di dalam benak. Menanyakan apakah benar seperti itu. Merenungi apakah memang faktanya begitu. Buku yang saya maksud ialah karya seorang jurnalis Indonesia, Mochtar Lubis, yaitu Manusia Indonesia.
"Manusia Indonesia" berisi pidato kebudayaan yang disampaikan Mochtar Lubis pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Juga dilengkapi berbagai artikel dan rubrik komentar orang-orang tentang pidato tersebut. Serta tulisan balasan Mochtar Lubis.
Isi pidato dan buku itu sangat menarik, tentang sifat-sifat manusia Indonesia. Ada 6 sifat yang utama, yaitu munafik, enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya, bersifat dan berperilaku feodal, percaya takhayul, artistik atau berbakat seni, dan lemah watak atau karakternya.
Buku itu tidak terlalu tebal, hanya sekitar 130-an halaman, tetapi saat membacanya kita akan dibawa untuk banyak bertanya dan merenung (seperti yang saya sebutkan sebelumnya). Pesan yang disampaikan oleh Pak Mochtar memang bertujuan sebagai autokritik, yang tidak tergerus zaman. Dari tahun 1977, tetap akan related sampai sekarang. Dan mungkin juga hingga seterusnya, selama bangsa Indonesia masih "ada".
Saya tidak akan membahas satu per satu sifat yang dituliskan di buku tersebut. Rasakan sendiri sensasinya. Dan hilangkan prasangka buruk tentang isinya. Jangan bersuudzon tentang stereotip. Tapi rasakan bagaimana kata-kata itu akan menggelitik nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, rasa bertetangga.
Intinya, buku itu sangat bisa kita gunakan sebagai cermin. Sebagai bahan evaluasi kita terhadap bangsa tercinta, terhadap masyarakat, terhadap diri sendiri. Apa yang kita butuhkan salah satunya adalah evaluator.
Dan Allah Subhanahu wa ta'ala sebaik-baik evaluator
Saya sudah membiasakan diri untuk berangkat kerja dari indekos mulai pukul 06.00 pagi (atau bahkan lebih awal lagi). Rutinitas ini saya lakukan, selain untuk mengubah kebiasaan tidur setelah salat subuh, juga supaya bisa mendapatkan lebih banyak waktu produktif di pagi hari. Sekadar tambahan waktu untuk membaca buku, mengecek surel, menuliskan to-do list, memantau tiket customer di sistem, dan lain-lain.
Namun saya juga mendapatkan manfaat yang lain, yang tidak kalah berharga, yaitu bisa melihat tim saya (para manusia Indonesia ini) datang ke ruangan kantor pada pagi hari. Guna menilai, dengan segala keterbatasan saya, bagaimana para anggota tim memulai bekerja. Apakah mereka antusias, bersemangat, atau kebalikannya, yang tampak dari kondisi pagi hari mereka.
Sebuah usaha, satu dari banyak cara, karena keterbatasan manusia. Tidak bisa melihat ke dalam hati dan pikiran orang lain. Hanya bisa menebak-nebak, menggunakan ilmu psikologi atau pseudo science misalnya. Sebagai kisi-kisi dalam memberikan penilaian individual goal atau key performance index mereka. Sebagai bekal dan bahan untuk menentukan suatu kebijakan bagi tim, guna meningkatkan produktivitas dan kebermanfaatan kami kepada perusahaan.
Tujuannya seperti itu, tetapi, balik lagi, saya hanya manusia terbatas. Masih bisa melakukan berbagai kesalahan berpikir (logical fallacies). Masih bisa terjebak dalam bermacam bias. Pemahaman ini pun yang mendasari saya untuk mengembalikan semua penilaian diri saya hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Berapapun nilai yang Allah beri, saya terima, karena Dia lah yang Maha Adil, Maha Mengetahui, Maha Melihat. Hakikatnya begitu.
Kalau sudah Allah yang menjadi evaluator kita, tentu saja semua tingkah laku kita akan menjadi baik. Tanpa perlu ada pengawasan manager, CCTV, panoptik, topeng, basa-basi. Yang ada hanyalah kejujuran diri. Sebab Dialah yang menguasai alam semesta. Dan diri. Termasuk hati kita.
Jalaludin Rumi, pada bukunya Fihi Ma Fihi, menerangkan, "Allah hanya melihat pada hatimu." Sehingga kita harus memperbaiki hati kita supaya Allah bisa melihat keindahan diri-Nya. Rumi menceritakan tentang seorang bijak. Yusuf al-Misry namanya. Yang hanya bisa diberi hadiah sebuah cermin oleh salah satu sahabatnya, supaya ia dapat menatap wajahnya yang tampan.
Apalagi yang belum dimiliki Allah dan Dia butuhkan? Seharusnya manusia mempersembahkan hati mereka yang bersih dan mengkilau kepada Allah agar Dia bisa melihat diri-Nya dalam hati itu. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian tetapi Ia melihat hati dan amal kalian”. Hadist riwayat Imam Muslim.
Kita juga, sebagai makhluk harus menyempurnakan akhlak supaya bisa merepresentasikan Sang Khalik. Sehingga penghambaan kita kepada Allah adalah sebaik-baiknya cermin yang kita miliki. Tanpa dibatasi oleh sifat-sifat buruk sebagai manusia Indonesia, seperti yang disebutkan oleh Mochtar Lubis.
Akhirnya, bagi sesiapa yang sedang lupa, sekali-sekali bercerminlah! Dan teruslah mengabdi kepada kebijaksanaan (sebagai bekal menghadap kepada Allah Subhanahu wa ta'ala). Serta teruslah bermanfaat bagi manusia Indonesia yang lainnya, tebalkan sifat filantropis, altruisme, jangan terlalu seperti Narcissus.
Sebelum benar-benar mengakhiri tulisan ini, ijinkanlah saya membagikan puisi gubahan saya 13 tahun yang lalu, yang tentu saja masih nyambung dengan tulisan yang sudah Anda baca di atas:
Jujur ku terbengkalai
menepis dan terurai
menjadi jutaan partikel kebohongan
lebih keras dari sebuah senapan
Keruh ku mencoba
apungkan kenangan cinta
Kepastian esok kupertanyakan lagi
tentang kejadian yang pernah ku alami
(Surabaya, 16 Maret 2012)
0 comments:
Posting Komentar